Langité siji.
Wulané uga siji.
Tapi kenapa seolah-olah bulan itu banyak?
Hilal tidak butuh paspor. Tidak butuh visa.
Ia terbit untuk seluruh bumi, bukan untuk satu kavling negara.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ
“Sungguh, umat ini adalah umat kalian yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 92)
Umatnya satu. Tuhannya satu. Kitabnya satu. Nabinya satu.
Lalu kenapa tanggalnya bisa terasa seakan berbeda-beda arah?
📡 Zaman Sudah Global, Tapi Hati Masih Lokal
Hari ini kita bisa live streaming dari Makkah dalam hitungan detik.
Berita rukyat bisa menyebar lebih cepat daripada azan.
Namun dalam urusan hilal, masih ada yang berkata:
“Kalau belum terlihat di negaraku, berarti belum ada.”
Dulu perbedaan bisa terjadi karena keterbatasan informasi.
Sekarang? Informasi melimpah.
Yang sering kurang adalah kemauan untuk menyatukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Seruan ini bersifat umum untuk umat, bukan untuk batas-batas imajiner yang lahir berabad-abad setelah beliau wafat.
🌍 Perbedaan Negara, Bukan Perbedaan Bulan
Fakta tahun ini menunjukkan sebagian negara memulai 1 Ramadhan pada Rabu, sebagian Kamis, bahkan ada yang Jumat.
Apakah bulannya berbeda?
Tidak.
Yang berbeda adalah metode dan batas otoritas.
Sebagian memakai rukyat lokal,
Sebagian rukyat global,
Sebagian hisab dan hisab pun juga ada banyak kritetia ada hisab lokal dan hisab global seperti KHGT yang digunakan Muhammadiyah,
Sebagian mengikuti keputusan otoritas tertentu.
Perbedaan ini memang wilayah ijtihadiyah.
Tidak boleh saling mencela.
Namun boleh dan bahkan perlu dibahas dengan ilmiah dan santun.
Muhammadiyah misalnya mengikhtiarkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sebagai upaya menuju satu sistem penanggalan Islam global. Ini bukan soal ego metode. Ini soal visi persatuan jangka panjang.
Karena waktu dalam Islam bukan sekadar angka.
Ia bagian dari syariat.
Allah berfirman:
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: Itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”
(QS. Al-Baqarah: 189)
Hilal adalah standar waktu untuk manusia.
Bukan untuk satu negara saja.
🛡️ Perisai Itu Bernama Persatuan Kepemimpinan
Selama umat ini terpecah dalam banyak otoritas politik,
selama itu pula keputusan-keputusan strategis akan terpisah.
Perbedaan qunut atau tidak qunut?
Silakan. Itu ranah furu’.
Tahlilan atau tidak?
Itu wilayah ijtihad.
Tapi ketika menyangkut waktu ibadah global seperti Ramadhan dan Syawal, tentu lebih indah jika serentak. Lebih kuat. Lebih terasa sebagai satu tubuh.
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh.”
(HR. Muslim)
Satu tubuh tidak mungkin punya dua kalender jantung.
⚖️ Tegas Tanpa Membenci!
Kita boleh berbeda metode.
Tapi jangan menganggap persatuan itu tidak penting.
Kita boleh punya keyakinan ilmiah yang kuat tentang matla’ global.
Tapi tetap hormat kepada yang memilih pendekatan lain.
Dakwah harus jelas.
Namun akhlak harus tetap lembut.
Kalender Hijriyah bukan sekadar romantisme.
Ia identitas peradaban.
Mengutamakan 2 Ramadhan 1447 H sebelum 19 Februari 2026 M bukan fanatisme buta. Itu sikap sadar bahwa waktu kita terikat dengan syariat.
🌙 Untuk Saudara yang Baru Memulai Hari Ini
Selamat menjalankan puasa pertama bagi yang memulai hari ini Kamis.
Bagi yang sudah mulai kemarin, hari ini memasuki hari kedua.
Perbedaan tidak boleh memutus ukhuwah.
Tapi ukhuwah juga tidak boleh membuat kita berhenti berdakwah tentang pentingnya persatuan waktu umat.
Langité tetep siji.
Wulané tetep siji.
Semoga hati kita juga kembali satu.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Persatuan umat bukan mimpi utopis, tapi cita-cita syar’i.
Perbedaan ijtihad harus dihormati, tapi visi persatuan tetap diperjuangkan.
Kalender Hijriyah adalah simbol identitas dan kedaulatan peradaban Islam.
Dakwah dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan ketegasan—tanpa caci maki.
Semoga Ramadhan ini bukan hanya mengubah jadwal makan kita,
tetapi juga menyatukan cara pandang kita tentang umat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "TANPA PERISAI UMAT ISLAM AKAN TERUS TERCERAI BERAI"