MENJAGA UKHUWAH ISLAMIYAH DITENGAH PERBEDAAN

 




Alhamdulillāh, hari ini kita berada di Jum’at, 20 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H.

Bagi yang mengikuti kalender hijriyah global, ini adalah puasa hari ke-3—yang telah sejalan dengan hasil rukyat global pada Selasa malam menuju Rabu kemarin.

Awal Ramadhan memang sempat diwarnai perbedaan.

Namun penting kita luruskan: ini bukan sekadar soal hisab versus rukyat. Lebih dalam dari itu, ini soal cakupan hilal — apakah berlaku global atau terbatas pada batas wilayah tertentu.

Sebagian menggunakan pendekatan wilayah (sering disebut lokal atau nasional), yang memiliki dasar fiqih dalam mazhab, termasuk pendapat yang berkembang di kalangan Syafi’iyah. Itu syar’i, punya landasan.

Sebagian lagi berpendapat bahwa rukyat atau penetapan hilal berlaku global, karena umat Islam adalah satu tubuh, satu umat tanpa sekat geografis.

Keduanya berbasis dalil.

Keduanya lahir dari ijtihad.

Maka tidak boleh saling menyesatkan.

Namun kita tetap boleh membahas mana yang lebih kuat menurut argumentasi yang kita yakini.


🌙 Umat Ini Satu Tubuh

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau tubuhnya satu,

haruskah detak waktunya terpisah?

Allah ﷻ juga berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini bukan hanya seruan spiritual, tapi juga peringatan sosial.


📅 Furu’ dan Ushul, Jangan Tertukar

Perkara qunut atau tidak,

bismillah jahar atau sirr,

tarawih 11 atau 23 rakaat—

Itu ranah furu’.

Silakan berbeda.

Namun ketika menyangkut waktu ibadah global seperti Ramadhan dan Syawal, tentu lebih indah bila serentak. Bayangkan dari Indonesia, disusul 4 jam kemudian di Mekkah, Arab, hingga Maroko dan bahkan Hawaii—mengalir satu gelombang puasa yang sama. Tidak beda 24 jam, hanya mengikuti pergerakan matahari secara alami.

Teknologi hari ini memungkinkan itu.

Live streaming dari Makkah bisa real time.

Laporan rukyat bisa diverifikasi lintas benua.

Lalu mengapa kita belum bisa satu tanggal?


🤝 Ikhtiar yang Perlu Disinergikan

Upaya Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang dikembangkan Muhammadiyah berbasis data astronomi global tanpa sekat wilayah adalah langkah strategis menuju keseragaman.

Pendekatan rukyat global yang konsisten dipegang oleh sebagian kelompok dakwah seperti Hizbut Tahrir juga memiliki dasar kuat pada hadits:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika rukyat itu dipahami sebagai rukyat umat, bukan rukyat kavling negara, maka ia bersifat global.

Bayangkan jika pendekatan astronomi global dan verifikasi rukyat global bisa dikolaborasikan. Bukan untuk memenangkan kelompok, tapi untuk menyatukan umat.

Itu akan menjadi momen sejarah yang indah.


🌍 Realita Politik dan Sejarah

Sejak 1924, setelah institusi kepemimpinan Islam terakhir runtuh, umat Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara bangsa. Batas politik ini kemudian mempengaruhi banyak kebijakan, termasuk otoritas penetapan awal bulan.

Padahal Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Arab dan non-Arab.

Putih, hitam, kuning.

Suku A, B, C.

Semua sama di hadapan Allah.

Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Indah bukan?

Berbeda mazhab, berbeda budaya, tapi satu tanggal Ramadhan.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Perbedaan ijtihad adalah rahmat, perpecahan adalah musibah.

Persatuan umat harus diperjuangkan dengan ilmu dan adab.

Teknologi modern seharusnya mempermudah keseragaman, bukan memperkuat ego.

Kalender Hijriyah adalah simbol identitas dan peradaban.

Ukhuwah lebih tinggi daripada fanatisme kelompok.

Mari kita amalkan firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang pada tali Allah bersama-sama.

Bukan sendiri-sendiri.

Perbedaan boleh ada.

Tapi hati jangan terpisah.

Semoga Ramadhan ini bukan hanya menahan lapar dan dahaga,

tetapi juga menguatkan persatuan umat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Posting Komentar untuk "MENJAGA UKHUWAH ISLAMIYAH DITENGAH PERBEDAAN"