RAMADHAN MENDIDIK KETAATAN, BUKAN SEKADAR MENAHAN LAPAR

 




Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang masih memberi kita umur, kesehatan, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Betapa banyak manusia yang dipanggil pulang sebelum sempat bertaubat, sementara kita masih diberi waktu—maka sungguh ini adalah nikmat yang sering kali kita remehkan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam ketaatan, kesabaran, dan perjuangan menegakkan Islam secara sempurna. Melalui beliaulah Allah menurunkan risalah yang bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.

Kita kini berada di hari-hari terakhir bulan Sya’ban. Bulan yang seharusnya menjadi masa pemanasan ruhiyah sebelum memasuki Ramadhan. Namun jujur saja, jangan-jangan sebagian dari kita justru masih memandang Ramadhan sebatas perubahan jam makan dan jam tidur. Padahal, hakikat Ramadhan jauh lebih dalam dari itu.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini tegas: tujuan puasa adalah takwa, bukan sekadar lapar dan haus. Takwa artinya tunduk, patuh, dan taat kepada Allah ﷻ dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya ketika Ramadhan, bukan hanya ketika di masjid.

Masalahnya, hari ini banyak umat yang rajin berpuasa, tetapi tetap membiarkan riba merajalela. Rajin tarawih, tetapi diam saat ketidakadilan dipelihara. Lancar tilawah, tapi alergi ketika Islam ingin diterapkan sebagai sistem kehidupan. Di sinilah Ramadhan sering kehilangan rohnya—ritualnya hidup, kesadarannya mati.

Beberapa hari terakhir, kita kembali disadarkan lewat berbagai peristiwa sosial: rakyat kecil yang terhimpit ekonomi, anak-anak yang menjadi korban sistem rusak, dan kebijakan negara yang lebih sibuk mengurus citra global daripada keselamatan rakyatnya sendiri. Semua ini bukan kebetulan. Ini buah dari sistem hidup yang jauh dari aturan Allah.

Maka, menyambut Ramadhan ini, mari kita jujur pada diri sendiri:

Apakah kita ingin Ramadhan yang hanya “khusyuk pribadi”, tapi membiarkan kezaliman publik terus berjalan? Ataukah Ramadhan yang melahirkan kesadaran kolektif untuk kembali pada Islam secara kaffah?

Di sisi lain, umat juga perlu diselamatkan dari penyakit lama: mudah terpecah oleh perkara kecil. Masalah qunut, perbedaan bacaan, perbedaan teknis ibadah—jangan lagi dijadikan bahan permusuhan. Ramadhan justru harus menjadi momentum menguatkan ukhuwah Islamiyah, melampaui sekat ormas, mazhab, dan golongan.

Islam tidak butuh umat yang ribut di masalah cabang, tapi lemah dalam memperjuangkan pokok. Islam butuh umat yang bersatu dalam kebenaran, berani bersuara, dan istiqamah di jalan dakwah.

Maka di sisa Sya’ban ini, mari kita persiapkan Ramadhan dengan benar:

Bukan hanya menyiapkan fisik, tapi menyiapkan kesadaran

Bukan hanya memperbanyak ibadah, tapi memperbaiki arah hidup

Bukan hanya sibuk sendiri, tapi peduli nasib umat

Penulis menyadari, dalam setiap tulisan tentu ada kekurangan. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati, mohon maaf lahir dan batin jika ada kata, sikap, atau penyampaian yang kurang berkenan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Semoga Allah menyatukan kita dalam niat yang ikhlas dan perjuangan yang lurus.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Ramadhan adalah madrasah ketaatan. Siapa yang lulus, ia akan taat bukan hanya sebulan, tapi sepanjang hidupnya. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan siap—siap taat, siap berubah, dan siap hidup dalam Islam secara kaffah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "RAMADHAN MENDIDIK KETAATAN, BUKAN SEKADAR MENAHAN LAPAR"