MENATA HATI DI AKHIR SYA’BAN, MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN KESADARAN

 




Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang masih memberi kita kesempatan hidup, kesempatan taat, dan kesempatan memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, sebab melalui beliaulah kita mengenal Islam—agama yang diridhai Allah, bukan sekadar ritual, tapi pedoman hidup yang utuh dan menyeluruh.

Tak terasa, kita kini berada di akhir bulan Sya’ban. Bulan yang sering kali terlewati begitu saja, padahal ia adalah gerbang menuju Ramadhan. Tinggal beberapa hari lagi, tamu agung itu akan datang. Pertanyaannya sederhana tapi menohok: apakah hati kita sudah siap, atau hanya kalender yang siap?

Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia bukan lomba spanduk, bukan rutinitas tahunan tanpa makna. Ramadhan adalah bulan kesadaran—kesadaran bahwa hidup ini ada aturannya, dan aturan itu datang dari Allah ﷻ, bukan dari hawa nafsu, bukan dari sistem buatan manusia.

Allah mengingatkan:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

(QS. Al-Māidah: 50)

Ayat ini bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk disadari. Banyak masalah yang kita saksikan hari-hari ini—kemiskinan, ketidakadilan, rusaknya moral, suburnya kemaksiatan—bukan muncul tiba-tiba. Semua itu lahir dari satu akar: Islam tidak dijadikan aturan hidup secara kaffah.

Menjelang Ramadhan, sudah saatnya kita berhenti sibuk memperbesar perbedaan kecil, lalu abai pada persoalan besar. Qunut atau tidak qunut, tahlilan atau tidak tahlilan—itu wilayah furu’iyah. Jangan sampai umat terpecah di ranting, sementara batang pohon masalahnya dibiarkan rapuh.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurāt: 10)

Persaudaraan ini tidak dibangun di atas nama ormas, mazhab, atau label-label duniawi. Ia dibangun di atas iman dan kepedulian terhadap nasib umat. Ramadhan seharusnya menyatukan kita dalam satu kesadaran: taat kepada Allah secara total, dalam ibadah dan dalam kehidupan.

Maka, di akhir Sya’ban ini, mari kita menata hati:

• Dari hati yang lalai menuju hati yang sadar

• Dari Islam simbolik menuju Islam kaffah

• Dari sibuk berdebat menuju sibuk berbenah

Penulis menyadari, dalam menyampaikan dakwah ini tentu tak luput dari kekurangan. Maka dengan segala kerendahan hati, mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh pembaca, bila ada kata yang kurang berkenan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Niat ini semata agar kita semua sama-sama selamat, di dunia dan di akhirat.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Akhir Sya’ban adalah waktu terbaik untuk bercermin: bukan seberapa meriah Ramadhan kita nanti, tapi seberapa sadar kita menjalani Islam. Semoga Ramadhan yang akan datang benar-benar mengubah kita—bukan hanya lapar dan hausnya, tapi arah hidupnya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "MENATA HATI DI AKHIR SYA’BAN, MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN KESADARAN"