SEPEKAN LAGI MENUJU RAMADHAN



Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah ﷻ yang masih memanjangkan usia kita hingga hari ini. Hari Rabu, 11 Februari 2026 M, bertepatan dengan 23 Sya’ban 1447 H. Berdasarkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadhan 1447 H insyā’ Allāh akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 M. Itu artinya, hari ini tepat sepekan lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan suci yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan.

Namun, pertanyaannya:

Apakah umat Islam benar-benar siap menyambut Ramadhan—bukan hanya secara ritual, tapi juga secara kesadaran?

Ramadhan sejatinya bukan sekadar bulan ibadah individu. Ia adalah bulan kebangkitan, bulan muhasabah kolektif, dan bulan pendidikan umat agar kembali tunduk total kepada aturan Allah ﷻ. Sebab, Islam tidak diturunkan hanya untuk mengatur puasa, shalat, dan dzikir, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil).”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Al-Qur’an diturunkan sebagai Al-Furqān, pembeda antara hak dan batil. Maka sangat ironis jika Ramadhan datang, tetapi umat justru berdamai dengan kebatilan yang jelas-jelas merajalela di hadapan mata.

Hari ini, realita umat Islam—bahkan umat manusia—sedang berada dalam kondisi kacau, ripuh, dan menderita. Bukan karena Islam kurang relevan, melainkan karena Islam tidak dijadikan sebagai pengatur kehidupan.

Di tingkat global, Amerika Serikat mendirikan apa yang disebut “Board of Peace”, seolah-olah menjadi juru damai dunia. Namun faktanya, genosida masih terus berlangsung, darah masih mengalir, penjajahan tetap bercokol. Perdamaian yang mereka tawarkan tak lebih dari perdamaian palsu, karena lahir dari kepentingan politik dan kapitalisme, bukan dari keadilan hakiki. Lebih menyakitkan, negeri-negeri Muslim—termasuk Indonesia—ikut bergabung dalam panggung sandiwara tersebut.

Allah ﷻ mengingatkan:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

(QS. Al-Mā’idah: 50)

Di dalam negeri, potret kezaliman tak kalah memilukan. Tanah rakyat dirampas oleh oligarki bermodal besar. Warga transmigrasi di Kalimantan—yang datang dengan harapan hidup layak—justru kehilangan tanah dan mata pencaharian karena diserobot pengusaha. Berita demi berita menguatkan satu fakta: negara lebih berpihak pada pemilik modal daripada rakyatnya sendiri.

Lebih menyayat hati lagi, ada anak SD di NTT yang kehilangan nyawa hanya karena tak mampu membeli pulpen dan buku. Di negeri yang katanya merdeka, di negeri yang katanya berdaulat, masih ada anak yang mati karena kemiskinan ekstrem. Ini bukan sekadar kelalaian individu—ini adalah kejahatan sistemik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun hari ini, tanggung jawab itu seolah lenyap. Penguasa bersembunyi di balik jargon nasionalisme dan pembangunan, sementara rakyat terus menjadi korban.

Lebih parah lagi, umat Islam justru diadu domba. Antar suku, antar ormas, antar kelompok—dipertentangkan tanpa henti. Padahal Allah ﷻ telah tegas memerintahkan persatuan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Āli ‘Imrān: 103)

Nasionalisme sempit antar negara bangsa juga terus menjerat umat. Sesama Muslim dipisahkan oleh garis imajiner, dipaksa bersaing, bahkan saling memusuhi—semua demi kepentingan sistem dunia yang tidak pernah berpihak pada Islam.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, menyambut Ramadhan yang tinggal sepekan lagi, umat Islam tidak cukup hanya mempersiapkan jadwal tarawih dan menu sahur. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan keberanian untuk berubah, keberanian untuk kembali kepada Islam secara kaffah, dan keberanian untuk menolak sistem batil yang terus melahirkan penderitaan.

Ramadhan harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran, bukan sekadar rutinitas tahunan.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Sepekan menuju Ramadhan adalah waktu emas untuk muhasabah. Jika Ramadhan kembali datang, sementara kita masih rela hidup di bawah aturan selain Allah, maka sungguh kita sedang menyia-nyiakan bulan yang agung. Semoga Ramadhan kali ini melahirkan umat yang taat secara total, bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, dan istiqamah memperjuangkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.




 

Posting Komentar untuk "SEPEKAN LAGI MENUJU RAMADHAN"