Nanti malam, sebagian besar umat Islam—khususnya di Indonesia—akan memasuki malam Nisfu Sya’ban, yakni malam ke-15 dari bulan Sya’ban. Di tengah masyarakat, malam ini sering diperingati dengan berbagai amalan: membaca Yasin tiga kali, doa bersama, shalat tasbih, bahkan ada yang sampai seratus rakaat, ditutup dengan liwetan penuh keakraban. Sebuah pemandangan religius yang lahir dari semangat beribadah dan kecintaan kepada Allah ﷻ.
Namun di sisi lain, sebagian kaum Muslimin juga tidak mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban dengan ritual tertentu. Pandangan ini dipegang oleh kalangan Tarjih Muhammadiyah, Salafi, Persis, MTA, dan ormas-ormas yang fokus pada pemurnian ajaran Islam, dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah dan tuntutan ittibā’ kepada Rasulullah ﷺ.
Di sinilah pentingnya sikap bijak, agar perbedaan cara pandang tidak berubah menjadi perpecahan umat.
PANDANGAN TARJIH MUHAMMADIYAH: TEGAS DALAM MANHAJ, LEMBUT DALAM AKHLAK
Sebagai diri pribadi seorang Muslim yang berpegang pada Tarjih Muhammadiyah, tentu keyakinan yang diambil adalah bahwa tidak ada dalil shahih yang secara khusus menetapkan ritual-ritual tertentu pada malam Nisfu Sya’ban, seperti Yasin 3 kali atau shalat khusus dengan jumlah rakaat tertentu. Banyak riwayat yang dijadikan dasar amalan tersebut dinilai dha’if, bahkan sebagian maudhu’ (palsu).
Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu ulasan di laman resmi Muhammadiyah:
“Sya’ban di masyarakat sering kali berawal dari niat baik. Namun, niat baik saja belum cukup. Kita harus menyempurnakannya dengan cara yang benar (ittiba’).”
Karena itu, Tarjih Muhammadiyah tidak mengkhususkan Nisfu Sya’ban sebagai malam istimewa dengan ritual tertentu. Namun—dan ini poin penting—keteguhan manhaj tidak boleh melahirkan arogansi akhlak.
“Peganglah teguh hukum Nisfu Syaban menurut Tarjih Muhammadiyah sebagai panduan akidah. Namun, sampaikan pencerahan ini dengan santun. Jangan mudah memvonis sesat saudara seiman. Jaga terus ukhuwah Islamiyah.”
PANDANGAN ULAMA YANG MENGAMALKAN: IHTIYATH DAN TRADISI KEBAIKAN
Di sisi lain, perlu diakui bahwa sebagian ulama memiliki pandangan berbeda. Beberapa amalan malam Nisfu Sya’ban dinukil dalam kitab-kitab klasik, meskipun status hadisnya diperselisihkan.
1. Shalat Nisfu Sya’ban
Dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, Imam al-Ghazali menyebut adanya shalat 100 rakaat pada malam Nisfu Sya’ban. Ulama hadis menilai riwayat ini lemah, namun sebagian ulama fikih memandangnya sebagai bentuk fadhā’ilul a‘māl.
2. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an
Sebagian ulama salaf, seperti Anas bin Malik, disebut memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Sya’ban. Ini selaras dengan dalil umum keutamaan tilawah tanpa harus mengkhususkan malam tertentu.
3. Membaca Yasin
Syaikh Muhammad bin Darwis dalam Asnā al-Mathālib menyebut bahwa membaca Yasin pada malam Nisfu Sya’ban merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, dinisbatkan kepada Syaikh al-Buni, dan tidak dianggap sebagai keburukan menurut pandangan tersebut.
4. Membaca Doa
Doa yang populer dibaca pada malam Nisfu Sya’ban dinukil dalam Maslakul Akhyar karya Sayyid Utsman bin Yahya, dengan sandaran ayat:
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.”
(QS. ar-Ra‘d: 39)
Sekali lagi, perbedaan ini bersifat ijtihadiyyah, bukan perkara ushul akidah.
JANGAN SALING LABEL: INI FURU’, BUKAN POKOK AGAMA
Perlu ditegaskan dengan jernih:
👉 Yang mengamalkan tidak otomatis ahli bid’ah sesat
👉 Yang tidak mengamalkan tidak otomatis “wahabi” suka mengkafir-kafirkan
Ini adalah masalah furu’ (cabang), wilayah ijtihad yang sejak dulu memang diperselisihkan para ulama. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
“Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.”
Maka sungguh tidak bijak jika energi umat habis untuk saling menyalahkan, sementara musuh-musuh Islam justru tersenyum puas melihat umat Islam bertengkar soal hal-hal cabang.
MENYONGSONG RAMADHAN DENGAN ILMU DAN UKHUWAH
Menurut KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) Muhammadiyah, Ramadhan tersisa sekitar 16 hari lagi. Seharusnya ini menjadi momentum konsolidasi iman, bukan fragmentasi umat.
Daripada ribut soal Nisfu Sya’ban, bukankah lebih utama jika kita:
• Memperbaiki shalat wajib
• Memperbanyak taubat
• Menata niat menyambut Ramadhan
• Menguatkan ukhuwah Islamiyah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
KESIMPULAN
Nisfu Sya’ban bukan malam keramat yang wajib diritualkan, namun juga bukan alasan untuk meretakkan persaudaraan. Jadikan seluruh bulan Sya’ban sebagai ladang amal yang otentik, sesuai tuntunan yang kita yakini, sambil tetap menghormati keyakinan saudara seiman.
Bersatu dalam ushul, toleran dalam furu’, dan santun dalam akhlak.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semoga Allah ﷻ menyatukan hati kaum Muslimin, mengokohkan kita di atas kebenaran, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang matang dan ukhuwah yang kuat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "MENYIKAPI DENGAN BIJAK PERBEDAAN CARA PANDANG SOAL PERINGATAN NISFU SYA'BAN"