Pagi ini, sebuah peristiwa kecil tapi sarat makna kembali mengingatkan kita pada satu realitas pahit umat Islam hari ini: banyak yang lebih takut pada label daripada pada kebenaran itu sendiri.
Ketika dakwah Islam disampaikan secara kaffah—menyentuh akidah, ibadah, akhlak, hingga urusan sosial dan politik—sebagian orang justru refleks bertanya,
“Ini dari mana?”
“Ini kelompok apa?”
“Ini HTI ya?”
“Ini Salafi?”
“Ini Wahabi?”
“Ini radikal?”
Pertanyaannya sering berhenti di label, bukan pada isi.
Padahal yang seharusnya diuji adalah:
👉 Apakah yang disampaikan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah?
👉 Apakah ini menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran?
Namun sayangnya, ketakutan sudah lebih dulu ditanamkan.
ISLAMOFOBIA YANG DISISTEMKAN
Fenomena ini bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang penanaman opini. Islam yang kaffah dipersempit maknanya, lalu dicitrakan negatif. Syariat Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dianggap berbahaya. Dakwah politik Islam dicap ekstrem.
Inilah Islamophobia versi halus.
Bukan dengan peluru, tapi dengan narasi.
Bukan dengan tank, tapi dengan stigma.
Melalui media, kurikulum pendidikan, program-program resmi, hingga istilah-istilah yang terdengar manis, umat diarahkan untuk percaya bahwa:
• Islam cukup di masjid, jangan di ruang publik
• Islam cukup shalat dan puasa, jangan mengatur sistem
• Islam kaffah itu ancaman
Akhirnya, ketika ada yang mengajak kembali pada Islam secara menyeluruh, yang muncul bukan dialog ilmiah, tapi rasa takut.
SIAPA YANG DIUNTUNGKAN?
Pertanyaan pentingnya: siapa yang diuntungkan jika umat Islam takut pada ajarannya sendiri?
Jawabannya jelas: mereka yang ingin Islam tetap lemah, terpecah, dan tidak punya pengaruh dalam mengatur kehidupan.
Sistem sekuler-kapitalistik akan terus aman selama umat Islam:
• Takut bicara politik
• Takut menyebut syariat
• Takut pada label
• Sibuk saling mencurigai
Padahal Islam diturunkan bukan hanya untuk mengatur sajadah, tapi juga peradaban.
SAATNYA UMAT MELEK & BERANI BERPIKIR
Umat Islam hari ini butuh keberanian untuk kembali pada standar kebenaran, bukan standar stigma.
Butuh kejernihan untuk menilai isi dakwah, bukan asal-usul yang dilekatkan.
Butuh kesadaran bahwa mencintai Islam secara kaffah bukan kejahatan, tapi kewajiban.
Jika yang disampaikan adalah ayat Allah dan sunnah Rasul-Nya, maka tak ada alasan untuk takut, siapa pun yang menyampaikannya.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semoga umat Islam kembali berani berpikir jernih, menimbang dengan ilmu, dan tidak mudah dikendalikan oleh narasi ketakutan.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk membela kebenaran, meski harus berhadapan dengan stigma dan label.
Dan semoga Islam kembali dipahami, diamalkan, dan diperjuangkan secara murni dan kaffah.
Wallahu a’lam bishowab.


Posting Komentar untuk "KETIKA ORANG LEBIH TAKUT PADA LABEL BUKAN PADA KEBENARAN"