3 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN




Alhamdulillāh…

Tak terasa kita telah sampai di hari Ahad, 27 Sya’ban 1447 H, bertepatan dengan 15 Februari 2026 M. Artinya, insyā’ Allāh tinggal 3 hari lagi menuju Ramadhan 1447 H, yang menurut Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) akan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026 M.

Tiga hari.

Tiga kesempatan emas untuk benar-benar bersiap.

Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah simbol persatuan, simbol ketaatan kolektif, dan simbol kembalinya umat kepada aturan Allah ﷻ secara menyeluruh.


Hilal Global vs Hilal Lokal: Di Mana Letak Masalahnya?

Selama ini, media sering menyebut perbedaan awal Ramadhan karena beda metode hisab dan rukyat. Padahal persoalan itu secara ilmiah sudah banyak diselaraskan.

Perbedaan yang kini lebih dominan adalah soal hilal global vs hilal lokal.

Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN), dulu perbedaan memang karena beda kriteria (Imkan Rukyat vs Wujudul Hilal). Namun kini, dengan konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), pendekatan diarahkan pada sistem global berbasis data astronomi, bukan sekadar batas teritorial.

Pertanyaannya sederhana:

Kalau kalender Masehi bisa satu dunia satu tanggal,

mengapa kalender Hijriyah terus-menerus berbeda?

Apakah bulan itu terbit berbeda-beda sesuai paspor negara?

Tentu tidak.

Bulan hanya satu.

Langit hanya satu.

Umat pun seharusnya satu.


Nasionalisme dan Fragmentasi Umat

Kita perlu jujur dalam bermuhasabah. Sekat-sekat batas wilayah modern seringkali membuat umat terpisah dalam banyak urusan, termasuk penetapan awal bulan qamariyah.

Akibatnya, seolah-olah ada “Ramadhan versi negara A”, “Syawal versi negara B”. Padahal secara syar’i, umat Islam adalah satu kesatuan.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi…”

(QS. Al-A’raf: 96)

Keberkahan turun ketika iman dan takwa ditegakkan, bukan ketika umat terpecah oleh fanatisme sempit.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum menyatukan, bukan memperdebatkan tanpa akhir.


Kalender Hijriyah: Identitas yang Terlupakan

Ironisnya, banyak Muslim lebih hafal kalender Masehi daripada Hijriyah. Padahal ibadah kita—puasa, zakat, haji—semuanya berbasis kalender qamariyah.

Hari istimewa kita adalah Jum’at, sayyidul ayyām.

Namun ritme hidup sering lebih mengikuti sistem penanggalan lain.

Ini bukan soal menolak sistem yang ada, tetapi soal kesadaran identitas. Umat yang besar adalah umat yang mengenal jati dirinya.


Ramadhan dan Kesadaran Kepemimpinan Umat

Selama lebih dari satu abad, umat Islam hidup tanpa kepemimpinan global yang menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim dalam satu otoritas tunggal. Dampaknya terasa: kebijakan berbeda-beda, standar berbeda-beda, keputusan berbeda-beda.

Perbedaan awal Ramadhan hanyalah salah satu gejala dari realitas fragmentasi yang lebih luas.

Namun perjuangan menuju persatuan tidak boleh dengan kebencian, tidak dengan caci maki, dan tidak dengan saling merendahkan. Ia harus ditempuh dengan ilmu, kesabaran, dakwah, dan akhlak.

Ramadhan adalah bulan tarbiyah.

Bukan bulan emosi.

Bukan bulan saling menyalahkan.


Muhasabah 3 Hari Menjelang Ramadhan

Mari gunakan 3 hari ini untuk:

• Membersihkan hati dari fanatisme sempit

• Memperbanyak istighfar

• Memperbaiki niat puasa

• Menguatkan kepedulian terhadap persatuan umat

Ramadhan bukan hanya tentang lapar dan dahaga. Ia tentang visi besar: kembali kepada Allah ﷻ secara total.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Māidah: 45)

Ayat ini menjadi pengingat agar kehidupan pribadi dan kolektif senantiasa diarahkan pada hukum dan nilai-nilai Ilahi.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang membangkitkan kesadaran umat akan pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang menyatukan. Sudah lebih dari 100 tahun umat Islam hidup tanpa perisai kolektif yang menaungi seluruh negeri-negeri Muslim. Semoga Allah ﷻ segera menghadirkan kepemimpinan yang adil, yang menyatukan, dan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.

Mangan kupat sambil nangis nganggo santen…

Bilih kulo sebagai penulis wonten lepat, kulo nyuwun pangapunten.

Mohon maaf lahir dan batin 🙏

Wallāhu a‘lam bish-shawāb

 

Posting Komentar untuk "3 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN"