Alhamdulillāh…
Hari ini kita telah sampai di 28 Sya’ban 1447 H.
Artinya tinggal 2 hari lagi menuju 1 Ramadhan 1447 H, yang insyā’ Allāh jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M.
Dua hari.
Dua kesempatan terakhir sebelum pintu Ramadhan benar-benar terbuka.
Ini bukan sekadar hitung mundur tanggal.
Ini hitung mundur kesiapan iman.
Ramadhan: Bulan Umat, Bukan Bulan Teritorial
Ramadhan adalah syiar global. Ia tidak mengenal paspor, tidak mengenal garis batas buatan manusia. Bulan yang terlihat di langit itu satu. Peredaran kosmos tidak mengikuti administrasi negara.
Karena itu, kesadaran matla’ global adalah kesadaran persatuan umat. Bukan soal siapa lebih dulu atau siapa paling benar. Tetapi soal: apakah kita mau melihat umat sebagai satu kesatuan atau tetap terkotak-kotak?
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umat ini adalah umat kalian yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiyā’: 92)
Ayat ini tegas: ummatan wāḥidah — satu umat.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan kesatuan itu.
Bukan Sekadar Puasa, Tapi Kesadaran Peradaban
Ramadhan bukan hanya ibadah personal. Ia adalah madrasah pembentukan masyarakat bertakwa.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa bukan hanya menahan lapar.
Takwa adalah menjadikan syariat sebagai standar hidup.
Takwa berarti jujur dalam ekonomi.
Takwa berarti adil dalam kepemimpinan.
Takwa berarti menjaga kehormatan keluarga.
Takwa berarti menolak kezaliman dalam bentuk apa pun.
Jika puasa hanya mengubah jam makan tanpa mengubah pola pikir, maka kita baru mendapat lapar — belum mendapat takwa.
Dua Hari Terakhir: Bersihkan Niat, Luruskan Arah
Mari jujur pada diri sendiri.
Sudahkah kita benar-benar siap?
Atau Ramadhan masih sekadar agenda tahunan?
Dua hari ini gunakan untuk:
Taubat sungguh-sungguh
Memaafkan orang lain
Memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an
Menguatkan tekad hidup sesuai nilai Islam
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tapi bulan kebangkitan ruhiyah dan intelektual.
Umat yang besar adalah umat yang sadar jati dirinya. Umat yang mengenal kalendernya. Umat yang memahami bahwa langit yang sama menaungi seluruh kaum Muslimin.
Ramadhan dan Harapan Persatuan
Sudah lebih dari satu abad umat Islam hidup dalam kondisi terpisah secara politik dan administrasi. Dampaknya terasa dalam banyak hal, termasuk perbedaan penetapan hari besar.
Namun perubahan tidak lahir dari emosi.
Perubahan lahir dari ilmu, kesabaran, dan pembinaan generasi.
Ramadhan adalah momen strategis membangun kesadaran itu.
Bukan dengan caci maki.
Bukan dengan merendahkan pihak lain.
Tapi dengan argumentasi ilmiah, akhlak yang luhur, dan konsistensi dakwah.
2 Hari Lagi…
Bayangkan…
Dua malam lagi kita berdiri di shaf tarawih.
Dua malam lagi doa-doa Ramadhan mulai dipanjatkan.
Dua malam lagi Al-Qur’an kembali dibaca lebih sering.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah kita hanya ingin menjadi peserta Ramadhan?
Atau ingin menjadi pejuang perubahan diri di bulan Ramadhan?
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semoga Ramadhan 1447 H ini benar-benar menjadi momentum kebangkitan takwa, persatuan umat, dan kesadaran hidup di bawah nilai-nilai Ilahi. Semoga Allah ﷻ menguatkan langkah umat menuju kehidupan yang lebih adil, lebih bersih, dan lebih bermartabat.
Jika dalam tulisan ini ada kekhilafan, penulis memohon maaf lahir dan batin.
Mari sambut Ramadhan dengan iman yang menyala, hati yang bersih, dan tekad yang kokoh.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "2 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN"