Alhamdulillāhirabbil ‘ālamīn.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang hingga detik ini masih memberikan kepada kita nikmat hidup, nikmat iman, dan kesempatan untuk kembali taat kepada-Nya. Betapa banyak manusia yang pagi ini masih bernapas, namun tak lagi diberi hidayah. Betapa banyak pula yang hidup, tetapi jauh dari jalan ketaatan. Maka sungguh, kesempatan hidup dalam iman adalah karunia yang tak ternilai.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Karena beliaulah—dengan izin Allah—kita mengenal kebenaran, mengenal tauhid, dan berada dalam agama yang diridhai Allah, yaitu Islam. Bukan Islam versi budaya, bukan Islam setengah-setengah, tapi Islam sebagai jalan hidup yang utuh.
Tak terasa, kita kini berada di 20 Sya’ban 1447 H, penghujung bulan Sya’ban. Artinya, tinggal 10 hari lagi menuju Ramadhan—bulan mulia yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman.
Jika mengacu pada Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang kini digunakan Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447 H insyaAllah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 M. Ini bukan sekadar informasi tanggal, tapi alarm ruhani: apakah kita sudah siap menyambut tamu agung bernama Ramadhan?
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan perubahan. Bulan diturunkannya Al-Qur’an. Bulan pendidikan jiwa. Bulan di mana Allah membuka pintu rahmat selebar-lebarnya, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Tapi pertanyaannya:
apakah kita datang ke Ramadhan dalam keadaan siap, atau Ramadhan yang terpaksa menunggu kita berubah?
Beberapa pekan terakhir, melalui buletin-buletin subuh yang kita baca dan bagikan bersama, kita disuguhi realitas pahit kondisi umat dan negeri ini. Dari jeritan rakyat kecil, anak-anak yang menjadi korban sistem ekonomi yang zalim, hingga ulama dan elit yang justru semakin dekat dengan kekuasaan, tetapi jauh dari keberpihakan kepada umat. Semua itu seharusnya membuat kita sadar:
masalah umat ini bukan masalah ibadah ritual semata, tapi masalah sistem kehidupan.
Karena itu, menjelang Ramadhan ini, mari kita luruskan kembali cara pandang kita. Islam bukan hanya agama spiritual, bukan hanya urusan masjid, sajadah, dan wiridan. Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan: akidah, ibadah, muamalah, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, hingga urusan negara. Ramadhan seharusnya menguatkan kesadaran ini—bahwa ketaatan kepada Allah harus total, bukan parsial.
Di saat yang sama, kita juga diingatkan untuk tidak terjebak pada perpecahan akibat perkara-perkara furu’iyah. Perbedaan qunut dan tidak qunut, perbedaan bacaan wirid, perbedaan teknis ibadah—semua itu bukan alasan untuk saling mencela, apalagi saling memusuhi.
Mari kita dewasa. Mari kita arif.
Ukhuwah Islamiyah harus lebih besar daripada identitas ormas, kelompok, atau mazhab.
Ramadhan adalah momentum untuk menyatukan hati, bukan mengeraskan ego. Momentum untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan saling melabeli dan merendahkan. Selama akidah lurus dan tujuan kita sama—menggapai ridha Allah—maka perbedaan furu’iyah seharusnya menjadi rahmat, bukan sumber konflik.
Maka, 10 hari menuju Ramadhan ini, mari kita persiapkan diri:
Bersihkan niat, luruskan tujuan hidup.
Perbaiki hubungan dengan Allah, perbanyak taubat dan istighfar.
Perbaiki hubungan dengan sesama, ringankan lisan dari celaan dan prasangka.
Teguhkan komitmen hidup dalam Islam secara kaffah, bukan hanya di Ramadhan, tapi setelahnya.
Di penghujung tulisan ini, saya pribadi sebagai penulis buletin Dakwah ini menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Jika dalam tulisan, sikap, atau penyampaian selama ini terdapat kata-kata yang kurang berkenan—baik disengaja maupun tidak disengaja—semoga Allah mengampuni dan menyatukan kita dalam niat yang lurus: mencari kebenaran dan menegakkan kebaikan.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semoga Ramadhan yang sebentar lagi datang bukan hanya mengubah jadwal makan dan tidur kita, tetapi mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan arah hidup kita.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang kuat, hati yang bersih, dan tekad untuk taat secara total.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "10 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN"