Pemecahan Aqidah 1

 

Senin, 27 Rajab 1446 H / 27 Januari 2025 M
๐Ÿ—“️Kalender Global Muhammadiyah



Manusia, alam semesta, dan kehidupan adalah realitas yang tak terbantahkan. Ketiganya memiliki karakteristik serupa, yaitu terbatas, fana, dan bergantung. Manusia dilahirkan, tumbuh, dan akhirnya meninggal. Begitu pula alam semesta, yang memiliki awal dan suatu saat akan berakhir. Hal ini menunjukkan bahwa ketiganya tidak mungkin ada dengan sendirinya, tetapi memerlukan sesuatu yang menciptakannya. Sesuatu ini tidak terbatas, abadi, dan tidak bergantung pada apapun. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

ูฑู„ู„َّู‡ُ ุฎَٰู„ِู‚ُ ูƒُู„ِّ ุดَูŠุۡกٖۖ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ٰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠุۡกٖ ูˆَูƒِูŠู„ٞ

"Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62).


Dengan akal, manusia dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang terbatas memerlukan pencipta yang tidak terbatas. Pencipta ini adalah Allah SWT, yang sifat-sifat-Nya sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Alam semesta dengan segala keteraturannya, seperti rotasi bumi, gravitasi, dan siklus air, menjadi bukti nyata adanya Sang Pencipta. Allah SWT juga berfirman:

ูˆَู…َุง ุฎَู„َู‚ูۡ†َุง ูฑู„ุณَّู…َุงุٓกَ ูˆَูฑู„ุۡฃَุฑุۡถَ ูˆَู…َุง ุจَูŠูۡ†َู‡ُู…َุง ุจَٰุทِู„ุٗงۚ ุฐَٰู„ِูƒَ ุธَู†ُّ ูฑู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุงْۚ

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu adalah anggapan orang-orang yang kafir." (QS. Shad: 27).


Namun, keyakinan bahwa Allah adalah Sang Pencipta tidak cukup untuk membawa manusia kepada kedamaian. Sebagian besar manusia percaya pada keberadaan Tuhan, tetapi dunia masih dipenuhi dengan ketidakadilan, perang, dan penderitaan. Mengapa demikian? Karena manusia belum memahami tujuan penciptaannya. Allah SWT menjelaskan:

ูˆَู…َุง ุฎَู„َู‚ุۡชُ ูฑู„ุۡฌِู†َّ ูˆَูฑู„ุۡฅِู†ุณَ ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนุۡจُุฏُูˆู†ِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).


Tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah bukan hanya dalam bentuk ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga menjadikan seluruh aspek kehidupan tunduk pada aturan Allah. Ketika manusia mengabaikan tujuan ini, hidupnya kehilangan arah dan makna. Contohnya, sebagian manusia menjalani kehidupan hanya untuk mengejar harta, jabatan, atau kepuasan duniawi, tetapi merasa kosong di dalam hati.


Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan akal untuk memahami asal-usul kita, menyadari keberadaan Sang Pencipta, dan menjalankan hidup sesuai dengan tujuan yang telah Allah tetapkan. Allah SWT berfirman:

ุฃَูَู„َุง ูŠَุชَุฏَุจَّุฑُูˆู†َ ูฑู„ูۡ‚ُุฑุۡกَุงู†َۗ ูˆَู„َูˆۡ ูƒَุงู†َ ู…ِู†ۡ ุนِู†ุฏِ ุบَูŠุۡฑِ ูฑู„ู„َّู‡ِ ู„َูˆَุฌَุฏُูˆุงْ ูِูŠู‡ِ ูฑุฎุۡชِู„َٰูุٗง ูƒَุซِูŠุฑุٗง

"Maka tidakkah mereka memperhatikan Al-Qur'an? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa: 82).


Dalam dakwah ini, marilah kita renungkan kembali asal-usul kita, tujuan hidup kita, dan bagaimana kita dapat menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Dengan pemahaman ini, kita tidak hanya akan memperbaiki diri, tetapi juga berkontribusi pada kedamaian dan kesejahteraan umat manusia.

Posting Komentar untuk "Pemecahan Aqidah 1"