WAYAÈH MBALÈK‼️



Di tengah kondisi dunia yang saat ini carut-marut, kacau, serta amburadul di segala lini, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sangat menginginkan tegaknya keadilan serta kesejahteraan hakiki. Jika kita melihat skala lokal di negeri kita Indonesia, kebutuhan ekonomi sehari-hari semakin lama semakin mencekik rakyat kecil. Harga-harga kebutuhan pokok di pasar merangkak naik secara ugal-ugalan. Kenaikan harga bensin non-subsidi seperti Pertamax yang baru-baru ini melesat naik tentu secara langsung maupun tidak langsung memberikan efek domino terhadap melambungnya harga minyak goreng, bahan baku kemasan plastik, hingga biaya transportasi logistik di berbagai sektor.

Tidak hanya dalam skala lokal, ketika kita mengarahkan pandangan pada skala global, dunia Islam saat ini masih diselimuti rasa keprihatinan yang mendalam. Saudara-saudara seiman kita di Gaza, Palestina, hingga hari keempat di bulan Muharram ini masih terus-menerus dibombardir serta dibantai oleh tentara zionis Israel laknatullah. Yang lebih memprihatinkan, para penguasa di wilayah Timur Tengah—seperti pemerintah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), serta Mesir—justru terlihat tidak berdaya, loyo, dan tidak memiliki kekuatan. Bahkan yang ironis, mereka justru menjalin hubungan diplomatik serta ekonomi yang erat dengan Amerika Serikat, aktor intelektual serta dalang utama di balik semua agresi militer tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa ukhuwah Islamiyah telah direduksi dan disekat oleh kepentingan politik nasionalisme sekuler.


------------------------------

Degradasi Pemahaman Adab dan Syariat di Tengah Ruang Publik

Di tengah kondisi krisis politik tersebut, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak masyarakat Muslim sendiri yang masih bodoh dan tidak paham dengan ajaran agamanya sendiri, yaitu ajaran Islam yang sejatinya sudah sempurna 100%. Contoh sederhana dapat kita lihat dalam hal penutupan aurat. Banyak wanita yang mengaku Muslimah namun cara berpakaiannya masih bisa dikategorikan berpakaian tetapi telanjang atau melakukan tabarruj (bersolek secara berlebihan untuk menarik perhatian non-mahram).

Sebaliknya, bagi para pria, mereka merasa sudah menutup tubuh dengan sempurna namun ketika keluar rumah lebih gemar menggunakan celana kolor pendek yang mengakibatkan bagian paha—yang merupakan bagian dari aurat pria menurut jumhur ulama—masih kelihatan di depan umum. Perkara ini berjalan tanpa adanya rasa malu atau bersalah karena tipisnya pemahaman akidah.


[ Kerusakan Sistemik ]

  ├── Sosial : Maraknya Tabarruj & Ikhtilat (Anak SD Sudah Pacaran)

  ├── Edukasi : Sekolah Menjadi Pabrik Cetak Budak Industri (Hanya Mengejar Uang)

  └── Ekonomi : Eksploitasi Karier Wanita Atas Nama Kesetaraan Gender Sekuler


Tidak hanya dalam hal busana, rusaknya pemahaman adab ini juga menembus ke dalam sistem pergaulan. Anak-anak kecil yang masih sekolah di tingkat SD (Sekolah Dasar) zaman sekarang sudah dibiasakan melakukan aktivitas pacaran. Ketika ada acara besar seperti walimahan (pernikahan), masyarakat kita masih gemar melakukan ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa sekat), padahal syariat Islam dengan jelas serta tegas mewajibkan adanya infishol (pemisahan secara fisik antara barisan laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom) di dalam kehidupan umum maupun khusus. Semua kerusakan sosial ini dianggap sebagai hal yang lumrah karena masyarakat sudah lama dicekoki oleh gaya hidup liberal.


------------------------------

Sistem Pendidikan Sekuler: Pabrik Cetak Budak Industri

Jika kita mau berpikir secara kritis dan mendalam, tatanan sistem pendidikan modern yang diterapkan di negara sekuler zaman sekarang tidak lain merupakan wujud baru dari Sistem Perbudakan Modern. Lihat saja realitas di dalam kampus atau sekolah; dorongan utama para siswa serta mahasiswa—baik laki-laki maupun perempuan—ketika menempuh pendidikan yang tinggi bukan untuk membentuk karakter keimanan (Syakhshiyah Islamiyah) atau meraih rida Allah SWT sebagaimana tujuan utama penciptaan jin dan manusia.

Tujuan utama sistem pendidikan sekuler murni hanya untuk mengejar selembar ijazah formal, yang setelah lulus dapat langsung digunakan untuk mencari pekerjaan serta menghasilkan uang (materi). Perkara halal atau haramnya pekerjaan tersebut, atau kesadaran bahwa sistem hukum negara yang berjalan sekarang merupakan sistem hukum kufur, sama sekali tidak pernah terpikirkan dan tidak masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Walhasil, institusi sekolah serta universitas sekalipun itu lembaga pendidikan Islam namum tetap sekuler di zaman sekarang hanya bertindak sebagai pasar komersial untuk mencetak budak-budak industri kontemporer. Manusia dididik bukan untuk menjadi hamba Allah, melainkan dididik untuk menjadi hamba korporasi kapitalis. Allah SWT telah memberikan peringatan mengenai tujuan sejati kehidupan manusia:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (TQS Adz-Dzariyat: 56).


------------------------------

Tipuan Kesetaraan Gender: Ketika Wanita Direduksi Menjadi Mesin Modal

Di dalam cengkeraman sistem Kapitalis-Sekuler zaman sekarang, posisi antara laki-laki serta wanita dipaksakan harus sama rata atas nama konsep Kesetaraan Gender (Feminisme). Padahal, syariat Islam yang murni sudah memiliki tatanan hukum yang adil sesuai dengan porsinya masing-masing, bukan disama-ratakan secara buta.

Di dalam pandangan Islam, aktivitas wanita untuk mengejar karier, menempuh pendidikan yang tinggi hingga ke universitas, atau ikut bekerja di dalam sektor publik hukum asalnya hanya sebatas Mubah (Boleh), bukan menjadi kewajiban utama. Kewajiban paling tinggi serta utama bagi seorang wanita adalah menjadi Ummun wa Rabbatul Bait (ibu yang mengasuh generasi serta menjadi pengatur rumah tangganya).

Namun, karena tatanan hidup yang berjalan sekarang mengadopsi ideologi Kapitalisme, tatanan fitrah tersebut dibalik total. Ukuran utama yang digunakan untuk menilai derajat manusia hanya dilihat dari seberapa besar nilai materi atau uang yang dapat dihasilkan, baik itu dari tangan laki-laki maupun wanita. Akibatnya, para wanita dipaksa keluar rumah untuk masuk ke dalam pasar tenaga kerja murah, sehingga fungsi utama sebagai pendidik generasi benar-benar ditinggalkan. Ini adalah mindset atau cara berpikir yang keliru, rusak, serta jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam kaffah. Paham sekuler ini sudah datang sepaket untuk merusak tatanan keluarga Muslim.


------------------------------

Penutup

Semua kerusakan tata hidup ekonomi, penindasan militer global di Gaza, sistem pendidikan yang mencetak budak, hingga rusaknya moral pergaulan para pemuda-pemudi, sejatinya memiliki satu akar penyebab utama: dicampakkannya hukum Allah dan diterapkannya sistem hukum thaghut Kapitalis-Sekuler secara kaffah. Masyarakat kita pada dasarnya belum mampu menembus realitas tersebut karena cara memahami agamanya hanya terbatas pada perkara ritual ibadah mahdhah saja.

Oleh karena itu, bagi saudara-saudara kaum Muslimin di seluruh penjuru Nusantara maupun dunia, wayaèh mbalèk (saatnya kembali)! Sudah waktunya kita semua bangkit dari tidur yang panjang. Perubahan sejati tidak akan pernah terwujud melalui sistem demokrasi sekuler yang sering gonta-ganti figur pemimpin namun tetap mempertahankan undang-undang buatan manusia. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan kemuliaan, keadilan, serta kesejahteraan peradaban Islam adalah dengan cara kembali kepada tatanan syariat Islam secara utuh serta kaffah di dalam benteng politik Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya sistem yang diridhai oleh Allah SWT ini yang mampu mendatangkan keberkahan serta menyelamatkan manusia dari kegelapan zaman jahiliyah modern ini.

Allohu Akbar!.

Wallahu a'lam bish-shawab.[]

------------------------------

Diterbitkan oleh: Aldy al-Jawi (mas AL)


Posting Komentar untuk "WAYAÈH MBALÈK‼️"