PERJUANGAN MENEGAKKAN SYARIAT AKAN TERUS BERLANJUT SAMPAI AJAL MENJEMPUT





Innalillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Sebuah kabar duka yang menyayat hati baru saja menimpa keluarga besar kita, khususnya jamaah dakwah ideologis di Ciamis. Salah seorang rekan perjuangan kita, sesama syabab (pemuda) yang selama ini mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan tegaknya kembali peradaban Islam di muka bumi, telah dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Nyawa.

Beliau adalah Kang Dadang, aktivis dakwah dari Petirhilir, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, yang aktif bergerak bersama jamaah dakwah Mahali Cijeungjing. Setelah beberapa waktu berjuang melawan gangguan pernapasan yang dideritanya, pada hari Sabtu siang kemarin, 20 Juni 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, Kang Dadang menghembuskan nafas terakhirnya. Notifikasi duka yang masuk di grup WhatsApp sore kemarin seketika menghentikan aktivitas kita, menyisakan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya seorang pejuang.

Mugi-mugi almarhum dipun jantenkeun ahli surga-Na. Kita memohon kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan, semoga segala tetes keringat, waktu, harta, dan pikiran yang telah beliau korbankan selama aktif di dalam barisan jamaah dakwah ini dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir deras tanpa putus, hingga fajar kemenangan Izzul Islam wal Muslimin benar-benar terbit di muka bumi. Aamiin ya Allah ya Rabbal 'Aalamiin. Allahu Akbar!


------------------------------

Membongkar Kerancuan Berpikir: "Khilafah Kan Nanti Tegak Sendiri, Ngapain Diperjuangin?"

Kematian Kang Dadang di tengah-tengah masa perjuangan memberikan pelajaran (ibrah) berharga sekaligus tamparan keras bagi sebuah opini keliru yang sering dilontarkan oleh masyarakat awam, bahkan tidak jarang keluar dari lisan tokoh agama. Sering kali kita mendengar kalimat sinis bernada apatis seperti:


"Khilafah mah nanti juga akan tegak dengan sendirinya atas kehendak Allah, ngapain pusing-pusing diperjuangkan sampai mengorbankan waktu dan pikiran?"


Kalender sejarah tidak bisa berdusta. Pernyataan tersebut adalah bentuk kerancuan berpikir yang berbahaya. Secara tekstual, memang betul bahwa kembalinya institusi politik Islam (Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah) adalah janji Allah SWT yang pasti terwujud dan telah dikabarkan secara valid melalui lisan suci Rasulullah ﷺ. Namun, poin kritisnya bukan pada kepastian tegaknya, melainkan: Di pihak mana posisi kita saat ini berada?


[ Janji Allah: Khilafah Pasti Tegak ]

       ├── Pihak 1: Ikut Berjuang Menegakkan (Mendapat Pahala Jariyah)

       ├── Pihak 2: Diam, Apatis, Hanya Menonton (Berdosa Kolektif)

       └── Pihak 3: Menghalang-halangi & Menstigma (Mengundang Murka Allah)


Apakah kita berada di pihak yang siang malam mengupayakan tegaknya hukum Allah? Ataukah kita memilih menjadi penonton yang diam membisu? Atau yang lebih mengerikan, jangan-jangan kita justru tanpa sadar berada di pihak yang ikut menghalangi, menstigma, dan memusuhi para pengembannya? Hati-hati, kalimat yang terkesan sepele dan menyepelekan kewajiban menegakkan syariat ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat di hadapan Mahkamah Ilahi pada Yaumul Hisab.


------------------------------

Gugatan Terhadap Kesalehan Ritual yang Egois

Islam tidak pernah melarang umatnya memperbanyak ibadah ritual (amaliyah sunnah). Melaksanakan shalat wajib tepat waktu, merutinkan shalat dhuha, shalat tahajud di sepertiga malam, hingga mengejar keutamaan shalat syuruk adalah perkara yang sangat agung. Namun, ketahuilah bahwa imbas positif dari kesalehan ritual tersebut hanya berputar dan dirasakan oleh diri sendiri, tidak melahirkan pengaruh transformatif bagi umat.

Sementara itu, jika kita melihat di luar dinding masjid, miliaran umat Islam sedang menjerit menderita akibat dicengkeram oleh sistem kehidupan yang diatur oleh hukum sekuler-liberal. Kemiskinan & kebodohan struktural merajalela, pendidikan diubah menjadi pabrik budak korporasi, pergaulan bebas dan perzinaan anak usia sekolah dianggap hal biasa, serta saudara-saudara kita di Gaza dibantai tanpa ada satu pun institusi negara Muslim yang mengirimkan tentara untuk menolong mereka.

Yakin kita hanya ingin menutup mata dan fokus pada kesalehan individu saja? Allah SWT tidak pernah memerintahkan kita untuk memilih-milih sebagian ayat dan membuang sebagian yang lain. Perintah Allah SWT sangat tegas:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)..." (TQS Al-Baqarah: 208).

Sungguh sebuah kenaifan sosial dan kecacatan berpikir yang sangat parah, ketika seseorang begitu rajin mengejar shalat sunnah syuruk dan dhuha demi pahala pribadi, namun di saat yang sama bersikap ridha dan membiarkan tata hukum sekuler kapitalistik mengendalikan urusan politik, ekonomi, dan hukum di negerinya. Ini adalah bentuk pengerdilan terhadap hakikat risalah Islam.!!!


------------------------------

Urusan Hasil Adalah Hak Mutlak Allah: Upayakan Perjuangan Tanpa Batas

Terkait kapan Khilafah itu akan kembali memimpin peradaban—apakah 10 tahun lagi, 100 tahun lagi, atau bahkan 1.000 tahun lagi sekalipun—itu murni merupakan urusan dan hak prerogatif Allah SWT. Tugas kewajiban syar'i yang dibebankan di atas pundak setiap Muslim hanyalah mengupayakan dan berjuang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Kita tidak diwajibkan untuk berhasil, melainkan kita diwajibkan untuk berproses di atas jalan yang benar.

Saking adilnya Allah SWT, penilaian pahala di sisi-Nya dihitung berdasarkan proses perjuangan kita, bukan berdasarkan hasil akhir. Mari kita ambil hikmah dari wafatnya almarhum Kang Dadang. Secara kasat mata, beliau telah wafat mendahului kita namun institusi Khilafah yang dicita-citakannya belum lagi tegak di bumi. Apakah perjuangannya sia-sia? Demi Allah, tidak!

Justru di sinilah letak keunggulan mulia berada di dalam barisan jamaah dakwah ideologis. Karena Kang Dadang wafat dalam keadaan istiqamah berjuang menyuarakan kebenaran syariat, maka pahala dakwahnya akan terus mengalir sebagai investasi akhirat yang abadi, meskipun beliau telah berada di alam kubur. Bayangkan jika seseorang mati tanpa pernah mau ambil pusing terhadap urusan penegakan hukum Allah? Sungguh sebuah kematian yang merugi, sia-sia, dan hampa di hadapan Sang Pencipta.


------------------------------

Dakwah Pemikiran: Menepis Fitnah Kekerasan Kaum Sekuler

Umat harus dicerdaskan bahwa metode dakwah yang diadopsi oleh jamaah kita dalam menyuarakan penerapan syariat dan Khilafah sama sekali tidak menggunakan cara-cara kekerasan fisik, angkat senjata, aksi teror, ataupun anarkisme. Tuduhan radikal yang selama ini diembuskan oleh media sekuler adalah murni fitnah murahan untuk menjauhkan masyarakat dari syariat agamanya sendiri.

Metodologi perjuangan kita murni mengikuti garis Thariqah dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu penyebaran opini umum yang shahih melalui tiga tahapan non-kekerasan:


   1. Tatsqif (Pembinaan): Membina akidah dan pemikiran umat agar memiliki cara pandang Islam yang murni.

   2. Tafa'ul Ma'al Ummah (Berinteraksi dengan Umat): Melakukan diskusi, edukasi, dan muhasabah terhadap kebijakan penguasa di ruang publik demi membongkar kebusukan sistem kapitalisme.

   3. Thalabun Nusrah (Mencari Dukungan): Menyadarkan para pemilik kekuatan agar memberikan perlindungan politik demi tegaknya syariat.

Tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran dengan hujah yang terang. Perkara orang mau menerima opini dakwah ini atau menolaknya, itu bukan wilayah kendali kita, melainkan urusan hidayah dari Allah SWT. Kita tidak pernah memaksakan kehendak, karena dakwah adalah aktivitas mengetuk pintu kesadaran akal manusia.


------------------------------

Penutup

Wafatnya Kang Dadang dari Petirhilir Ciamis adalah pengingat yang sangat dekat bahwa ajal tidak pernah menunggu kita menyelesaikan urusan duniawi, dan ajal tidak akan menunda kedatangannya sampai Khilafah tegak. Kematian bisa datang menjemput kapan saja, bahkan esok pagi.

Mari kita pastikan, ketika malaikat maut datang menjemput, kita sedang berada di barisan para pejuang syariat, bukan di barisan orang-orang kafir atau kaum munafik yang asyik menikmati kenyamanan sistem sekuler. Jika kita menolong agama Allah dengan ikut serta memperjuangkan syariat-Nya, maka Allah pasti akan menjamin kemenangan dan meneguhkan kedudukan kita di akhirat kelak. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS Muhammad: 7).

Selamat jalan, Kang Dadang. Insya Allah Antum wafat dalam keadaan husnul khatimah. Di dunia kita disatukan oleh ikatan ukhuwah perjuangan dakwah, semoga kelak di surga-Nya kita dikumpulkan kembali sebagai tetangga yang saling tersenyum bahagia. Perjuangan menegakkan syariat Islam kaffah ini akan terus kami lanjutkan, kibarkan panji Al-Liwa dan Raya, sampai ajal datang menjemput kami satu per satu.

Wallahu A'lam bish-Shawab.[]

Allahu Akbar !!

------------------------------

Diterbitkan oleh: Aldy al-Jawi (mas AL)

Nantikan Buletin Subuh tiap hari hanya di: Bit.ly/DakwahJawi

(Buletin Kaffah terbit tiap hari Jum'at | Buletin Jawi terbit tiap weton Kliwon)

------------------------------


Posting Komentar untuk "PERJUANGAN MENEGAKKAN SYARIAT AKAN TERUS BERLANJUT SAMPAI AJAL MENJEMPUT"