REZIM HARI INI TERBUKTI GAGAL: GANTI ORANGNYA❌ (TIDAK CUKUP!) GANTI SISTEMNYA✅ (JELAS !)


Coba angkat tangan, siapa di antara kita yang pada Pemilu 2019 lalu mati-matian memilih Prabowo Subianto demi menumbangkan kekuasaan Joko Widodo? Hasil akhirnya kita ketahui bersama: Prabowo justru melompat masuk ke dalam kabinet dan berkoalisi erat dengan Jokowi. Lalu, siapa pula di antara kita yang pada Pemilu 2024 kemarin melabuhkan suara kepada Anies Baswedan dengan narasi "Perubahan" demi menghancurkan hegemoni dinasti politik Jokowi-Prabowo?

Fakta empiris yang tersaji di panggung politik nasional hari ini membuktikan bahwa realitas di negeri ini selalu berjalan penuh kepalsuan. Sistem politik demokrasi sukses menggandeng dan memobilisasi semua elemen bangsa demi memuluskan syahwat kekuasaan berkala lima tahunan. Mulai dari rakyat jelata, kaum akademisi, pesohor/artis, publik figur, hingga para ulama diseret ke dalam pusaran pragmatisme. Stempel legalitas non-formal dan fatwa-fatwa keagamaan bagaimanapun caranya harus didapatkan oleh para oligarki untuk meraup dukungan suara di bilik TPS.

Figur politik selalu dikonstruksikan sebagai sosok mesias, juru selamat, dan pembawa harapan baru yang mampu menghentikan kekuasaan rezim yang dianggap tirani, tidak pantas, atau beringas. Imajinasi rakyat terus-menerus dijejali narasi heroik bahwa mengganti presiden akan otomatis membenahi negeri yang sedang sakit sakaratul maut ini.

Dahulu, sosok Prabowo dipuja sebagai simbol perlawanan terhadap kerusakan sistemik era Jokowi. Meskipun berakhir dengan narasi "dicurangi", sang figur pada akhirnya menepi dan memilih bermesraan dengan klan kekuasaan. Sesaat kemudian, saat rezim Prabowo-Gibran hari ini terbukti gagal total mengelola stabilitas negara—di mana ekonomi merosot, korupsi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) merebak, dan harga barang mencekik rakyat—harapan baru dialihkan kepada Mas Anies yang sering diperangi rezim. Para ulama berkumpul menggelar Ijtima Ulama demi membangun sinergi politik, umat bersorak-sorai mengumandangkan takbir di berbagai daerah. Namun, apa hasil akhirnya? Selalu berakhir pada ruang kosong kekecewaan. Hubungan pertemanan hancur, bahkan ikatan persaudaraan terputus hanya karena fanatisme buta terhadap figur yang pada akhirnya berkompromi dengan sistem.


------------------------------

Paradoks Sepak Bola Kapitalisme: Mengapa Semua Figur Berakhir Gagal

Sifat laten figuritas (memuja sosok individu) ini masih kental menjangkiti pemikiran umat Islam di Indonesia. Umat belum sadar bahwa di dalam ruang ekosistem demokrasi-kapitalisme, pemilu tidak lebih dari sekadar perhelatan pertandingan sepak bola yang telah diatur skornya. Di dalam sistem ini, pihak kapitalis (para pemilik modal/oligarki) adalah pemilik mutlak atas regulasi permainan, kepemilikan lapangan, otoritas wasit, aparat keamanan, bahkan mereka mengendalikan sebagian besar penonton melalui media massa.


[ Ekosistem Demokrasi-Kapitalisme ]

  ├── Pemilik Lapangan & Regulasi : Para Cukong/Oligarki Kapitalis

  ├── Wasit & Aparat Penyelenggara: Birokrat yang Disetir Modal

  └── Para Pemain (Paslon 01/02/03): Komoditas Politik Kontrak Lima Tahunan


Jadi, mau siapa pun yang terpilih menjadi "Presiden FIFA" atau Presiden Republik ini, kebijakan yang lahir tidak akan pernah bisa mengubah nasib rakyat secara fundamental. Akar permasalahannya berada pada cacat bawaan sistem, bukan pada moralitas individu sang figur.

Kita tentu masih ingat dengan pernyataan teologis dari Mahfud MD yang sangat terkenal: "Malaikat sekalipun jika masuk ke dalam sistem demokrasi akan berubah menjadi setan." Fakta tersebut kita jumpai secara nyata hingga hari ini. Berapa banyak para ustadz, intelektual, dan ulama yang dahulu konsisten memperjuangkan hak-mana umat dan bersuara lantang menolak merapat ke kekuasaan zhalim, namun setelah mereka mendapatkan kursi "orang dalam" di jajaran pemerintahan, apakah mereka masih memikirkan nasib akidah dan urusan perut umat? Mereka habis ditelan oleh pusaran syirik sistemik bernama kekuasaan sekuler.


------------------------------

Hijrah Sistemik: Meninggalkan Hukum Jahiliah Menuju Hukum Allah

Perubahan substantif yang seharusnya diikhtiarkan oleh umat Islam bukanlah mengganti personel pemain, melainkan mengganti sistem permainannya secara total. Tidak cukup jika hanya individu-individunya saja yang melakukan hijrah secara personal (memperbaiki ibadah ritual di masjid), tetapi sistem pengurusan negara ini juga wajib ikut berhijrah secara menyeluruh (kaffah). Kita harus berhijrah dari hukum sekuler buatan manusia warisan kolonial penjajah, menuju hukum syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT.

Baginda Rasulullah ﷺ sudah mencontohkan secara presisi di dalam sirah nabawiyah mengenai metodologi membalikkan peradaban tata hukum jahiliah Makkah menjadi sistem bernegara yang berdasarkan hukum Allah di Madinah. Jalan perjuangan itulah yang wajib ditempuh oleh gerakan dakwah hari ini: melalui pembinaan pemikiran akidah (tatsqif), berinteraksi mengedukasi opini publik (tafa'ul ma'al ummah), serta menuntut penyerahan kekuasaan dari pemilik kekuatan (thalabun nusrah).

Islam melarang umatnya menempuh jalan perbaikan melalui metode masuk ke dalam sistem demokrasi sekuler. Terlalu banyak contoh historis dan kontemporer yang membuktikan bahwa niat awal melakukan "perbaikan dari dalam" justru berakhir tragis: mereka tidak berhasil mewarnai sistem, melainkan justru hanyut diwarnai dan menjadi bagian dari "orang dalam" yang ikut melanggengkan kezaliman terhadap rakyat. Berharap pada kebaikan manusia di dalam sistem yang batil adalah kesalahan mendasar, apalagi berharap pada figur manusia yang sudah jelas memeluk ideologi yang salah.


------------------------------

Penutup

Kegagalan beruntun yang dipertontonkan oleh rezim sekuler hari ini adalah momentum muhasabah bagi seluruh kelompok, ormas, dan elemen umat Islam—baik dari kalangan tradisionalis maupun modernis, baik Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad, Syarikat Islam, dan lainnya. Kita semua harus menyadari satu kesimpulan ideologis yang sama: akar penderitaan umat ini adalah karena hukum syariat Islam dicampakkan dari panggung pemerintahan.

Mengganti figur penguasa (Ganti Orang) terbukti tidak akan pernah cukup dan selalu berujung pada siklus kekecewaan yang berulang. Solusi tunggal yang jelas dan mutlak adalah Mengganti Sistem Hukum Negara secara totalitas. Mari kita satukan visi perjuangan dakwah politik kita untuk mencerdaskan umat, meninggalkan ilusi sirkus demokrasi, dan berjuang bersama menegakkan kembali Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah yang akan menerapkan hukum Allah secara kaffah sehingga rahmat dan keberkahan-Nya kembali memayungi bumi Nusantara dan dunia.

Wallahu A'lam bish-Shawab.

------------------------------

Diterbitkan oleh: Aldy al-Jawi (mas AL)

(Buletin Kaffah terbit tiap hari Jum'at | Buletin Jawi terbit tiap weton Kliwon)

------------------------------


Posting Komentar untuk "REZIM HARI INI TERBUKTI GAGAL: GANTI ORANGNYA❌ (TIDAK CUKUP!) GANTI SISTEMNYA✅ (JELAS !)"