KALENDER HIJRIYAH: TONGGAK AWAL PERADABAN ISLAM DIMULAI‼️🏳️🏴


Tahun 1447 H berlalu sudah. Hari Senin kemarin, 15 Juni 2026 M, resmi menjadi hari terakhir di tahun tersebut yang bertepatan dengan 29 Dzulhijjah 1447 H. Namun, kita tidak bisa menutup mata juga bahwa fakta di lapangan menunjukkan adanya perbedaan mencolok. Kemarin baru tercatat sebagai tanggal 28 Dzulhijjah di beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Thailand, dan di penghujung bumi paling timur yaitu Selandia Baru. Ketiga negara ini memasuki awal bulan Dzulhijjah secara terlambat satu hari, yang berimplikasi langsung pada perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Adha yang baru kemarin dilewati umat Islam.

Sebagian negara ataupun kelompok dan ormas Islam menggunakan metode hisab ataupun rukyat lokal yang berbeda-beda untuk memasuki setiap awal bulan baru di kalender Hijriyah yang berbasis perhitungan peredaran bulan (kalender qomariyah) ini. Di sisi lain, masyarakat Muslim khususnya di Indonesia menyambut pergantian tahun baru Islam ini dengan begitu antusias dan meriah. Di berbagai daerah, syiar Islam tampak hidup melalui gelaran pawai obor, karnaval, hingga zikir dan doa bersama dengan berbagai harapan baik. Fenomena ini tentu sangat bagus karena menandakan bahwa masyarakat paham akan hari besar umatnya.

Namun, hal yang sangat disayangkan adalah pergantian tahun baru Hijriyah ini sering kali hanya berhenti sebagai momentum seremonial atau peringatan tahunan belaka. Akibatnya, atmosfernya terasa "garing" tanpa makna substantif yang menghujam ke dalam benak. Seandainya kita mau mempelajari secara mendalam, kalender resmi umat Islam ini menyimpan jalinan sejarah yang luar biasa, terutama jika mengkaji bulan Muharram sebagai bulan pertama yang sarat akan peristiwa besar serta alasan politis-ideologis di balik penetapannya. Tugas para pengemban dakwah hari ini adalah memahamkan umat agar keluar dari ruang kosong seremonial tersebut menuju kesadaran untuk bangkit.




Fakta Perpecahan Penanggalan Umat Hari Ini

Kedengarannya sepele, tetapi mari kita buka mata secara objektif. Coba bandingkan dengan tahun baru Masehi, pasti tidak mungkin terjadi kekacauan penanggalan seperti ini. Ketahuan secara gamblang bahwa masalah perbedaan tanggal di internal umat Islam bukan cuma terjadi saat awal Ramadhan dan hari raya Lebaran saja, melainkan terjadi di setiap bulan sepanjang tahun!
Perhatikan potret konkrit Peta Perbedaan Kalender Islam Dunia per Hari Ini (Selasa, 16 Juni 2026 M):

  • Muharram Hari ke-1: Versi Muhammadiyah, HTI, PERSIS, serta negara-negara seperti Indonesia (sebagian), Singapura, Arab Saudi, Palestina, dan sekitarnya.
  • Dzulhijjah Hari ke-30: Versi Kalender Kraton Jogja, Nahdlatul Ulama (NU), Malaysia, Pakistan, India, dan Bangladesh.
  • Dzulhijjah Hari ke-29: Versi negara Brunei Darussalam, Thailand, dan Selandia Baru.
⚠️ WARNING!: Tanpa institusi Khilafah, kalender Islam akan terus-menerus berbeda dan terpecah, baik untuk penentuan Ramadhan maupun di luar Ramadhan (Baca Media Umat Edisi 363 Tahun 2024 M).



Mengenal Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Untuk mengatasi carut-marut penanggalan ini, muncul sebuah inisiatif ilmiah kontemporer yang diulas secara akademis oleh Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar (Anggota Ikatan Alumni Program Habibie/IABIE). Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah langkah strategis Muhammadiyah untuk menyelaraskan penanggalan Islam di seluruh penjuru dunia. Prinsip utamanya mengusung konsep: Satu hari, satu tanggal di seluruh dunia. Artinya, tanggal baru Hijriah akan jatuh pada hari yang sama di seluruh muka bumi tanpa terkecuali.

Sebagai contoh simulasi masa depan, tanggal 1 Syawal 1548 H (2124 M) akan jatuh secara serempak pada hari Jumat, 17 Maret 2124 M di semua wilayah, baik bagi mereka yang berada di Sydney (Australia) maupun di Sydney, Ohio (Amerika Serikat).

Mengapa KHGT Sangat Diperlukan?

Penggunaan kalender lokal berbasis batas wilayah geografis politik (wilayatul hukmi) terbukti melestarikan ego perpecahan umat. Faktor utama munculnya perbedaan tersebut di antaranya:

  1. Perbedaan Rumus Astronomi: Kitab-kitab falak klasik menggunakan rumus perhitungan yang sangat sederhana, sehingga sebuah akurasi komputasinya tertinggal dari metode modern.
  2. Perbedaan Kriteria Bulan Baru: Setiap kelompok bersikukuh pada kriteria masing-masing, mulai dari Ijtimak qabla ghurub, Ijtimak qabla fajr, Wujudul Hilal (0°), Irtifa' 2°, hingga Kriteria MABIMS baru (irtifa' 3° dan elongasi 6,4°).
  3. Perbedaan Markaz Perhitungan: Kalender yang dihitung spesifik untuk satu koordinat kota akan melahirkan hasil berbeda dengan kota lain ketika garis batas penanggalan internasional melintas.

Sungguh ironis, umat Islam yang telah berusia lebih dari 14 abad belum memiliki satu pun kalender pemersatu peradaban. Padahal Allah SWT secara tegas memerintahkan persatuan umat secara sistemik dalam Al-Qur'an:

إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ

"Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (TQS Al-Anbiya: 92).

وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱتَّقُونِ

"Dan sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (TQS Al-Mu'minun: 52).

Parameter Ilmiah KHGT Hasil Kongres Istanbul 2016

Berdasarkan hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul, Turki (28–30 Mei 2016), dirumuskan parameter baku sebagai berikut:

  • Seluruh muka bumi dipandang sebagai Satu Matla' yang tunggal.
  • Bulan baru dimulai apabila terjadi posisi Imkan Rukyat Global dengan syarat: Tinggi hilal minimal 5° dan Elongasi minimal 8° sebelum pukul 00.00 UTC (GMT).
  • Jika ijtimak terjadi setelah pukul 00.00 UTC, bulan baru tetap dapat dimulai secara global selama syarat visibilitas tersebut memenuhi parameter astronomis di belahan bumi barat.
Saat ini, ormas besar seperti Muhammadiyah telah memantapkan keputusan untuk mengadopsi KHGT dan resmi meninggalkan Hisab Wujudul Hilal yang selama ini ditabani Muhammadiyah bertahun-tahun kini bahkan telah menyiapkan blueprint kalender untuk 100 tahun Hijriah ke depan (1444–1543 H / 2022–2119 M).



Kontradiksi Data Perhitungan ke Depan (Tahun 1448 H)

Meskipun KHGT telah menawarkan formula prediktif astronomi secara akurat terhadap visibilitas hilal (rukyat global), realitas di lapangan menunjukkan bahwa hasil praktisnya masih sering terbentur oleh salahsatunya ego negara bahkan kelompok yang masih mengandalkan rukyat nasional/lokal akibatnya seringkali terhambat faktor cuaca, kualitas pengamat, dan ego standar penerimaan laporan rukyat di masing-masing negara.

Sebagai bukti nyata, mari kita intip Data Komparasi Hasil Hisab KHGT Muhammadiyah & Ummul Qura (Arab Saudi) VS Ikhtilaf Rukyat MABIMS (Pemerintah/NU/PERSIS) untuk satu tahun ke depan yang sudah kami hisab:

Bulan Hijriah
(1448 H)
Versi KHGT Muhammadiyah / Ummul Quro' Arab SaudiVersi Kriteria MABIMS (Pemerintah)Status Aktual
1 MuharramSelasa, 16 Juni 2026 MSelasa, 16 Juni 2026 MSAMA (Kecuali dgn NU beda yang menetapkan Rabu)
1 ShafarRabu, 15 Juli 2026 MKamis, 16 Juli 2026 MBEDA
1 Rabi'ul AwalKamis, 13 Agustus 2026 MKamis, 13 Agustus 2026 MSAMA
1 Rabi'ul AkhirSabtu, 12 September 2026 MAhad, 13 September 2026 MBEDA
1 Jumadil AwalSenin, 12 Oktober 2026 MSenin, 12 Oktober 2026 MSAMA
1 Jumadil AkhirSelasa, 10 November 2026 M (Arab Saudi telat 1 hari)Rabu, 11 November 2026 M (Kalender Arab Saudi disini)BEDA
1 RajabKamis, 10 Desember 2026 MKamis, 10 Desember 2026 MSAMA
1 Sya'banSabtu, 9 Januari 2027 MSabtu, 9 Januari 2027 MSAMA
1 RamadhanAhad, 7 Februari 2027 MAhad, 7 Februari 2027 MSAMA
1 SyawalSelasa, 9 Maret 2027 MRabu, 10 Maret 2027 MBEDA
1 Dzulqa'dahKamis, 8 April 2027 MKamis, 8 April 2027 MSAMA
1 DzulhijjahJumat, 7 Mei 2027 M (Idul Adha: Ahad, 16 Mei)Sabtu, 8 Mei 2027 M M (Idul Adha: Senin, 17 Mei)BEDA


Batas Toleransi: Memisahkan Furu'iyah dengan Perkara Prinsipil

Umat Islam wajib cerdas dalam membedakan jenis perbedaan. Ada wilayah perbedaan yang boleh dan wajib ditoleransi karena masuk dalam ranah furu'iyah (cabang hukum) hasil ijtihad para ulama mazhab yang sahih, seperti tahlilan atau tidak, doa qunut subuh, tata cara pelafalan niat shalat, hingga jahr-sirr membaca bismillah.

Namun, ada wilayah perbedaan yang sama sekali tidak boleh ditoleransi dan haram hukumnya untuk berbeda, karena menyangkut perkara pokok ushuliyah dan keutuhan kepemimpinan umat, yaitu: Tuhannya wajib Allah SWT, Nabinya mutlak Muhammad ﷺ, Kitab sucinya hanya Al-Qur'an, dan penentuan Satu Hilal wajib berlaku secara mengikat bagi seluruh kaum Muslimin sedunia.

Umat Islam mutlak harus berada di bawah satu sistem penanggalan seragam! Mengapa hari ini, di saat teknologi komunikasi sudah sedemikian canggih dan pertukaran informasi bisa diakses dalam hitungan milidetik, kaum Muslimin masih saja sulit untuk bersatu? Mengapa ego nasionalisme, ego kelompok, dan sekat batas negara-bangsa (nation-state) sekuler justru lebih diagungkan daripada komitmen ukhuwah syar'i? Sudah saatnya umat membuang jauh-jauh rasa ego sektarian tersebut.



Sejarah Autentik Perumusan Kalender Hijriah oleh Khalifah Umar

Umat perlu disadarkan bahwa penentuan penanggalan Islam tidak lahir dari ruang hampa. Ada proses politik yang melatarbelakanginya pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Kejadian ini bermula sekitar tahun ke-3 atau ke-4 masa kepemimpinan beliau (sekitar tahun 17 Hijriah / 638 Masehi), ketika gubernur Basrah, Abu Musa al-Asy'ari ra, mengirimkan sepucuk surat resmi kepada Amirul Mukminin di Madinah. Dalam suratnya, Abu Musa mengeluhkan:

"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda yang tidak memiliki tanggal/catatan waktu. Kami menerima surat yang tertulis 'di bulan Sya'ban', namun kami tidak tahu apakah Sya'ban tahun ini ataukah Sya'ban tahun lalu."

Mendapati problem administrasi negara yang vital tersebut, Khalifah Umar segera mengumpulkan para sahabat senior dalam sebuah forum musyawarah darurat (Majelis Syura). Forum ini bertujuan merumuskan acuan penanggalan resmi bagi Daulah Islamiyah. Muncul berbagai macam usulan dari para sahabat:

  • Sebagian sahabat mengusulkan agar kaum Muslimin mengadopsi sistem penanggalan bangsa Romawi yang dihitung dari masa kekuasaan Iskandar Dzulkarnain.
  • Sebagian yang lain mengusulkan penggunaan sistem kalender bangsa Persia yang berbasis pada penobatan raja-raja mereka. Namun, kedua usulan ini ditolak mentah-mentah karena berbau peradaban kufur (tasyabbuh).
  • Muncul usulan agar kalender Islam dimulai dari tahun kelahiran Rasulullah ﷺ (Tahun Gajah/Maulid).
  • Ada pula yang mengusulkan agar dihitung dari tahun saat Rasulullah ﷺ pertama kali menerima wahyu di Gua Hira (Tahun Bi'tsah).
Di tengah perdebatan tersebut, Ali bin Abi Thalib ra mengajukan sebuah usulan yang sangat cerdas dan visioner. Ali mengusulkan: "Mari kita tetapkan penanggalan resmi Islam dimulai dari tahun di mana Rasulullah ﷺ melakukan Hijrah meninggalkan negeri syirik (Makkah) menuju Madinah."

Khalifah Umar bin Khattab ra langsung menyetujui usulan Ali ra tersebut dengan argumentasi yang sangat mendasar: "Peristiwa Hijrah adalah garis demarkasi tajam yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, serta menjadi tonggak awal berdirinya institusi politik Islam (Daulah Madinah) secara mandiri."

Setelah menyepakati tahun awal, forum berlanjut membahas bulan apa yang layak dijadikan pembuka tahun. Utsman bin Affan ra mengusulkan agar bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama. Alasan ushulinya adalah karena bulan Muharram merupakan waktu kembalinya kaum Muslimin dari ibadah haji, sebuah bulan suci (Asyhurul Hurum), dan pada bulan inilah tekad hijrah Rasulullah ﷺ bulat setelah terjadi Baiat Aqabah II pada bulan Dzulhijjah. Sejarah ini membuktikan bahwa kalender Hijriyah dirancang khusus sebagai identitas peradaban politik dan kedaulatan negara Islam.



Flashback Kegemilangan Khilafah: Menguasai 2/3 Dunia Selama Berabad-abad

Sistem penanggalan bersatu ini berjalan harmonis selama berabad-abad selama institusi pelindung umat masih tegak berdiri. Sebelum Khilafah Islamiyah diruntuhkan secara resmi oleh konspirasi internal dan eksternal melalui agen Inggris bernama Mustafa Kemal Attaturk pada tanggal 3 Maret 1924 M (28 Rajab 1342 H) di Turki, seluruh dunia Islam berada di bawah satu kepemimpinan global yang tunggal. Komando tertinggi berada di tangan seorang Sultan atau Khalifah yang menerapkan syariat Islam secara total.

Vastness atau luasnya wilayah kekuasaan Islam kala itu sungguh mencengangkan. Pada masa kejayaan Khilafah Turki Utsmani, bentangan wilayah Islam membujur dari ujung Maroko di Afrika Utara hingga ujung Merauke di Papua. Islam menguasai hampir 2/3 wilayah bumi dan bertindak sebagai negara adidaya tunggal (superpower) yang disegani di dunia, jauh melampaui posisi Amerika Serikat atau China/Korea hari ini.

Sistem Khilafah terbukti secara empiris sukses memimpin peradaban multietnis, multiagama, dan ras yang berbeda selama lebih dari 1300 tahun tanpa mengalami kebangkrutan sistemik. Bandingkan dengan sistem Demokrasi yang lahir dari ideologi Kapitalisme-Sekuler hari ini; jangankan bertahan berabad-abad, sistem ini baru diimplementasikan secara global belum genap satu abad saja jalannya sudah kacau-balau di semua sektor kehidupan.



Jejak Historis Khilafah di Nusantara (Bilad al-Jawi)

Narasi sejarah sekuler sering kali menyembunyikan fakta bahwa Nusantara atau yang dahulu dikenal oleh para sejarawan Arab sebagai Bilad al-Jawi (meliputi Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) memiliki ikatan ideologis dan politik yang sangat kuat dengan Kekhalifahan Turki Utsmani. Hubungan ini bukan sekadar relasi dagang biasa, melainkan hubungan protektorat dan pengakuan legitimasi politik.

Bukti peninggalan dan jejak otentik hubungan tersebut masih terekam jelas di berbagai kesultanan Islam di Nusantara:

  • Kesultanan Aceh Darussalam: Secara resmi diakui sebagai bagian dari wilayah protektorat Khilafah Utsmani melalui dokumen resmi Safarnama. Khilafah mengirimkan bantuan militer berupa armada kapal perang, meriam, dan para ahli militer untuk membantu Aceh melawan penjajah Portugis.
  • Kesultanan Banten dan Cirebon: Memiliki lambang-lambang kebesaran, struktur hukum, dan penasihat keagamaan yang terafiliasi dengan jaringan ulama Timur Tengah di bawah restu Khalifah.
  • Kesultanan Demak dan Mataram Islam (Kraton Jogja & Solo): Gelar yang disandang oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo maupun Hamengkubuwono I menggunakan gelar resmi dari Khilafah, yaitu Sultan dan Khalifatullah. Struktur hukum peradilan di Kraton Jogja pun mengadopsi hukum syariat Islam.
  • Wilayah Papua: Jejak Islamisasi di Papua barat melalui Kesultanan Tidore dan Ternate menunjukkan bahwa jangkauan dakwah Islam telah menyentuh wilayah timur terjauh Nusantara.
Fakta sejarah ini membuktikan bahwa wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke secara historis pernah menjadi bagian dari naungan kesejahteraan sistem Khilafah Islamiyah.



Menyongsong Masa Depan: Jangkauan Dakwah Hingga ke Selandia Baru

Maka dari itu, sangat rasional dan berlandaskan nubuwwah jika kelak ketika janji Allah SWT tentang kembalinya Khilafah (Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah) terwujud, jangkauan wilayahnya tidak akan berhenti hanya sampai di Merauke saja. Wilayah kekuasaan Islam diprediksi akan menembus hingga ke Selandia Baru, wilayah paling timur di muka bumi yang dikenal sebagai tempat pertama kalinya matahari terbit di dunia.

Indikator ke arah sana sudah mulai tampak hari ini. Di tengah kegelapan spiritual peradaban Barat dan runtuhnya moralitas sekuler, gelombang fenomena mualaf melonjak tajam secara global. Banyak kaum terpelajar di negara-negara barat, termasuk di wilayah pasifik, berbondong-bondong memeluk Islam karena ketertarikan mendalam pada kesempurnaan ajaran Islam yang paripurna, adil, logis, dan mampu menyelesaikan problematika hidup manusia dari urusan privat hingga urusan tata negara.



Penutup

Carut-marut penentuan kalender Hijriyah hari ini adalah alarm nyata bagi umat Islam akan hilangnya institusi pemersatu global. Persatuan umat tidak akan pernah bisa diwujudkan jika kaum Muslimin masih mempertahankan sekat-sekat nasionalisme warisan penjajah yang membelah-belah kesatuan akidah kita.

Sejarah penentuan kalender oleh Khalifah Umar bin Khattab ra mengajarkan bahwa Islam ditakdirkan untuk memimpin, bukan dipimpin; menjadi penentu arah peradaban, bukan menjadi pengekor sistem jahiliah. Unifikasi (penyatuan) kalender global di bawah satu tanggal dan satu hari yang sama di seluruh dunia hanya akan mewujud secara mutlak ketika umat memiliki satu otoritas politik global, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Mari jadikan 1 Muharram 1448 H ini sebagai langkah awal menyatukan tekad dan pemikiran untuk memperjuangkan kembali tegaknya syariat Allah secara total di muka bumi.

Allahu Akbar !!.

Wallahu a'lam bishowab.[]


Posting Komentar untuk "KALENDER HIJRIYAH: TONGGAK AWAL PERADABAN ISLAM DIMULAI‼️🏳️🏴"