Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Zat yang menguasai perputaran waktu dan peradaban manusia. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita sampai pada hari ini, Senin Pon, 29 Dzulhijjah 1447 H, yang merupakan hari terakhir di bulan penutup tahun kalender Islam. Berdasarkan perhitungan astronomis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menggunakan garis penanggalan internasional tanpa batas sekat wilayah, esok hari—Selasa Wagē, 16 Juni 2026 M—umat Muslim sedunia secara resmi akan menginjakkan kaki di gerbang 1 Muharam 1448 Hijriah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada sang pembawa risalah perubahan sejati, Nabi Besar Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia mengemban amanah dakwah politik-ideologis. Semoga kita semua dikuatkan pundaknya untuk terus konsisten menyuarakan kebenaran syariat hingga ajal menjemput. Aamiin ya Allah ya Rabbal 'Aalamiin.
Momen pergantian tahun ini seharusnya tidak dilewati begitu saja dengan pawai obor atau terjebak dalam perayaan seremonial yang hampa makna. Detik-detik ini adalah waktu krusial untuk melakukan muhasabah (evaluasi total). Kita harus melihat kembali, dalam satu tahun ke belakang, sistem aturan apa yang mengendalikan hidup kita? Apakah kita masih ridho diatur oleh sistem warisan penjajah, ataukah kita sudah bersiap lahir batin untuk berhijrah total menuju satu-satunya sistem yang diridhai Allah, yaitu Syariat Islam.
Menelanjangi Sistem Jahiliah Modern: Akar Segala Masalah Umat
Banyak orang mengira bahwa istilah "Jahiliah" hanya merujuk pada era keterbelakangan masyarakat Arab kuno sebelum datangnya Islam, di mana orang-orang menyembah berhala batu dan mengubur hidup-hidup bayi perempuan. Ini adalah pemahaman yang dangkal. Secara maknawi-ideologis, Jahiliah adalah suatu kondisi di mana urusan manusia diatur oleh hukum-hukum buatan makhluk dan mencampakkan hukum dari Sang Pencipta (Allah SWT).
Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS Al-Ma'idah: 50).
Jika kita tarik garis realitas pada hari terakhir tahun 1447 H ini, sistem jahiliah modern bernama Kapitalisme-Sekuler tengah mencengkeram erat di hampir kebanyakan negeri-negeri kaum Muslimin termasuk di negeri kita ini Indonesia. Akibatnya, rentetan krisis tidak pernah berhenti menyiksa rakyat kecil:
- Sektor Ekonomi: Nilai tukar rupiah yang melemah di hadapan dolar AS berimbas langsung pada naiknya harga barang pokok di pasar. Ditambah lagi dengan kebijakan dzolim kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter yang memicu inflasi di semua lini.
- Sektor Birokrasi: Pejabat yang ditunjuk mengurus hajat hidup orang banyak dipilih bukan karena kompetensi, melainkan karena kedekatan politik ("orang dalam"). Kasus korupsi megaproyek seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyeret Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi bukti bahwa sistem pengawasan manusia sangat rapuh dan korup.
- Sektor Keamanan & Sosial: Perzinaan (bobogohan, khalwat, ikhtilat) dinormalisasi atas nama hak asasi. Akibat tidak adanya sanksi hukum Islam yang tegas, kehormatan, nasab, dan akal manusia rusak secara masif akibat minuman keras dan narkoba. Selain itu juga penjajahan dan genosida di hampir beberapa negeri-negeri kaum Muslimin seperti di Gaza, Palestina sampai saat ini masih terus terjadi.
Semua kekacauan ini terjadi karena kita masih bertahan di dalam kubangan sistem jahiliah. Mengapa kita sibuk mencari solusi pragmatis ke sana kemari, padahal akar masalahnya adalah karena kita enggan menjadikan Islam sebagai pemutus perkara?
Hijrah Hakiki: Berpindah dari Konstitusi Manusia Menuju Syariat Kaffah
Menyambut 1 Muharam 1448 H, makna "Hijrah" harus dikembalikan pada khitah sejarah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik tanpa arah, dan bukan pula sekadar perubahan kosmetik pada perilaku individu (seperti sekadar mengganti casing luar namun pemikiran masih sekuler).
Hijrah yang dilakukan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M adalah peristiwa politik-ideologis. Beliau berpindah dari Darul Kufr (Makkah) yang hukum-hukumnya diatur oleh kesepakatan kafir Quraisy, menuju Darul Islam (Madinah) di mana beliau mendirikan institusi negara untuk menerapkan syariat Islam secara total dan menyeluruh (kaffah).
Jelas dan mutlak, hanya syariat Islam yang diridhai oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan di bumi ini. Islam bukan hanya agama spiritual penyejuk hati di dalam masjid, melainkan sebuah Mabda (ideologi) sempurna yang mengatur urusan ekonomi, sosial, peradilan, hingga tata negara. Allah SWT berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS Ali 'Imran: 85).
Ketika kita menolak syariat Islam dan justru mengadopsi undang-undang sekuler buatan manusia atau memaksakan falsafah transisional yang multitafsir untuk membentengi kekuasaan, kita sedang mengundang kesempitan hidup di dunia dan kesengsaraan di akhirat.
Menepis Keraguan: Menghancurkan Mentalitas Kompromis (Mèncla-Mènclè)
Menjelang tahun baru ini, para pengemban dakwah dan syabab ideologis harus mengokohkan barisan. Kita tidak boleh memiliki mentalitas yang mèncla-mènclè (plin-plan atau lembèk) dalam menyuarakan kebenaran syariat. Ketika berhadapan dengan realitas perkuliahan, pekerjaan, keluarga atau tekanan sosial kemasyarakatan, pantang bagi seorang pejuang Islam untuk menggadaikan prinsip demi alasan "tidak enak" atau takut diberi cap negatif.
Label-label seperti "radikal", "ekstrem", atau "pemecah belah" adalah lagu lama yang sengaja dinyanyikan oleh kaum liberal untuk menakut-nakuti umat agar menjauh dari agamanya sendiri. Kita harus membalas narasi sesat tersebut dengan dakwah pemikiran yang tajam juga, akademis, dan berbasis dalil, tanpa menggunakan cara-cara kekerasan fisik yang menyelisihi metode (thariqah) Rasulullah ﷺ.
Penerapan syariat Islam secara kaffah bukanlah ancaman bagi kemanusiaan, melainkan jaminan terwujudnya Maslahah Dharuriyah—yaitu tegaknya keamanan, terlindunginya harta benda dari pencuri, terjaganya akal dari khamr, terpeliharanya kehormatan dari fitnah, serta terlindunginya nyawa manusia melalui hukum Qishash yang adil. Keberkahan ini akan dirasakan oleh seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin), termasuk warga non-Muslim, hewan, dan kelestarian alam yang hari ini hancur dieksploitasi habis-habisan oleh keserakahan korporasi demokrasi.
Resolusi 1448 H: Ambil Bagian dalam Perjuangan Ideologis
Saudaraku, para syabab dan kaum Muslimin yang dirahmati Allah...
Matahari tahun 1447 Hijriah akan segera tenggelam di ufuk barat pada sore hari nanti, nanti malam selepas Maghrib kita memasuki malam pertama di awal tahun baru 1448 Hijriyah. Besok, lembaran baru tahun 1448 Hijriah akan dibuka. Jangan biarkan diri kita memasuki tahun yang baru dengan status mental yang sama—menjadi penonton pasif yang membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran sistemik terus berjalan di negeri ini.
Jadikan momentum 1 Muharam 1448 H esok hari sebagai titik tolak resolusi iman kita untuk:
- Membersihkan Pemikiran: Buang jauh-jauh sisa-sisa paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme dari dalam benak kita.
- Mengokohkan Pendirian: Stop menjadi manusia yang mèncla-mènclè. Tegas dalam memisahkan yang hak dan yang batil, serta ketat dalam menjaga pergaulan dari aktivitas khalwat dan ikhtilat.
- Aktif dalam Barisan Dakwah: Bergabunglah dan gerakkan majelis-majelis ilmu ideologis untuk mencerdaskan umat dan menuntut penerapan hukum Allah secara institusional.
Selamat tinggal tahun 1447 Hijriah dengan segala lembaran duka sistem sekuler. Selamat datang fajar 1448 Hijriah, saatnya umat bangkit dan berhijrah secara total dari cengkeraman sistem jahiliah menuju tegaknya Syariat Islam secara Kaffah di muka bumi. []
Allahu Akbar !
Wallahu A'lam bish-Shawab.
Diterbitkan oleh: Aldy al-Jawi (mas AL)
Syabab, Ciamis Kota - West Java.




Posting Komentar untuk "1 HARI LAGI MENUJU TAHUN BARU ISLAM 1448 H: SAATNYA HIJRAH DARI SISTEM JAHILIYAH MENUJU SISTEM YANG DIRIDHOI ALLAH‼️"