Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Rasulullah ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau yang istiqamah hingga akhir zaman.
Saudaraku kaum Muslimin yang dirahmati Allah...
Setiap manusia dianugerahi waktu malam yang sama, namun mereka memanfaatkannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memilih tidur lebih awal setelah Isya supaya malamnya bisa bangun untuk solat tahajud, dan ada pula yang begadang hingga larut malam. Namun, sebuah pertanyaan besar patut kita renungkan bersama: Untuk apa waktu malam itu kita gunakan?
Sebagian besar manusia menghabiskan malamnya untuk hiburan yang sia-sia—hanyut dalam permainan gim, menonton video tanpa manfaat, atau sekadar mengobrol kosong tanpa tujuan di pos-pos ronda maupun media sosial. Namun, di sudut malam yang sepi, ada sebagian kecil manusia yang memilih jalan yang sama sekali berbeda. Mereka menjadikan malamnya sebagai ladang perjuangan yang nyata.
Di saat manusia terlelap dalam tidur dan mimpi-mimpinya, disuatu daerah ada seorang syabab (pemuda) nah para syabab dan pejuang dakwah ini bergerak senyap. Mereka bergerilya dari rumah ke rumah, dari masjid ke masjid, menyelipkan buletin dakwah Kaffah di bawah pintu, menaruhnya di teras rumah, atau menyusunnya dengan rapi di rak-rak masjid setiap malam Jum'at dini hari. Langkah kaki mereka digerakkan oleh satu visi: menyampaikan risalah Islam dan menyadarkan umat bahwa kondisi dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja akibat dicampakkannya syariat Allah.
Keesokan paginya setelah shalat Subuh berjamaah, banyak orang terkejut melihat lembaran dakwah telah tersaji di hadapan mereka.
"Siapa ya yang menaruh ini?" tanya seseorang dalam hati.
Sebagian jamaah yang sudah paham mungkin akan menebak sambil tersenyum, "Hehe... pasti si fulan lagi."
Namun ketahuilah saudaraku, yang terpenting dalam aktivitas ini bukanlah siapa sosok yang menaruh lembaran tersebut. Yang paling esensial adalah pesan ideologis apa yang ingin disampaikan kepada umat melalui tulisan itu. Itulah seruan untuk bangkit dari keterpurukan!
------------------------------
DAKWAH ITU BUTUH KEBERANIAN
Menjadi pengemban dakwah yang menyuarakan kebenaran Islam secara kaffah bukanlah jalan yang bertabur fasilitas dan kenyamanan. Ini adalah jalan mendaki yang penuh dengan onak dan duri.
* Pejuang dakwah harus rela kehilangan waktu tidur dan istirahatnya.
* Pejuang dakwah harus menahan dinginnya terpaan angin malam demi umat.
* Pejuang dakwah harus siap menghadapi dinding cibiran, sinisme, dan prasangka.
Tidak sedikit di antara para aktivis dakwah ideologis hari ini yang mendapatkan stigmata negatif dari masyarakat maupun rezim. Mereka dicap dengan berbagai tuduhan keji: Radikal, Wahabi, Ekstremis, Fundamentalis, Anti-NKRI, bahkan dituduh sebagai Teroris!
Padahal, jika kita melihat dengan jernih, apa yang sesungguhnya mereka lakukan? Mereka tidak mengangkat senjata, mereka tidak merusak fasilitas umum. Mereka hanyalah menyampaikan ajaran Islam secara utuh, membongkar kebobrokan sistem sekuler, dan mengajak manusia untuk kembali tunduk pada hukum-hukum Allah SWT di segala lini kehidupan.
Ujian, tekanan, dan stigma seperti ini bukanlah hal yang baru. Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiallahu 'anhum terdahulu telah mengalami ujian yang jauh lebih berat, berdarah-darah, dan menguras air mata. Allah SWT telah menegaskan realitas ujian ini dalam firman-Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
"Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum mengetahui (nyata) siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar?" (TQS Ali Imran [3]: 142)
Dakwah memang mutlak membutuhkan keberanian yang luar biasa. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa perubahan peradaban tidak akan pernah lahir dari rahim orang-orang penakut, orang-orang yang hanya berdiam diri, atau mereka yang sekadar mengeluh tanpa melakukan aksi nyata.
------------------------------
MUSLIM SEJATI TIDAK PASRAH TERHADAP KERUSAKAN SISTEM
Hari ini, di hadapan pelupuk mata kita, terpampang nyata berbagai kerusakan multidimensi yang mencengkeram kehidupan umat Islam.
* Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS.
* Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi mencekik rakyat kecil.
* Utang negara membengkak tiada kendali, membebani generasi anak cucu.
* Angka pengangguran terus bertambah, memicu kriminalitas di mana-mana.
* Kemiskinan ekstrem masih menghantui jutaan nyawa di negeri yang kaya raya ini.
Anehnya, di tengah keterpurukan ekonomi dan kezaliman struktural ini, sebagian kelompok atau tokoh agama justru mengeluarkan narasi fatalistik:
"Sudahlah, tidak usah kritis terhadap kebijakan pemerintah. Yang penting rezeki kita sudah diatur oleh Allah."
Benar, secara akidah ritual, Allah SWT adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Namun, memotong pemahaman tawakal untuk membenarkan kepasrahan terhadap kerusakan sistemik adalah bentuk kecacatan berpikir yang fatal. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk bermental pecundang dan pasrah terhadap kemungkaran serta kerusakan aturan. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS Ar-Rum [30]: 41)
Kerusakan sistemik berupa kemiskinan dan ketidakadilan global saat ini terjadi karena manusia mencampakkan hukum Allah dan mengadopsi sistem kapitalisme sekuler. Kerusakan seperti ini bukan untuk didiamkan atau diterima dengan sabar yang salah tempat. Kerusakan ini harus diperbaiki! Kezaliman penguasa dan sistem kufur tidak boleh dianggap sebagai hal biasa; ia harus dilawan dan diubah dengan pemikiran serta cara-cara ideologis yang diridhai oleh Allah SWT.
------------------------------
TUGAS KITA ADALAH BERJUANG, BUKAN MENENTUKAN HASIL
Dalam menapaki jalan dakwah, tidak jarang kita menemui rintangan sosial yang menguji konsistensi keimanan:
* Kadang kala kita mengajak teman dekat untuk ikut berdakwah, namun kita ditolak mentah-mentah.
* Kadang kala kita mengajak masyarakat untuk datang mengaji dan mengkaji Islam, namun mereka tidak hadir.
* Kadang kala kita membagikan buletin dakwah ini dengan ikhlas, namun di depan mata kita buletin itu dibuang ke tempat sampah.
* Kadang kala kita menulis artikel opini Islam di media, namun tidak ada yang sudi membaca bahkan tak jarang akun sosial media kita terkena pembatasan, banned hingga diblokir.
Lantas, ketika semua penolakan itu terjadi, apakah perjuangan menegakkan kalimat Allah ini harus terhenti? Apakah kita harus menyerah dan mundur?
Sama sekali tidak!
Sebab, tugas seorang Muslim yang bermental pejuang bukanlah menentukan hasil akhir atau menghitung berapa banyak pengikutnya. Tugas mutlak kita dari Allah hanyalah berikhtiar dan menyampaikan kebenaran dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. Allah SWT menegaskan batas tugas tersebut dalam firman-Nya:
فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
"Karena sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah), sedangkan Kamilah yang akan menghisab mereka." (TQS Ar-Ra'd [13]: 40)
Hidayah untuk menerima kebenaran adalah hak prerogatif Allah. Keberhasilan dakwah dalam pandangan manusia adalah urusan Allah. Penerimaan atau penolakan manusia adalah di luar kendali kita. Sedangkan bergerak, mengetuk pintu-pintu hati manusia, dan berjuang mengubah keadaan—itulah wilayah yang menjadi urusan dan kewajiban kita yang akan dihisab kelak!
Ambillah pelajaran dari seorang petani. Ia akan tetap konsisten membajak sawah dan menanam padi, meskipun ia tahu tidak semua benih yang ia sebar akan tumbuh dengan sempurna. Demikianlah profil seorang pengemban dakwah sejati. Ia akan tetap teguh menyampaikan kebenaran Islam walau seluruh dunia mencelanya, dan walau tidak semua orang mau menerimanya.
------------------------------
JADILAH GENERASI PEJUANG YANG TANGGUH
Umat Islam saat ini sedang mengalami krisis multidimensi karena ketiadaan institusi politik global yang melindungi mereka. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mendidik kita untuk tidak menjadi pribadi yang lembek dan penakut. Beliau ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada masing-masingnya ada kebaikan." (HR Muslim no. 2664)
Kekuatan (al-quwwah) yang dimaksud dalam hadits ini bukan sekadar kekuatan fisik atau otot semata. Namun yang paling mendasar bagi pengemban dakwah adalah:
* Kuat Iman: Akidahnya menghujam, tidak goyah oleh iming-iming materi duniawi.
* Kuat Mental: Memiliki mentalitas baja, tidak jatuh karena makian, tidak terbang karena pujian.
* Kuat Kesabaran: Konsisten menapaki jalan dakwah walau pertolongan belum kunjung tiba.
* Kuat Pemikiran: Memiliki kesadaran politik dan pemikiran Islam yang jernih, mampu mengurai makar ideologi kapitalisme maupun komunisme.
* Kuat Keberanian: Berani menyuarakan yang hak itu hak dan yang batil itu batil di hadapan penguasa mana pun.
* Kuat Komitmen: Istiqamah memegang teguh syariat Islam secara totalitas (kaffah).
Peradaban umat Islam ini tidak membutuhkan lebih banyak penonton yang hanya bisa bersorak di pinggir lapangan atau komentator yang sekadar mengeluh di media sosial. Umat ini sedang menjerit membutuhkan kehadiran para pejuang! Pejuang yang berani melangkah, berani mengingatkan umat, tetap bergerak meskipun harus merangkak, dan tetap istiqamah memegang panji Islam meskipun dicemooh oleh lingkungannya.
------------------------------
HIKMAH PERJUANGAN
Janji Allah itu pasti, dan Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya. Pertolongan Allah untuk mengembalikan kejayaan Islam tidak akan pernah turun kepada orang-orang yang hanya berpangku tangan dan berdiam diri di zona nyaman mereka. Allah SWT menggariskan syarat turunnya pertolongan tersebut dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kaki-kaki kalian." (TQS Muhammad [47]: 7)
Ayat yang agung ini mengajarkan kita sebuah konsep kausalitas keimanan: bergeraklah menolong agama Allah melalui dakwah institusional, maka Allah yang akan mengintervensi realitas dengan memberikan kemenangan-Nya.
Mungkin kontribusi perjuangan kita hari ini terlihat sangat kecil dan sederhana di mata manusia—hanya berupa membagikan selembar Buletin Kaffah ini, hanya mengajak satu orang teman untuk ikut mengaji, atau hanya menulis satu artikel opini di media sosial. Namun, kita tidak pernah tahu dari langkah kecil dan keikhlasan yang kita rajut hari ini, bisa jadi Allah SWT menggunakannya sebagai wasilah untuk membuka pintu hidayah bagi jutaan manusia dan menjadi asbab tegaknya kembali institusi Khilafah.
------------------------------
PENUTUP: UKIR SEJARAHMU SEBAGAI PEJUANG!
Saudaraku kaum Muslimin, para syabab pengemban risalah...
Jangan pernah biarkan perjalanan hidup kita di dunia yang singkat ini mengalir begitu saja tanpa arti—hanya terjebak dalam siklus monoton: lahir, makan, tidur, bekerja mencari materi, lalu mati tanpa meninggalkan jejak perjuangan bagi agama ini. Itu adalah siklus hidup yang merugi.
Ukir dan tulislah sejarah hidupmu dengan tinta emas kebaikan. Jadilah seorang Muslim sejati yang memiliki mentalitas pejuang sejati, dan campakkan jauh-jauh mentalitas pecundang yang penakut serta oportunis! Sebab, sejarah perubahan peradaban besar di dunia ini tidak pernah ditulis oleh tangan-tangan orang yang penakut dan gemar mengeluh. Sejarah perubahan selalu ditulis dengan darah, keringat, dan air mata oleh mereka yang berani bergerak dan mendobrak kezaliman sistem.
Maka dari itu, teruslah melangkah di jalan dakwah ini. Jangan pernah berhenti menyeru kepada kebajikan dan penerapan syariat Allah. Teruslah mengetuk kesadaran umat. Jangan pernah lelah, jangan pernah mundur, dan jangan pernah goyah dalam memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi dengan cara yang benar, penuh dengan hikmah, serta murni ikhlas hanya demi mengharap ridha Allah SWT semata.
Penerapan Syariat Islam secara Kaffah dalam Naungan Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah adalah solusi mutlak bagi seluruh problem peradaban umat manusia.
Wallahu A'lam bish-Shawab. []
------------------------------


Posting Komentar untuk "JADILAH SEORANG MUSLIM BERMENTAL PEJUANG BUKAN PECUNDANG❗"