ADA APA DENGAN SALAFI⁉️



Pembahasan dalam lembaran buletin subuh hari ini sama sekali tidak ditujukan untuk menjelek-jelekkan atau mendiskreditkan kelompok Islam tertentu. Di dalam dakwah, mengkritik pemikiran bukanlah bentuk kebencian, melainkan manifestasi rasa cinta dan muhasabah (koreksi bersama).

      Tujuan utama kita adalah menyatukan seluruh elemen umat Islam. Apapun latar belakang mazhab, manhaj, maupun ormasnya—baik kelompok puritan seperti Salafi, Muhammadiyah, PERSIS, Jamaah Tabligh, Al-Irsyad, hingga kelompok tradisionalis maupun kultural seperti NU, FPI, dan komponen umat lainnya.

      Kita semua adalah saudara satu tubuh di bawah kalimat Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Lembaran ini hadir agar kita bisa duduk bersama, menyamakan persepsi, dan berjuang bahu-membahu untuk menegakkan kembali Deenul Islam secara utuh di muka bumi.



Realitas Forum Jalsah Masail: Gugatan dari Ruang Diskusi Syabab Hizbt Tahrir

      Pada Sabtu malam Ahad Kliwon kemarin, yang bertepatan dengan malam ke-21 Dzulhijjah 1447 H (6 Juni 2026 M), sebuah diskusi hangat bergulir dalam forum Jalsah Masail (JM). Forum bulanan ini menjadi wadah bagi para syabab (pemuda), asatidz, kyai, dan senior untuk menelaah kondisi umat.

     Beberapa waktu yang lalu publik dikejutkan dengan pernyataan dari beberapa dai maupun ustadz dari kalangan Salafi ini yang menyatakan mengenai kenaikan dollar ini dan terkesan seperti pasrah dengan dalih  "rezeki sudah diatur oleh Allah." Tentu pernyataan semacam ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan kaum Muslimin karena dinilai seperti  pasrah dengan keadaan bahkan seperti terkesan pula membiarkan kedzoliman-kedzoliman yang dilakukan penguaa saat ini. Atas dasar itulah sehingga penulis menanyakan suatu hal.

Satu pertanyaan mendasar mengemuka di tengah forum: "Ada apa dengan Salafi?"

      Di satu sisi, kita harus jujur mengakui banyak kemiripan praktis antara harokah Hizbut Tahrir dengan saudara-saudara kita di manhaj Salafi. Kedua kelompok ini sama-sama memegang teguh batasan syariat dalam kehidupan sehari-hari:

  • Infishol (Pemisahan): Tegas menjaga jarak hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
  • Busana Muslimah: Tegas dalam kewajiban menutup aurat secara sempurna tanpa kompromi tren.
  • Walimah Syar’i: Menyelenggarakan pernikahan dengan pemisahan tempat tamu undangan agar terhindar dari ikhtilat (campur baur).

      Secara historis, semangat pemurnian tauhid dari penyakit Tahayul, Bid'ah, dan Churofat (TBC) juga memiliki kemiripan dengan akar pergerakan Muhammadiyah (berdiri 1912 M di Yogyakarta) dan Persatuan Islam atau PERSIS (berdiri 1923 M di Bandung), walau dengan tingkat ketatnya penerapan yang berbeda. Misal jika Salafi mengharamkan musik secara mutlak, sementara dalam Tarjih Muhammadiyah musik tidak langsung dihukumi haram. Inilah yang membedakannya: Salafi lebih ketat & tegas.

     Namun, ada satu paradoks besar yang sangat disayangkan: Mengapa di lingkungan Salafi jarang sekali, bahkan hampir tidak ada, pembahasan mengenai politik Islam dan kritik sistemik?



Akar Pemikiran: Mengapa Pembahasan Politik Absen?

      Melalui jawaban dan arahan dari para asatidz serta syabab senior dalam forum Jalsah Masail ini, fenomena absennya pembahasan politik di tubuh Salafi dapat diurai ke dalam tiga poin pemikiran utama:

1. Penerapan Konsep Wa Ulil Amri Minkum (Qs. An-Nisa:59) yang Parsial

     Manhaj Salafi umumnya langsung menerapkan kewajiban taat kepada penguasa saat ini secara mutlak, selama penguasa tersebut masih Muslim dan tidak melarang ibadah ritual dasar seperti shalat, puasa, dan zakat.

      Mereka kurang mengkaji secara mendalam: Sistem hukum apa yang sedang diterapkan oleh ulil amri tersebut? Ketika penguasa menerapkan sistem demokrasi sekuler dan mencampakkan hukum Allah, mereka tetap menganggapnya sebagai penguasa sah yang haram dikritik secara terbuka.

      Padahal Allah SWT memberikan peringatan keras dan tegas mengenai konsekuensi bagi siapa saja yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Islam:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (TQS Al-Ma'idah [5]: 44)


وَمَن لَّم تنبيه: وفي الآيات berikutnya Allah juga menegaskan:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (TQS Al-Ma'idah [5]: 45)


وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (TQS Al-Ma'idah [5]: 47)


2. Metodologi Perbaikan: Individu vs Sistem

      Fokus dakwah Salafi adalah perbaikan individu (tashfiyah dan tarbiyah). Prinsipnya: jika semua individu masyarakat sudah baik tauhidnya, maka dengan sendirinya negara akan menjadi baik.

      Pandangan ini mengabaikan fakta objektif bahwa aturan/sistem bersifat mengikat secara struktural. Jika sistem yang menaungi masyarakat rusak (seperti sistem ekonomi ribawi dan uang kertas berbasis dolar), individu yang saleh sekalipun akan tetap tergilas dan dipaksa ikut dalam lingkaran kemungkaran tersebut. Islam mengajarkan bahwa perbaikan harus berjalan serentak, baik pada level individu maupun perbaikan sistem aturan yang mengaturnya secara menyeluruh (kaffah):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (TQS Al-Baqarah [2]: 208)


3. Reduksi Konsep Tauhid

      Cara pandang tauhid yang diadopsi sering kali berhenti pada pemurnian zat dan sifat Allah (Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah secara ritual), namun kurang menekankan Tauhid Hakmiyah—yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pembuat Hukum (Asy-Syari'). Menolak hukum Allah dalam urusan politik dan ekonomi adalah bentuk pelanggaran tauhid yang sangat serius.


Mohon bantuannya untuk mengklik link ini sampai valid nggih: https://sfl.gl/GArmApDA (Link SafelinkU bukan link phising, kalau kliknya valid penulis mendapatkan Rp. 50 perak per klik. Mohon bantuannya🙏) 


Kontradiksi Nyata: Kasus "Pasrah" terhadap Kenaikan Dolar

      Seperti yang dipaparkan di paragraf awal tadi, muncul fenomena yang baru-baru ini viral di media sosial menjadi contoh nyata dari dampak cara pandang tersebut. Ketika nilai rupiah terpuruk menembus Rp17.400 hingga Rp18.000 per dolar AS, banyak dai dan ustadz dari kalangan Salafi mengeluarkan narasi:

"Allah yang menjamin rezekimu saat dolar 6.000, Allah juga yang menjamin rezekimu saat dolar 18.000. Rezeki sudah ada yang mengatur, jadi tidak perlu risau."

      Secara akidah ritual, kalimat ini benar. Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan tawakal adalah kewajiban mutlak bagi setiap Muslim. Namun, menjadikannya alasan untuk bersikap pasrah terhadap kehancuran ekonomi adalah sebuah kecacatan berpikir yang berujung pada kesempitan hidup. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (TQS Thaha [20]: 124)

      Narasi "pasrah" tersebut melahirkan kontradiksi besar. Di satu sisi mereka menolak demokrasi, namun di sisi lain mereka mendiamkan kebijakan zalim kapitalistik yang membuat umat sengsara.

      Keterpurukan ekonomi bukan semata takdir yang harus diterima dengan diam, melainkan kerusakan (fasad) akibat ulah tangan manusia yang mencampakkan syariat. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS Ar-Rum [30]: 41)



Kekayaan Alam dalam Syariat Islam

      Salah satu bentuk kerusakan sistemik saat ini adalah privatisasi sumber daya alam milik publik yang diserahkan kepada korporasi asing dan aseng. Sementara rakyat dibiarkan miskin dan tercekik harga kebutuhan yang melambung tinggi. Padahal, Rasulullah ﷺ telah menetapkan dengan jelas status kepemilikan umum ini dalam sabdanya:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23082)

      An-Nar (api) jika dimisilkan itu adalah mencakup seluruh sumber energi seperti minyak bumi, gas, tambang batubara, dan listrik. Menyerahtankannya pada swasta dan memungut pajak tinggi dari rakyat atas kepemilikan mereka sendiri adalah kezaliman sistemik yang wajib dikritik dan diubah!

      Sebagaimana sabda nabi:

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah–lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49).



Fragmentasi Internal dan Konteks Historis

      Perlu dipahami secara objektif bahwa gerakan Salafi tidaklah tunggal. Di Indonesia, dinamika internal mereka memunculkan berbagai faksi, secara umum terbagi menjadi kelompok Salafi Yamani/Madkhali (yang sangat ketat memutlakkan ketaatan pada penguasa), Salafi Haroki (yang mulai menyentuh ranah pergerakan dan organisasi), hingga Salafi Jihadis.

      Jika dirunut ke belakang, fokus gerakan ini tidak lepas dari pengaruh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di Semenanjung Arabia yang bekerja sama dengan keluarga Saud. Dokumen sejarah mencatat adanya kontradiksi dan perdebatan panjang mengenai periode ini. Sebagian sejarawan melihat gerakan pemurnian tersebut murni sebagai kebangkitan tauhid, namun sebagian analis sejarah lainnya melihat adanya celah geopolitik yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing (seperti Inggris pada masa runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani) untuk memecah belah kesatuan politik umat Islam dari dalam.

      Karena kemiripannya dengan Muhammadiyah dan PERSIS dalam hal fikih ibadah dan pembersihan syirik dan bid'ah, tidak jarang para aktivisnya juga bergerak silang di antara ormas-ormas tersebut di Indonesia demi menyebarkan gagasan pemurnian tauhid.



Solusi Hakiki: Menautkan Tawakal dengan Ikhtiar Politik

      Kita wajib menempatkan sesuatu pada porsinya. Rezeki memang sudah dijamin oleh Allah SWT, namun jaminan tersebut tidak pernah membebaskan kita dari tugas dan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan melenyapkan kezaliman sistemik.

     Mengkritik kebijakan penguasa yang mengadopsi sistem kapitalistik bukanlah tindakan melawan takdir, melainkan sebuah kewajiban muhasabah (koreksi) demi ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ ، فَقَتَلَهُ

"Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya." (HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 4884)



Seruan Hangat: Rumah Besar bagi Seluruh Komponen Umat

Wahai kaum Muslimin, para syabab, asatidz, dan para pencinta kebenaran!

      Kesempurnaan syariat Islam tidak akan pernah bisa diterapkan secara utuh (kaffah) jika kita hanya bergerak sendiri-sendiri secara parsial. Saatnya kita menyatukan kelebihan dari masing-masing kelompok:

* Mari kita ambil semangat pemurnian akidah dan ketegasan syariat praktis dari saudara-saudara kita di Salafi, Muhammadiyah, PERSIS dan lain-lain.

* Mari kita peluk erat kekayaan tradisi ilmu, adab, dan basis massa saudara kita di Nahdlatul Ulama (NU).

* Mari kita satukan dengan kesadaran politik Islam yang ideologis global yang selama ini diperjuangkan.

      Hizbut Tahrir senantiasa membuka pintu dan merangkul semua latar belakang tanpa terkecuali—baik puritan, tradisionalis, maupun awam sekalipun. Di dalam rumah besar dakwah ini, kita menyatukan potensi untuk melangkah bersama menuju satu tujuan agung: Penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah.

      Masa depan dunia tidak berada di bawah kendali dolar yang rapuh, melainkan di bawah naungan janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya. Mari berhenti saling menegasikan, mari bersatu mulai saling menguatkan, berjuang bebarengan!

      Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ 

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS. Muhammad : 7)


Wallahu A'lam bish-Shawab. []

Allahu Akbar.




Posting Komentar untuk "ADA APA DENGAN SALAFI⁉️"