Dalam mengarungi jalan dakwah yang penuh dengan duri dan ujian, seorang syabab atau pengemban dakwah dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang utuh (Syakhshiyah Islamiyah). Salah satu penyakit mental yang paling berbahaya dan wajib dihindari oleh para pejuang syariat adalah sikap mèncla-mènclè.
Secara etimologis dan penggunaan bahasanya, istilah mèncla-mènclè erat kaitannya dengan serapan istilah lokal (seperti dalam bahasa Sunda maupun Jawa) yang bermakna plin-plan, tidak konsisten, tidak memiliki pendirian yang teguh, serta perkataan dan perbuatannya mudah berubah-ubah tergantung situasi dan arah angin politik.
Seorang pengemban dakwah yang terjangkit sikap mèncla-mènclè adalah mereka yang hari ini berkata "A" di dalam majelis ilmu, namun besok pagi melakukan "B" di ranah realitas sosial. Di dalam khazanah dakwah ideologis, sikap plin-plan ini merupakan cerminan dari lemahnya tasdiq (pembenaran) terhadap pemikiran Islam yang telah dikajinya. Menjadi pengemban dakwah berarti siap menjadi jangkar umat yang kokoh, bukan menjadi umpan yang terombang-ambing di tengah lautan sekularisme.
Jeratan Ewuh Pakewuh: Ketika Prinsip Digadaikan Atas Nama "Gak Enak"
Tantangan terbesar dalam menjaga konsistensi prinsip sering kali bukan datang dari musuh dakwah yang nyata, melainkan dari lingkungan terdekat: rekan kuliah, rekan kerja, sahabat karib, bahkan anggota keluarga sendiri yang katakanlah mereka belum mendapatkan hidayah untuk ngaji dan belum memahami kewajiban menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah).
Seorang pengemban dakwah jelas sudah ngaji, sudah paham hukum, dan mengerti batasan halal-haram. Posisi ini menuntut kita untuk bertindak sebagai mushaddid (pemaham) yang menarik mereka keluar dari zona kemaksiatan, bukan sebaliknya—kita yang justru terseret dan larut ke dalam arus gaya hidup mereka yang permisif.
Sering kali, pendirian yang sudah dibangun kokoh seketika runtuh hanya karena kalimat-kalimat pemakluman psikologis seperti:
* "Gak enak, dia kan teman dekat saya sejak maba."
* "Tapi kan situasinya darurat, masa saya tega."
* "Lagian kan kita cuma rekan kerja, butuh profesionalitas."
Ambil contoh kasus nyata yang kerap terjadi di lingkungan kampus atau tempat kerja: Seorang pengemban dakwah yang matang tentu sangat paham hukum keharaman mendekati zina, yang mencakup larangan berdua-duaan (khalwat) dan campur baur pria-wanita tanpa hajat syar'i (ikhtilat), termasuk aktivitas pacaran (bobogohan). Prinsip ini seharusnya dipegang teguh tanpa ruang negosiasi atau kompromi sedikit pun!
Namun, akibat racun mental "tidak enakan" terhadap lawan jenis, prinsip tersebut perlahan mengalami degradasi (penurunan). Ketika seorang teman wanita di kampusnya meminta dibonceng pulang dengan sepeda motor, sang pengemban dakwah mulai mencari dalil-dalil pembenaran (justifikasi) untuk melegalkan pelanggaran hukum syara' tersebut:
* "Kasihan, dia tidak ada yang menjemput dan tidak ada tebengan lain."
* "Kan yang penting kami tidak pacaran, ini cuma tolong-menolong."
* "Toh selama di perjalanan kami tidak ngapa-ngapain, kok!"
[ Paham Hukum Syara' ] ──> Terkena Penyakit "Gak Enak" ──> Muncul Pembenaran (Justifikasi) ──> Melanggar Hukum (Ikhtilat/Khalwat)
Inilah awal mula kehancuran ideologis. Berdalih kemanusiaan dan rasa iba yang salah tempat, batasan syariat diterjang. Di sinilah letak kebenaran ungkapan bahwa pengemban dakwah yang mèncla-mènclè itu ibarat orang yang telah mengeluarkan ludah, namun karena kepentingan sesaat, ia menjilat kembali ludahnya sendiri. Sungguh sebuah pemandangan mental yang sangat menjijikkan di hadapan Allah SWT.
Ketegasan Bersikap: Berdiri Tegak di Bawah Aturan Allah
Seorang pengemban dakwah wajib memiliki bulat dalam prinsip dan tegas dalam bersikap! Ketegasan ini tidak boleh lembek hanya karena urusan mengejar karier, mempertahankan pekerjaan, menjaga relasi bisnis, atau demi meraih popularitas sosial di mata manusia. Jika suatu perkara telah ditetapkan keharamannya oleh hukum syara', maka sikap seorang Muslim ideologis adalah samina wa athana (kami dengar dan kami taat), tanpa tapi dan tanpa nanti.
Allah SWT secara tegas melarang hamba-Nya untuk mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, atau menyembunyikan kebenaran demi mencari selamat di dunia:
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (TQS Al-Baqarah: 42).
Ketegasan dalam memegang prinsip ini tentu saja tidak berarti mengabaikan dimensi adab dan akhlak. Sifat tegas (sharih) wajib dipadukan dengan penyampaian yang makruf dan santun. Namun, umat harus bisa membedakan antara beradab dalam menyampaikan dengan lembek dalam mempertahankan hukum. Kita wajib berwajah ramah dan berakhlak mulia saat berinteraksi, tetapi haram hukumnya mencairkan batasan hukum Allah demi menyenangkan hati manusia.
Menepis Stigma: Menghadapi Label "Fanatik" dan "Ekstrem"
Konsekuensi logis dari sikap lurus dan antipati terhadap kompromi ini adalah munculnya berbagai tekanan sosial dan stigmatisasi dari masyarakat yang telah terkontaminasi pemikiran liberal. Seorang pengemban dakwah yang enggan bersalaman dengan lawan jenis, menolak menghadiri acara yang penuh ikhtilat, atau konsisten menolak sistem ekonomi berbasis riba, pasti akan langsung dihujani pelabelan negatif:
* "Elu mah terlalu fanatik jadi orang, hidup gak usah kaku-kaku amat."
* "Pikiranmu terlalu ekstrem, radikal, tidak fleksibel dengan perkembangan zaman."
* "Sok suci lu, kayak yang paling bener aja hidupnya."
Menghadapi serangan verbal dan sosial seperti ini, mental pengemban dakwah tidak boleh ciut atau goyah. Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari telah memberikan kabar gembira sekaligus peringatan bagi orang-orang yang teguh memeluk agamanya di tengah keterasingan zaman:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu." (HR Muslim no. 145).
Dalam riwayat lain, digambarkan bahwa memegang teguh urusan syariat di akhir zaman layaknya menggenggam bara api; jika dilepaskan ia padam (hilang agamanya), jika digenggam terasa panas dan menyakitkan (penuh tekanan sosial). Namun, panasnya tekanan sosial di dunia jauh lebih ringan daripada panasnya siksa api neraka akibat mengabaikan syariat demi rida manusia.
Konklusi: Karakter Syabab Ideologis yang Dicintai Allah
Jalan dakwah untuk menegakkan kembali syariat Islam secara kaffah tidak membutuhkan barisan pejuang yang bermental kerupuk, yang mudah layu saat terkena air ujian, dan mudah mencair saat dihadapkan pada godaan duniawi. Kebangkitan umat hanya akan lahir dari tangan para pemuda yang memiliki karakter lurus, kokoh laksana karang di lautan, dan memiliki garis demarkasi yang jelas antara yang hak dan yang batil.
Mari kita evaluasi diri kita masing-masing pada hari ini. Buang jauh-jauh sikap mèncla-mènclè, plin-plan, dan mental kompromis. Jadikan setiap detak jantung dan langkah kaki kita murni berjalan di atas rel syariat-Nya. Ketika kita tegas pada hukum Allah, maka Allah-lah yang akan menjaga martabat, kehormatan, dan urusan duniawi kita dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Pendirian yang kuat adalah mahkota seorang pengemban dakwah. Tegak di atas prinsip syariat adalah bukti cinta tertinggi kepada Sang Khalik, meskipun seluruh manusia di bumi mencela dan menjauh.
Wallahu A'lam bish-Shawab. []


Posting Komentar untuk "BAGI SEORANG PENGEMBAN DAKWAH: PENTINGNYA PENDIRIAN/PRINSIP YANG KUAT, HINDARI SIKAP "MÈNCLA MÈNCLÈ"❗"