SYARIAT ISLAM BERLAKU UNTUK SEMUA ASPEK KEHIDUPAN, BUKAN HANYA UNTUK DI PESANTREN & MADRASAH SAJA

 


Hari ini masih banyak kaum muslimin yang memahami Islam hanya sebatas ibadah ritual saja. Seolah-olah Islam hanya berlaku di:

masjid, pesantren, madrasah, majelis taklim, atau saat pengajian saja. Sementara ketika keluar dari lingkungan agama, banyak yang merasa bebas hidup dengan aturan selain Islam.

Padahal Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:

> يَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.”

(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama setengah jadi. Islam bukan hanya mengatur sholat dan puasa saja, tapi juga: pendidikan, politik, ekonomi, pergaulan, hukum pidana, pemerintahan, hingga kehidupan sosial masyarakat.



ISLAM BUKAN HANYA UNTUK SANTRI 

Hari ini masih saja ada pengkotak-kotakan dalam memahami agama. Seolah-olah yang wajib serius menjalankan Islam hanyalah:

kyai, ustadz, santri, guru ngaji, atau orang pesantren.

Sementara yang lain merasa cukup “jadi muslim biasa”. Padahal setiap muslim yang sudah baligh dan berakal semuanya terikat hukum syara. Dan pada hakikatnya setiap Muslim adalah seorang da'i yang mempunyai kewajiban untuk dakwah seperti sabda nabi "Sampaikanlah walau satu ayat"

Dalam Islam setiap perbuatan manusia pasti ada hukumnya:

wajib, sunnah, mubah, makruh, haram.

Artinya Islam mengatur seluruh aktivitas manusia. Mau dia:

pedagang, pejabat, mahasiswa, petani, sopir, pegawai, konten kreator, santri, atau rakyat biasa, semuanya tetap wajib tunduk kepada aturan Allah SWT. Karena identitas seorang muslim bukan hanya saat di pesantren, tapi selama hidupnya.


FENOMENA “SANTRI TAPI SEKULER” 

Inilah problem besar hari ini.

Banyak yang bertahun-tahun mondok, mengkaji kitab, hafal berbagai pembahasan agama, namun setelah keluar pesantren justru terjebak gaya hidup sekuler.

Ada yang:

membuka aurat, meninggalkan kajian, kitabnya hanya tersimpan di lemari, hidup bebas tanpa arah, bahkan terseret pergaulan rusak.

Tak sedikit pula fenomena penyimpangan seksual dan LGBT yang berawal dari rusaknya pergaulan sejak muda.

Cowok memperlihatkan aurat sesama laki-laki dianggap biasa. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

> لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain dan jangan pula wanita melihat aurat wanita lain.”

(HR. Muslim No. 338)

Hari ini banyak orang belajar agama hanya sebatas teori, namun sistem kehidupan di luar tetap sekuler liberal. Akibatnya ilmu agama tidak diterapkan secara kaffah dalam kehidupan nyata.


KENAPA BANYAK KASUS PELECEHAN DI LINGKUNGAN AGAMA? 

Belakangan ini masyarakat kembali dibuat miris dengan berbagai kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum kyai atau pengasuh pesantren.

Mulai dari kasus di:

Pati, Jawa Tengah,

Sukabumi, Jawa Barat,

hingga berbagai daerah lainnya.

Bahkan ada kasus penyimpangan sesama jenis yang sangat memprihatinkan.

Ini menunjukkan bahwa kerusakan tidak cukup diselesaikan hanya dengan label “pesantren” atau “santri”.

Karena akar masalahnya lebih dalam: sistem kehidupan sekuler masih tetap dipakai.

Hari ini banyak orang mengaji agama, tapi dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan pendidikan masih memakai sistem buatan manusia.

Akibatnya ilmu agama sering berhenti di kitab, tidak diterapkan dalam kehidupan nyata.

Padahal rusaknya masyarakat sangat dipengaruhi rusaknya penguasa dan ulama yang cinta dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”

(HR. Al-Baihaqi)

Ketika ulama terlalu dekat dengan jabatan, harta dan kekuasaan, maka keberanian menyampaikan kebenaran perlahan melemah.


ISLAM KAFFAH HARUS DIKAJI DI MANA SAJA 

Islam kaffah bukan hanya untuk pesantren.

Mau itu:

sekolah (baik sekolah Islam ataupun sekolah umum), kampus (kampus Islam maupun kampus umum), masjid, pesantren, komunitas, atau masyarakat umum, semuanya wajib memahami Islam secara menyeluruh.

Karena Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah membatasi Islam hanya di ruang ibadah.

Rasulullah ﷺ membina umat dengan aqidah dan pemikiran Islam hingga terbentuk masyarakat Islam.

Dalam dakwah Islam juga dikenal:

tatsqif (pembinaan),

tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan umat),

menyebarkan pemikiran Islam kepada masyarakat.

Bukan dengan terorisme.

Bukan dengan kekerasan.

Bukan dengan kudeta.

Tapi dengan dakwah, pembinaan, argumentasi dan penyampaian opini Islam kepada masyarakat.

Namun propaganda sekuler sering menggambarkan perjuangan penerapan Islam seolah identik dengan radikalisme, hingga terorisme.

Padahal justru sistem sekuler kapitalisme hari ini yang melahirkan:

kerusakan moral, korupsi, ketimpangan, pelecehan, LGBT, narkoba, hingga rusaknya generasi muda.


SEKULARISME MEMISAHKAN ISLAM DARI KEHIDUPAN 

Inilah akar persoalan terbesar umat hari ini.

Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan.

Agama hanya boleh mengatur:

sholat, puasa, haji, pengajian (Itupun pengajian yang dibahas bukan persoalan umat kebanyakan)

Tapi tidak boleh mengatur:

negara, hukum, ekonomi, pendidikan, media, politik.

Akibatnya umat Islam kehilangan arah.

Padahal Allah SWT berfirman:

> وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”

(QS. Al-Ma’idah: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa hukum Allah wajib diterapkan dalam kehidupan.

Bukan hanya dibaca di kitab atau dijadikan pajangan ceramah.



■ HIKMAH & HARAPAN ■

Islam bukan agama ritual semata.

Islam adalah sistem hidup sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Karena itu umat Islam harus mulai meninggalkan cara berpikir sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Pesantren, sekolah, kampus dan majelis ilmu seharusnya bukan hanya mencetak orang yang pintar mengaji, tetapi juga melahirkan generasi yang siap menerapkan Islam secara kaffah.

Bukan hanya hafal kitab, tapi juga memahami bagaimana Islam mengatur:

masyarakat, ekonomi, pendidikan, politik, hingga negara.

Semoga Allah SWT menjaga umat Islam dari fitnah dunia, menjaga para ulama dari cinta jabatan dan harta, serta mengembalikan kesadaran umat bahwa syariat Islam bukan hanya untuk masjid dan pesantren, tetapi untuk seluruh kehidupan manusia.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "SYARIAT ISLAM BERLAKU UNTUK SEMUA ASPEK KEHIDUPAN, BUKAN HANYA UNTUK DI PESANTREN & MADRASAH SAJA"