Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi hari ini, justru kita menyaksikan sesuatu yang sangat miris: manusia semakin mudah dibodohi. Akal sehat mulai tumpul. Banyak orang lebih sibuk memikirkan hiburan, fanatisme golongan, tim sepak bola, artis, dan tren media sosial daripada memikirkan halal-haram kehidupan yang sedang dijalani setiap hari.
Hari ini kita melihat manusia rela begadang demi pertandingan bola, rela konvoi sampai membahayakan nyawa, rela fanatik mati-matian kepada klub sepak bola, tetapi sangat sedikit yang mau serius mempelajari Islam, memahami hukum riba, atau memikirkan kondisi umat Islam hari ini.
Padahal Allah SWT sudah memperingatkan:
﴿ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾
"Tidakkah kalian menggunakan akal?"
(QS. Al-Baqarah: 44)
FANATISME: IKATAN RENDAH YANG MENUMPULKAN AKAL
Hari ini manusia mudah sekali terbakar emosi karena fanatisme. Ada yang fanatik terhadap kelompok, ormas, partai, suku, negara bahkan tim sepak bola. Ketika timnya menang, jalanan penuh konvoi, teriakan, kemacetan bahkan tak jarang bercampur dengan kemaksiatan; campur baur laki-laki dan perempuan, mabuk-mabukan, kerusuhan dan mengganggu masyarakat lain.
Padahal Islam melarang fanatisme buta (‘ashabiyah).
Rasulullah ﷺ bersabda:
﴿ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ ﴾
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan." (HR. Abu Dawud)
Dalam Kitab Nizhamul Islam, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa ikatan nasionalisme dan fanatisme adalah ikatan rendah yang muncul ketika pemikiran manusia merosot. Bahkan ikatan semacam ini juga tampak seperti binatang yang hanya membela kelompoknya berdasarkan naluri semata.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh kehilangan akal sehat hanya karena fanatik terhadap sesuatu selain Islam. Suka boleh, tetapi fanatik berlebihan hingga melupakan syariat adalah kebodohan!.
Fanatik itu kepada Islam, bukan kepada kelompok, tim, organisasi ataupun simbol duniawi lainnya.
RIBA DIANGGAP BIASA, INILAH BUKTI PEMBODOHAN
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hari ini riba sudah dianggap biasa. Banyak masyarakat meminjam uang ke bank keliling, bank emok, rentenir dan lembaga ribawi lainnya tanpa rasa takut kepada Allah SWT. Bahkan ada yang menganggap pekerjaan di lembaga ribawi sebagai sesuatu yang wajar dan halal selama menghasilkan uang.
Padahal Allah SWT telah mengumumkan perang terhadap riba.
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kalian benar-benar beriman. Jika kalian tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian." (QS. Al-Baqarah: 278-279)
Mirisnya, sebagian manusia hari ini lebih takut miskin daripada takut kepada azab Allah. Inilah akibat sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Manusia dididik hanya untuk menjadi pekerja sistem, bukan menjadi hamba Allah yang berpikir dengan Islam.
Pendidikan hari ini memang kebanyakan hanya diarahkan agar manusia:
1.) sekolah,
2.) lulus,
3.) kerja,
4.) cari uang,
5.) lalu tunduk pada sistem ribawi.
Akibatnya, lahirlah generasi yang pintar mencari dunia tetapi bodoh memahami halal-haram.
KEBODOHAN INI BUKAN KEBETULAN, TAPI SISTEMIK
Kondisi ini bukan sekadar “zaman sudah rusak”. Ada sistem yang memang membuat manusia sibuk, lalai dan jauh dari Islam kaffah. Manusia dibuat lelah bekerja, sibuk mengejar dunia dan terus dijejali hiburan tanpa henti agar tidak sempat berpikir tentang perubahan hakiki.
Allah SWT berfirman:
﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ﴾
"Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)
Karena itu, solusi umat bukan sekadar ceramah motivasi atau hiburan Islami semata. Umat harus dikembalikan kepada pola pikir Islam. Umat harus diajak berpikir benar tentang hidup, tentang tujuan penciptaan manusia dan tentang kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani رحمه الله berkata:
"Kebangkitan manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta dan manusia."
TUGAS PENGEMBAN DAKWAH: MENGAJAK UMAT BERPIKIR
Di zaman penuh kebodohan sistemik seperti hari ini, tugas pengemban dakwah memang tidak mudah. Ketika mengajak umat berpikir, sering kali justru dicap aneh, radikal, sok alim bahkan dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat.
Padahal para nabi terdahulu pun mengalami hal yang sama.
Tapi njenengan gak usah khawatir karena Allah SWT berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." (QS. Muhammad: 7)
■ PENUTUP ■
Karena itu, tugas kita adalah terus berdakwah dengan sabar, mengajak umat berpikir, menyampaikan Islam dengan hikmah dan terus melawan arus kebodohan yang sedang dipelihara sistem hari ini.
Sebab Islam diturunkan bukan untuk membiarkan manusia tetap bodoh, tetapi untuk memuliakan dan mencerdaskan manusia dengan cahaya wahyu.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.




Posting Komentar untuk "⚠️ SISTEM YANG MENGATUR KEHIDUPAN KITA SAAT INI ADALAH SISTEM PEMBODOHAN‼️"