SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA


Hari ini, 1 Juni 2026 M, tertulis di kalender sebagai hari libur nasional memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagian masyarakat mungkin menyambutnya sekadar sebagai tanggal merah, sebagian lagi memaknainya sebagai momentum mengenang lahirnya dasar negara Indonesia.

Namun menariknya, semakin seseorang mempelajari sejarah, semakin ia sadar bahwa lahirnya Pancasila ternyata bukanlah kisah sederhana sebagaimana yang diajarkan di buku sekolah. Ia lahir dari perdebatan panjang, pertarungan ide, kompromi politik, bahkan tarik-menarik antara kelompok Islam dan kelompok sekuler sejak sebelum Indonesia merdeka.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengenal sejarah ini secara utuh. Bukan untuk membenci negeri sendiri. Bukan pula untuk membuat kekacauan. Tapi agar kita memahami bagaimana perjalanan umat Islam di negeri ini, bagaimana para ulama dahulu memperjuangkan Islam sebagai dasar kehidupan, dan bagaimana akhirnya lahir sebuah negara kompromi bernama Republik Indonesia ini.



PANCASILA: DASAR NEGARA ATAU IDEOLOGI? 

Kalau soal kreativitas, bangsa Indonesia memang juaranya. Termasuk dalam urusan meramu istilah.

Awalnya, Pancasila hanyalah dasar falsafah negara. Semacam titik temu setelah perdebatan panjang antara kelompok Islam dan nasionalis sekuler.

Namun lama-lama, Pancasila “naik pangkat” menjadi sesuatu yang seolah mengatur semua aspek kehidupan.

Muncullah istilah:

Ekonomi Pancasila

Demokrasi Pancasila

Politik Pancasila

Moral Pancasila

Budaya Pancasila

Pelajar Pancasila

Bahkan sampai “Ilmu Pancasila”

Seolah semua hal tinggal ditempeli kata “Pancasila” maka otomatis menjadi benar dan sakral.

Padahal kalau dibedah lebih dalam, sebagian besar itu hanyalah campuran teori luar negeri yang diberi stiker lokal.

Misalnya:

Kapitalisme → diberi nama “Ekonomi Pancasila”

Demokrasi Barat → diberi nama “Demokrasi Pancasila”

Ibarat merakit motor dari sparepart impor, lalu ditempeli stiker “produk asli Nusantara”.

Padahal ideologi besar di dunia itu sebenarnya hanya tiga:

1. Kapitalisme

2. Sosialisme/Komunisme

3. Islam

Karena ideologi itu bukan sekadar kumpulan slogan.

Dalam kitab Nizhamul Islam dijelaskan bahwa ideologi (mabda’) harus memiliki:

Fikrah → konsep pemikiran

Thariqah → metode penerapan

Serta ada dakwah yang mengembannya ke seluruh penjuru dunia.

Islam punya itu semua. Kapitalisme punya itu. Komunisme juga punya.

Sedangkan Pancasila?

Ia lebih tepat disebut falsafah atau titik kompromi nasional, bukan ideologi lengkap yang memiliki sistem rinci kehidupan.



KENAPA DULU BANYAK ORMAS ISLAM MENOLAK PANCASILA? 

Banyak generasi sekarang mengira sejak awal umat Islam menerima Pancasila dengan penuh suka cita.

Padahal sejarah berkata lain.

Dalam sidang-sidang Konstituante, tokoh-tokoh Islam dari:

Muhammadiyah

NU

Persis

Perti

Masyumi

Al-Irsyad

bersatu memperjuangkan agar Islam menjadi dasar negara.

Mereka bukan anti Indonesia.

Justru mereka merasa Islam adalah ajaran sempurna yang mampu mengatur kehidupan bernegara.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ 

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu... (Qs. Al-Maidah ayat 48)


وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir."

(QS. Al-Ma’idah: 44)

Dan juga:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?"

(QS. Al-Ma’idah: 50)

Karena itulah para tokoh Islam dahulu sangat serius memperjuangkan syariat dalam konstitusi.



PIAGAM JAKARTA DAN TUJUH KATA YANG DIHAPUS 

Dalam sidang BPUPKI, akhirnya lahir kompromi bernama Piagam Jakarta.

Di dalamnya terdapat kalimat:

“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Ini adalah hasil perjuangan panjang tokoh-tokoh Islam seperti:

K.H. Wahid Hasyim

Ki Bagus Hadikusumo

K.H. Abdul Kahar Muzakkir

Abikusno Tjokrosujoso

dan lainnya.

Namun sehari setelah kemerdekaan, tujuh kata itu dihapus.

Banyak tokoh Islam akhirnya kecewa.

Mohammad Natsir sampai berkata:

“Tanggal 17 Agustus kita mengucapkan hamdalah. Tanggal 18 Agustus kita istighfar.”

Sejarah ini penting diketahui agar umat memahami: bahwa perjuangan syariat Islam di Indonesia bukan barang baru. Ia sudah diperjuangkan sejak awal republik ini berdiri.



MASA ORDE BARU: PANCASILA MENJADI ASAS TUNGGAL 

Tahun 1982–1985 menjadi masa berat bagi banyak ormas Islam.

Pemerintah Orde Baru mewajibkan semua organisasi memakai asas Pancasila.

Kalau tidak? Terancam organisasinya dibubarkan.

Akhirnya banyak ormas berada dalam posisi sulit:

mempertahankan dakwah

atau dibubarkan negara

Di masa inilah:

HMI pecah menjadi DIPO dan MPO

Al-Irsyad pecah

Muhammadiyah mengalami konflik internal

NU juga mengalami perdebatan keras

Namun sebagian ulama memilih bertahan demi menjaga dakwah tetap hidup.

Karena mereka sadar: kalau seluruh gerakan Islam dibubarkan, umat justru makin lemah.



P4 DAN INDOkTRINASI ORDE BARU 

Di zaman Orde Baru, Pancasila bukan lagi sekadar dasar negara.

Ia hampir diperlakukan seperti “agama negara”.

Semua warga harus ikut:

Penataran P4

Hafalan butir-butir Pancasila

Indoktrinasi ideologi negara

Bahkan sampai:

cara berpakaian

model rambut

musik

organisasi

cara berpikir

semua diukur dengan tafsir “Pancasilais”.

Lucunya, humor Gus Dur pernah menyindir hal ini.

Konon ada gajah mengamuk di Aceh.

Lalu seseorang membisikkan: “Kalau kamu nggak pergi, nanti disuruh ikut Penataran P4.”

Gajahnya langsung kabur.

Humor ini menunjukkan betapa masyarakat saat itu merasa jenuh dengan indoktrinasi negara.



PANCASILA BISA DITAFSIR KE MANA-MANA 

Inilah yang membuat sebagian aktivis Islam mengkritik Pancasila.

Karena sifatnya sangat multitafsir.

Contohnya:

Bung Karno mengatakan PKI tidak bertentangan dengan Pancasila

Orde Baru mengatakan PKI musuh Pancasila

Berarti: Pancasila bisa ditafsir ke kiri maupun ke kanan.

Bahkan:

kapitalis merasa cocok

sosialis merasa cocok

nasionalis merasa cocok

Islamis juga mencoba mencocokkannya

Karena memang sifatnya sangat luas dan fleksibel.

Sedangkan Islam tidak demikian.

Islam memiliki aturan yang jelas:

halal dan haram

riba dan non-riba

hudud

zakat

kepemimpinan

ekonomi

peradilan

pendidikan

Semua ada tuntunannya.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian."

(QS. Al-Ma’idah: 3)



TOKOH-TOKOH ISLAM DAN PERJUANGAN MEREKA 

Banyak sejarah umat Islam yang perlahan mulai dilupakan.

Padahal:

Sarekat Islam pernah menjadi organisasi terbesar di Nusantara

Muhammadiyah membangun ribuan sekolah

Nahdlatul Ulama dengan pesantrennya mencetak pejuang kemerdekaan

ulama memimpin perlawanan melawan penjajah

Buya Hamka pernah berkata:

“Yang menggerakkan perjuangan kemerdekaan bukan Pancasila, tapi Allahu Akbar!.”

Karena memang semangat jihad melawan penjajah tumbuh dari akidah Islam.

Bukan dari slogan nasionalisme semata.



PANCASILA DAN REALITAS HARI INI 

Pertanyaan pentingnya:

Kalau Pancasila benar-benar solusi sempurna, kenapa:

korupsi tetap merajalela?

hukum tajam ke bawah tumpul ke atas?

rakyat miskin masih banyak?

pengangguran masih akeh?

pendidikan mahal?

kebodohan merajalela?

birokrasi rusak?

riba merajalela?

Padahal semua pejabat mengaku Pancasilais.

Ini menunjukkan bahwa masalah bangsa bukan sekadar slogan.

Masalah bangsa adalah sistem kehidupan yang rusak.

Dan umat Islam wajib meyakini: syariat Allah adalah solusi terbaik.

Bukan karena fanatik. Tapi karena Allah Yang menciptakan manusia tentu paling tahu aturan terbaik untuk manusia.



ISLAM BUKAN SEKADAR AGAMA RITUAL 

Islam bukan hanya:

shalat

puasa

haji

Islam juga mengatur:

ekonomi

pendidikan

politik

hukum

sosial

peradilan

kepemimpinan

Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

"Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penjelas segala sesuatu."

(QS. An-Nahl: 89)

Karena itu, wajar jika sebagian umat Islam terus mendakwahkan penerapan syariat secara kaffah.



BELAJAR SEJARAH DENGAN JUJUR 

Kita tidak perlu membenci negeri ini.

Kita juga tidak perlu memaki-maki masyarakat.

Namun kita harus jujur pada sejarah.

Bahwa:

umat Islam pernah memperjuangkan syariat

Piagam Jakarta pernah disepakati

banyak ulama awalnya menolak Pancasila

penerimaan asas tunggal terjadi dalam tekanan politik Orde Baru

Sejarah harus dipahami apa adanya. Bukan dipoles agar enak didengar penguasa.



■ HIKMAH & HARAPAN ■

Sejarah mengajarkan bahwa umat Islam di Indonesia pernah sangat kuat ketika bersatu. Ya meskipun memang kembali bahwa sejarah tidak bisa dijadikan tolak ukur karena sejarah bisa diubah sewaktu-waktu sesuai kepentingan penguasa. Namun perlu digarisbawahi bahwa:

NU, Muhammadiyah, Persis, SI, Masyumi, Al-Irsyad dan lainnya dahulu sama-sama memiliki semangat besar memperjuangkan syariat Islam.

Maka hari ini, daripada sibuk saling menghina sesama Muslim, lebih baik umat:

memperdalam ilmu

memperbaiki akhlak

menguatkan dakwah

memperjuangkan keadilan

dan menghidupkan kembali semangat Islam kaffah dengan hikmah dan kesabaran

Karena perubahan besar tidak lahir dari emosi sesaat.

Ia lahir dari ilmu, kesabaran, dakwah, dan perjuangan panjang.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Semoga Allah selalu menjaga negeri ini, memberi hidayah kepada umat Islam, dan membimbing kita agar istiqamah di atas kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawab. []

Allahu Akbar.


Posting Komentar untuk "SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA"