Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Penulis menulis ini pada dini hari, di tengah malam yang sunyi ini, ketika sebagian manusia tertidur lelap dan sebagian lainnya masih sibuk dengan dunia masing-masing, ada satu pertanyaan besar yang seharusnya mengguncang hati kaum Muslimin:
Mengapa ketika kehilangan harta manusia langsung panik mencarinya, tetapi ketika syariat Islam hilang dari kehidupan justru banyak yang diam saja? 😔
Lihatlah realita hari ini.
Ada mahasiswa kehilangan map isi skripsi, langsung gelisah, takut wisuda tertunda, panik mencari ke sana kemari. Itu wajar, karena memang dianggap penting. Tetapi coba renungkan...
Sudah lebih dari satu abad umat Islam kehilangan institusi Khilafah Islamiyah, kehilangan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan, kehilangan perisai umat, kehilangan pemimpin tunggal kaum Muslimin...
Tapi berapa banyak yang benar-benar merasa kehilangan?
Berapa banyak yang menangis karena syariat Allah tidak diterapkan?
Berapa banyak yang sibuk mencarinya kembali? 😔
KHILAFAH RUNTUH, UMAT MULAI TERPECAH
Sejarah mencatat bahwa Khilafah Islam terakhir, yakni Khilafah Turki Utsmani, resmi diruntuhkan pada 3 Maret 1924 M atau 27 Rajab 1342 H. Khalifah terakhir saat itu adalah Sultan Abdul Majid II setelah sebelumnya kekuasaan dilemahkan oleh gerakan sekuler Mustafa Kemal Atatürk yang didukung Barat.
Sejak saat itu, Dunia Islam yang sebelumnya berada di bawah satu kepemimpinan mulai tercerai-berai menjadi negara-negara nasionalis dengan batas-batas buatan penjajah.
Padahal dahulu negeri-negeri Muslim bersatu. Dari Timur Tengah sampai Nusantara pernah terhubung dalam satu ikatan umat Islam. Namun setelah Khilafah runtuh:
umat dipecah menjadi negara-negara kecil,
nasionalisme ditanamkan,
syariat disingkirkan,
hukum Barat diterapkan,
dan sekularisme dijadikan dasar kehidupan.
Akibatnya?
Lihat sendiri kondisi umat hari ini 😔
Perang di mana-mana.
Kezaliman merajalela.
Korupsi dianggap biasa.
Riba menjadi sistem resmi negara.
Pendidikan hanya mencetak pekerja sistem.
Konten sampah memenuhi media sosial.
LGBT dan kerusakan moral semakin terang-terangan.
Umat Islam saling berpecah karena organisasi, mazhab, partai dan nasionalisme.
CERDAS MENCARI DUNIA, TAPI CUEK PADA AGAMA
Seorang ulama syech Andalusi pernah berkata:
“Di antara manusia ada yang seperti binatang dalam rupa manusia. Ia memiliki mata dan pendengaran, tetapi tidak digunakan untuk memahami agama Allah.”
Setiap hari Rabu malam Kamis dalam kajian tafsir Jalalain bersama kyai Abdul Rosyad atau pak Osad, beliau sering menyampaikan perkataan ulama asal Andalusia tersebut tentang manusia yang sangat cerdas dalam urusan dunia, tetapi bodoh dalam urusan agama.
Kalau motor hilang ➜ dicari.
Kalau uang hilang ➜ panik.
Kalau jabatan hilang ➜ dikejar mati-matian.
Kalau bisnis rugi ➜ langsung evaluasi.
Tapi ketika hukum Allah tidak diterapkan?
Ketika syariat Islam hilang dari kehidupan?
Ketika zina, riba, judi dan kemaksiatan merajalela?
Banyak yang justru diam.
Seolah itu bukan musibah 😔
Padahal Allah SWT memerintahkan:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS al-Baqarah [2]: 208)
Islam bukan hanya ritual salat dan puasa. Islam juga mengatur:
ekonomi,
pendidikan,
pemerintahan,
hukum pidana,
pergaulan,
media,
hingga politik luar negeri.
AKIBAT TIDAK DITERAPKANNYA SYARIAT
Ketika syariat Allah ditinggalkan, maka kerusakan pasti muncul. Allah SWT berfirman:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
“Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS al-Mā’idah [5]: 45)
Dalam ayat lain disebut juga:
فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ
“…mereka itulah orang-orang fasik.” (QS al-Mā’idah [5]: 47)
Bahkan ada pula ayat:
فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ
“…mereka itulah orang-orang kafir.” (QS al-Mā’idah [5]: 44)
Na‘udzubillāh 😔
Hari ini banyak hukum Allah tidak diterapkan:
qishash untuk pembunuh tidak ditegakkan,
potong tangan bagi pencuri tidak diterapkan,
hukum bagi pezina diganti hukum buatan manusia,
riba justru dijaga negara,
perjudian online tumbuh subur,
kemaksiatan dilindungi atas nama HAM.
Lalu mengapa manusia heran jika kekacauan terus terjadi?
PENGAJIAN BANYAK, TAPI UMAT BELUM BANGKIT
Ironisnya hari ini pengajian ada di mana-mana, tetapi banyak yang hanya berhenti pada ritual individual. Umat diajarkan sabar, tetapi tidak diajak memahami akar kerusakan sistemik.
Padahal Islam bukan sekadar agama masjid.
Islam adalah mabda’, ideologi kehidupan.
Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?” (QS al-Mā’idah [5]: 50)
Sistem kapitalisme sekuler hari ini telah melahirkan:
kebodohan massal,
krisis moral,
ketimpangan ekonomi,
rusaknya generasi muda,
dan umat yang jauh dari syariat.
Banyak yang pintar akademik, tetapi tidak paham Islam secara kaffah.
Gelar tinggi, tetapi takut bicara syariat.
Cerdas teknologi, tetapi tidak peduli hukum Allah 😔
UMAT HARUS MULAI BERPIKIR !!
Kaum Muslimin harus mulai berpikir jernih.
Kalau kehilangan syariat Islam tidak dianggap musibah, itulah tanda bahaya terbesar.
Karena ketika manusia sudah nyaman hidup tanpa hukum Allah, maka kerusakan akan dianggap biasa.
Riba dianggap normal.
Pacaran dianggap lumrah.
Aurāt dibuka dianggap modern.
LGBT dianggap hak asasi.
Korupsi dianggap tradisi.
Pejabat jalan-jalan pakai uang rakyat dianggap biasa.
Inilah jahiliyah modern 😔
Padahal Allah SWT telah memperingatkan:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَـٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
“Apakah kalian beriman kepada sebagian Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain?” (QS al-Baqarah [2]: 85)
Islam tidak boleh dipilih seperti prasmanan: yang cocok diambil, yang berat ditinggalkan 😔
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Umat Islam harus mulai sadar bahwa akar kerusakan hari ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga persoalan sistem kehidupan yang rusak.
Karena itu dakwah Islam kaffah harus terus disampaikan. Umat harus diajak berpikir, bukan sekadar diajak marah sesaat.
Kalau manusia begitu semangat mencari dunia yang hilang, maka seharusnya lebih semangat lagi mencari kembali kemuliaan Islam yang telah lama hilang dari kehidupan umat.
Mari mulai peduli:
peduli pada syariat,
peduli pada kondisi umat,
peduli pada dakwah,
dan peduli pada masa depan generasi Muslim.
Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia sementara Islam terus dijauhkan dari kehidupan tanpa kita sadari 😔
Semoga Allah membuka hati kaum Muslimin agar kembali mencintai syariat-Nya, merindukan persatuan umat dan terus memperjuangkan Islam dengan hikmah dan kesabaran.
وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمْرِهِۦ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS Yusuf [12]: 21)
Wallāhu a‘lam bishowāb.[]
Allahu Akbar.



Posting Komentar untuk "REALITA SAAT INI: KALAU KEHILANGAN HARTA, TAHTA, KARIER DAN JABATAN PASTI DICARI. TAPI KEHILANGAN SYARIAT ISLAM, KENAPA TIDAK DICARI? 😔"