Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Setelah kemarin umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah, kini kita memasuki hari-hari Tasyrik. Dalam kalender Hijriah Global Tunggal, hari ini telah masuk tanggal 11 Dzulhijjah 1447 H. Namun di beberapa negeri lain seperti Brunei Darussalam dan sebagian wilayah lainnya, hari ini masih tanggal 10 Dzulhijjah sehingga mereka baru melaksanakan salat Idul Adha hari ini.
Meskipun demikian, sebagai sesama Muslim kita tetap harus saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Sebab kaum Muslimin itu bersaudara. Namun perlu dipahami juga bahwa perbedaan semacam ini sejatinya bukan sesuatu yang ideal. Perbedaan penetapan kalender Hijriah yang terus berulang menunjukkan bahwa umat Islam saat ini memang belum memiliki satu otoritas global yang mampu menyatukan kaum Muslimin dalam satu keputusan kalender Hijriah. Inilah salah satu PR besar dakwah umat hari ini. Sedih nggih, wong bedanya hanya beberapa jam dengan Makkah, tapi bisa berbeda hari 😔.
APA ITU HARI TASYRIK?
Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini merupakan hari yang penuh keberkahan, hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah.”
(HR Muslim)
Disebut hari Tasyrik karena pada zaman dahulu kaum Muslimin menjemur daging kurban di bawah sinar matahari agar awet dan tahan lama. Dalam bahasa Arab, “tasyriq” berkaitan dengan proses penjemuran di bawah matahari.
Karena itu suasana hari Tasyrik biasanya masih terasa sangat hangat dengan nuansa Idul Adha. Takbir masih berkumandang, daging kurban masih dibagikan, keluarga masih berkumpul, dan umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍۚ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”
(QS al-Baqarah [2]: 203)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “ayyāmin ma’dūdāt” dalam ayat tersebut adalah hari-hari Tasyrik.
HARAM BERPUASA DI HARI TASYRIK
Di tengah semangat ibadah bulan Dzulhijjah, ada satu hal yang perlu diperhatikan: pada hari Tasyrik diharamkan berpuasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum.”
(HR Muslim)
Karena itu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah tidak boleh digunakan untuk puasa sunnah maupun puasa biasa, kecuali bagi jamaah haji tertentu yang memiliki ketentuan khusus dalam manasik haji.
Hikmahnya apa? Karena Islam bukan agama yang hanya menekankan ritual berat terus-menerus tanpa keseimbangan. Ada waktu untuk berpuasa, ada pula waktu menikmati nikmat Allah dengan rasa syukur. Islam itu seimbang, tidak berlebihan dan tidak mempersulit.
Makanya lucu juga kadang ada orang terlalu semangat ibadah tapi malah ngawur waktunya 😅. Niatnya baik, tapi tetap harus sesuai tuntunan syariat.
LALU BAGAIMANA DENGAN PUASA AYYAMUL BIDH?
Biasanya di pertengahan setiap bulan Hijriah terdapat puasa sunnah Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14 dan 15 Hijriah. Namun khusus bulan Dzulhijjah ada sedikit perbedaan.
Karena tanggal 13 Dzulhijjah masih termasuk hari Tasyrik dan diharamkan berpuasa, maka puasa Ayyamul Bidh di bulan Dzulhijjah hanya dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Dzulhijjah saja.
Hal ini dijelaskan oleh banyak ulama karena larangan puasa di hari Tasyrik lebih didahulukan daripada anjuran puasa Ayyamul Bidh.
Jadi jangan sampai bingung nggih 😄. Bulan Dzulhijjah tetap ada puasa Ayyamul Bidh, tetapi hanya dua hari saja karena tanggal 13 masih masuk hari Tasyrik.
SPIRIT TASYRIK: BANYAK DZIKIR, BUKAN BANYAK MAKSIAT
Hari Tasyrik seharusnya menjadi momentum memperbanyak dzikir dan rasa syukur kepada Allah SWT. Sayangnya di zaman sekarang banyak orang justru menjadikan momentum liburan dan hari raya sebagai ajang maksiat.
Ada yang pesta berlebihan, campur baur laki-laki dan perempuan, konser musik tak terkendali, konvoi ugal-ugalan bahkan mabuk-mabukan. Astaghfirullah 😔.
Padahal Allah SWT telah memberikan momentum mulia ini agar manusia semakin dekat kepada-Nya, bukan semakin jauh dari syariat-Nya.
Takbir yang terus dikumandangkan sejatinya mengandung pesan besar: bahwa Allah Maha Besar dan hukum Allah seharusnya lebih diagungkan daripada hawa nafsu manusia.
Allāhu Akbar bukan sekadar slogan musiman.
KONDISI UMAT: MASIH BANYAK KEZALIMAN
Di saat sebagian kaum Muslimin menikmati hari raya, jangan lupa juga bahwa saudara-saudara kita di berbagai negeri Islam masih hidup dalam penderitaan.
Di Palestina, darah kaum Muslimin masih tertumpah. Di berbagai negeri Muslim lainnya, kemiskinan, penjajahan ekonomi, kerusakan moral dan ketidakadilan masih terus terjadi.
Ironisnya, umat Islam yang jumlahnya miliaran justru masih terpecah belah oleh batas nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing negara.
Padahal ketika berhaji, seluruh umat memakai pakaian ihram yang sama, menghadap kiblat yang sama dan menyerukan kalimat yang sama:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah.”
Kalimat ini bukan hanya ucapan ritual jamaah haji, tetapi seharusnya menjadi simbol kesiapan umat Islam untuk tunduk total kepada aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.
HARI TASYRIK DAN PELAJARAN KEHIDUPAN
Hari Tasyrik juga mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang penuh syukur. Setelah ibadah besar seperti haji dan kurban, Allah memberikan waktu untuk menikmati nikmat-Nya.
Artinya, Islam tidak melarang manusia menikmati hidup. Yang dilarang adalah ketika kenikmatan itu membuat manusia lupa lalai terhadap perintah Allah SWT.
Makan boleh. Bahagia boleh. Liburan boleh. Tapi jangan sampai melalaikan dzikir, salat dan kepedulian terhadap kondisi umat.
Jangan sampai semangat dunia lebih besar daripada semangat dakwah dan perjuangan Islam.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Hari-hari Tasyrik mengajarkan kita tentang syukur, dzikir dan ukhuwah Islamiyah. Di tengah kondisi umat yang masih terpecah, semoga momentum Dzulhijjah ini menjadi pengingat bahwa umat Islam sejatinya adalah satu tubuh dan satu umat.
Semoga kaum Muslimin semakin sadar pentingnya persatuan, pentingnya kembali kepada syariat Islam secara kaffah dan pentingnya memiliki kepemimpinan umat yang mampu menyatukan kalender, hukum dan arah perjuangan kaum Muslimin sedunia.
Mari terus berdakwah dengan hikmah dan kesabaran. Sedikit demi sedikit kesadaran umat harus terus dibangun. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran berpikir.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, kurban kita, dzikir kita dan perjuangan dakwah kita.
وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمْرِهِۦ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
(QS Yusuf [12]: 21)
Wallāhu a‘lam bishowāb.



Posting Komentar untuk "🌙 MENGENAL “DINTEN TASYRIK”"