Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Pada hari yang mulia ini umat Islam kembali dipertemukan dengan hari kemenangan, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Hari dimana gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia:
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar walillahil hamd...
Hari ini jutaan kaum Muslimin melaksanakan shalat Idul Adha, menyembelih hewan kurban serta mengenang perjuangan agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sementara di tanah suci Makkah, jutaan jamaah haji sedang menyelesaikan rangkaian ibadah haji sebagai simbol ketundukan total kepada Allah SWT.
Namun pertanyaannya, apakah Idul Adha hanya sebatas ritual tahunan? Apakah kurban hanya sekadar menyembelih kambing dan sapi? Ataukah sebenarnya ada pesan besar tentang pengorbanan demi kebangkitan Islam?
KURBAN ADALAH SIMBOL KETAATAN TOTAL
Setiap Idul Adha, umat Islam selalu diingatkan pada kisah luar biasa Nabi Ibrahim AS. Ketika Allah SWT memerintahkan beliau untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS, beliau tidak membantah, tidak menolak, tidak berkata “mengapa”.
Allah SWT berfirman:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS Ash-Shaffat [37]: 107)
Ketaatan Nabi Ibrahim AS adalah bukti bahwa iman sejati bukan hanya di lisan, melainkan kesiapan untuk tunduk sepenuhnya kepada aturan Allah SWT.
Hari ini banyak manusia mengaku beriman, tetapi ketika syariat Allah berbenturan dengan kepentingan dunia, jabatan, ekonomi, pekerjaan, popularitas bahkan hawa nafsu, banyak yang memilih meninggalkan aturan Allah.
Ada yang tahu riba itu haram tetapi tetap dijalani.
Ada yang tahu aurat wajib ditutup tetapi malah dibuka.
Ada yang tahu hukum Allah lebih mulia tetapi malah membela sistem sekuler buatan manusia.
Padahal Allah SWT telah memperingatkan:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.”
(QS An-Nisa [4]: 65)
Idul Adha mengajarkan bahwa Islam bukan agama setengah-setengah. Islam menuntut ketaatan total.
ALLAHU AKBAR BUKAN SEKADAR UCAPAN
Hari ini manusia bertakbir. Masjid-masjid penuh dengan gema:
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Namun ironinya, kehidupan manusia justru lebih diatur oleh hukum buatan manusia daripada hukum Allah SWT.
Takbir seharusnya bukan hanya ucapan di lisan, tetapi keyakinan bahwa Allah Maha Besar di atas segalanya. Artinya aturan Allah harus lebih tinggi daripada ideologi sekuler, nasionalisme, kapitalisme maupun hawa nafsu manusia.
Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
(QS Al-An’am [6]: 162)
Maka Idul Adha seharusnya melahirkan kesadaran bahwa hidup ini bukan untuk mengejar dunia semata, melainkan untuk memperjuangkan kemuliaan Islam.
UMAT BESAR, TAPI TERPECAH
Idul Adha juga menunjukkan betapa besarnya umat Islam. Jutaan manusia dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa berkumpul di satu tempat yang sama: Makkah al-Mukarramah.
Mereka bertalbiyah bersama:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah...”
Mereka memakai pakaian ihram yang sama. Menghadap kiblat yang sama. Menyembah Tuhan yang sama.
Namun sayangnya, setelah musim haji selesai umat Islam kembali tercerai-berai oleh batas negara, fanatisme golongan dan kepentingan politik.
Padahal Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 103)
Hari ini umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar manusia. Kaya sumber daya alam. Kaya sejarah. Kaya peradaban. Tetapi lemah secara politik dan mudah dijajah karena tidak bersatu.
Palestina dijajah. Gaza dihancurkan. Darah kaum Muslim ditumpahkan. Tetapi dunia Islam masih sibuk mempertahankan nasionalisme dan kepentingan masing-masing.
Inilah akibat ketika umat meninggalkan persatuan Islam dan lebih memilih sistem buatan manusia.
KAPITALISME MELAHIRKAN KERUSAKAN
Sistem kapitalisme sekuler hari ini telah melahirkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat.
Manusia diukur dengan materi.
Pendidikan hanya dijadikan alat mencari kerja.
Riba dianggap biasa.
Kemaksiatan dinormalisasi.
Kezaliman penguasa ditutupi oleh hiburan dan propaganda media.
Bahkan umat sering dipecah oleh fanatisme sempit: fanatik partai, fanatik kelompok, fanatik suku bahkan fanatik klub sepak bola.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan.”
(HR Abu Dawud)
Karena itu kebangkitan Islam tidak cukup hanya dengan ritual ibadah individual. Umat membutuhkan perubahan besar dalam cara berpikir dan sistem kehidupan.
SAATNYA BERKURBAN DEMI KEBANGKITAN ISLAM
Hari ini umat Islam harus belajar dari Nabi Ibrahim AS.
Beliau rela mengorbankan apa yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah SWT.
Maka pertanyaannya sekarang:
Apa yang sudah kita korbankan demi Islam?
Apakah kita sudah mengorbankan waktu untuk dakwah?
Apakah kita sudah mengorbankan tenaga untuk membela umat?
Apakah kita sudah mengorbankan harta untuk perjuangan Islam?
Apakah kita sudah berani melawan arus kerusakan zaman?
Kebangkitan Islam membutuhkan pengorbanan. Tidak mungkin Islam kembali mulia jika umat hanya diam, sibuk dengan urusan pribadi dan takut menyampaikan kebenaran.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”
(QS Muhammad [47]: 7)
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Idul Adha bukan hanya tentang daging kurban.
Bukan hanya tentang pakaian baru.
Bukan hanya tentang libur dan perayaan.
Idul Adha adalah momentum untuk kembali menghidupkan semangat pengorbanan, ketaatan dan persatuan umat Islam.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah di jalan dakwah dan perjuangan Islam. Semoga Allah menyatukan kembali umat Islam dalam naungan syariat-Nya yang mulia serta mengangkat kehinaan umat ini menuju kemuliaan Islam yang hakiki.
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar walillahil hamd...
Wallahu a’lam bish-shawab. []



Posting Komentar untuk "IDUL ADHA: SAATNYA UMAT ISLAM BERKURBAN DEMI KEBANGKITAN ISLAM"