JALAN KEBENARAN ITU HANYALAH ISLAM

 

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Buletin Kaffah Edisi 443 (28 Dzul Qa'dah 1447 H / 15 Mei 2026 M)


Presiden Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak gentar menghadapi berbagai ejekan dan kritik terhadap kebijakan pemerintahannya. “Kita berada di jalan yang benar. Rakyat kita harus sejahtera,” ujarnya. Hal itu disampaikan di hadapan masyarakat nelayan saat meresmikan Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo, (9/5).

Pernyataan ini mengulangi apa yang pernah dia sampaikan sebelumnya, yakni dalam taklimat awal tahun, dalam rangkaian retret Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).

“Saudara-saudara percaya kita berada di jalan yang benar, di jalan membela keadilan, di jalan memberantas kemiskinan, di jalan menghilangkan kelaparan,” ujarnya. “Kita berada di jalan yang bersih, yang suci. Kita berada di jalan yang diridhai oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Jangan ragu-ragu,” lanjutnya.



Melawan Realita

Tentu saja semua kepala pemerintahan Indonesia mengklaim dirinya sudah berada di jalan yang benar dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka semua juga menyatakan pemerintahan mereka diridhai oleh Allah SWT dan sesuai dengan ajaran Islam. Namun semua klaim itu harus dibuktikan lewat kebijakan yang diambil dan dijalankan. Apakah mereka membuat kebijakan sesuai dengan aturan yang diridhai oleh Allah SWT? Ataukah justru banyak kebijakan mereka yang menabrak hukum-hukum-Nya?

Kaum Muslim di Indonesia harus jujur mengakui bahwa negeri ini sejak awal dikelola dengan menggunakan aturan-aturan yang bersumber dari ideologi Kapitalisme-sekuler. Bukan Islam. Berbagai kebijakan para penguasanya secara jelas membuktikan hal demikian. Utang Indonesia, misalnya, tidak pernah lepas dari sistem ribawi. Bahkan utang Indonesia sudah terlalu besar. Hari ini utang Indonesia per akhir Maret 2026 tembus Rp 9.920,42 triliun. Ini setara 40,75 persen dari PDB berdasarkan data resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu. Untuk membayar bunga cicilan utang ribawi yang haram itu, Pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran untuk bunga cicilan utang saja sebesar Rp 599,4 triliun.

Laporan Analisis Kritis Keberlanjutan Utang Indonesia 2026 yang disusun Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menyebutkan utang Pemerintah Indonesia yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 833,96 triliun. Ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah dan puncak pembayaran utang dalam periode 2025-2036. Lembaga kajian itu menyebut fenomena ini sebagai ‘tembok utang’ atau (debt wall), yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu.

Ironinya, utang Indonesia yang besar ini tidak mampu menurunkan angka kemiskinan. Menurut catatan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin Indonesia ada di urutan kedua se-Asia Tenggara. Diperkirakan oleh Bank Dunia jumlah warga miskin Indonesia mencapai 57,2% dari total penduduk.


Merapat ke AS

Secara politik luar negeri, Indonesia hari ini juga justru semakin terlihat manut pada kepentingan dan tekanan Amerika Serikat. Indonesia sudah terikat dengan perjanjian perdagangan dengan AS dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART), perjanjian militer Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) dan bergabung dengan Board of Peace (BoP).

Perjanjian ART dinilai banyak pihak merugikan Indonesia dan amat menguntungkan Amerika Serikat. Sebabnya, Indonesia harus membebaskan bea masuk untuk 99 persen produk asal AS. RI juga harus membeli produk asal AS sekitar Rp 190 triliun. Indonesia juga diwajibkan untuk membeli puluhan pesawat Boeing, yang menambah total pembelian mencapai Rp 557 triliun (sekitar $33 miliar AS).

Baik perjanjian dagang ART maupun perjanjian militer MDCP juga dinilai oleh banyak pihak membahayakan kedaulatan negara. Dalam ART, Indonesia harus mengikuti sikap AS untuk memblokade negara yang dianggap mengancam kepentingan mereka. Lalu MDCP memungkinkan Amerika Serikat untuk menjadikan Indonesia sekutu dalam menghadapi persaingan dengan China di kawasan Asia. Dicemaskan juga wilayah darat dan udara Indonesia akan dimanfaatkan untuk kepentingan fasilitas dan operasi militer Amerika.

Semakin jatuhnya Indonesia dalam kepentingan AS membuat keberpihakan Indonesia terhadap Gaza dan Palestina kian dipertanyakan. Apalagi Presiden Prabowo menyatakan bahwa pengakuan akan kemerdekaan Palestina juga harus dibarengi dengan menjamin keamanan negara Israel. Padahal selama ini negara Yahudi itu melakukan penjajahan dan kejahatan kemanusiaan yang keji, termasuk genosida.

Tidak aneh jika kemudian Indonesia menyatakan bergabung dalam Board of Peace yang dibentuk oleh Donald Trump. Padahal dalam BoP sama sekali tidak dimasukkan unsur perwakilan Palestina, khususnya Gaza. Sebaliknya, dalam BoP, Zionis Israel sebagai pelaku teror dan genosida justru punya wewenang menentukan nasib Gaza. Bahkan BoP punya wewenang untuk melucuti semua kelompok bersenjata yang melakukan perlawanan terhadap Israel.

Indonesia juga tidak mengecam serangan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan banyak penduduk sipil. Bahkan saat empat prajurit TNI yang sedang bertugas dalam pasukan UNIFIL di Libanon tewas akibat serangan Israel, tak ada kecaman langsung dari Presiden Prabowo terhadap Israel lalu menarik diri dari Board of Peace.

“Apakah semua kebijakan dan tindakan Pemerintah Indonesia tersebut di atas sudah berada di jalan yang benar? Jelas, tidak!”

Islam Standar Kebenaran

Ukuran kebenaran untuk seorang hamba, termasuk kepala negara, bukanlah klaim pribadi atau datang dari penilaian manusia, meskipun mereka para ahli dan terkemuka. Akan tetapi, seorang hamba dikatakan berada di atas kebenaran ketika terpenuhi dua syarat. Pertama: adalah mengimani Allah SWT secara haq dengan segala konsekuensinya. Salah satu konsekuensinya adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Pembuat hukum dan aturan kehidupan.

Allah SWT memperingatkan kaum Muslim agar tidak bersikap seperti Ahlul Kitab. Mereka enggan mengimani Allah SWT, tetapi menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai pembuat hukum selain Allah SWT. Allah SWT berfirman:

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَٰرَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan para rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah...”

(TQS at-Taubah [9]: 31).

Saat ayat ini dibacakan oleh Rasulullah saw. di hadapan Adi bin Hatim, yang saat itu masih memeluk agama Nasrani, dia protes. Dia mengatakan bahwa kaum Ahlul Kitab tidak pernah menyembah para rahib dan para pendeta mereka. Akan tetapi, Rasulullah saw. menegaskan,

“Memang benar. Akan tetapi, sesungguhnya para rahib dan para pendeta itu telah mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram bagi mereka, lalu mereka mengikuti ketetapan tersebut. Yang demikian adalah bentuk penyembahan mereka kepada para rahib dan para pendeta tersebut.”

(Lihat: Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkâm al-Qur’ân, 8/120. Maktabah Syamilah).

Bukan dinamakan keimanan yang sejati jika seorang Muslim masih meminggirkan aturan Allah SWT dan malah mengambil hukum-hukum buatan manusia. Misalnya, tak ada keraguan bahwa riba telah diharamkan oleh Allah SWT. Karena itu tidak boleh dengan dalih apa pun seorang Muslim mengambil utang ribawi, seperti berbagai bentuk pinjaman berbunga yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Allah SWT telah mengingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ۝ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ فَأْذَنُوا۟ بِحَرْبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah kaum Mukmin. Jika kalian tidak meninggalkan sisa-sisa riba itu maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian...”

(TQS al-Baqarah [2]: 278-279).

Kedua: Tanda seorang hamba berada dalam kebenaran dan mendapat ridha Allah SWT adalah dengan menerima dan mengikuti semua aturan-Nya. Penguasa dikatakan berada dalam kebenaran adalah saat dia menerapkan dan memberlakukan hanya syariah Islam sebagai aturan negara. Allah SWT bahkan telah menetapkan penguasa yang tidak menjalankan hukum-hukum-Nya sebagai kafir, zalim, atau fasik (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44-45, 47).

Termasuk di antara taat pada hukum-hukum Allah SWT adalah tidak memberikan jalan kepada negara-negara kafir untuk menguasai kaum Muslim. Karena itu haram membuat perjanjian dengan negara-negara kafir yang menguntungkan mereka dan membuat kaum Mukmin terpuruk. Seperti perjanjian utang, penguasaan SDA oleh asing, dll yang memudahkan mereka untuk menguasai kaum Muslim. Apalagi jika negara tersebut adalah negara kafir harbi fi’lan, yakni yang secara nyata memerangi kaum Muslim. Haram membuka hubungan apa pun dengan mereka. Amerika Serikat dan Israel termasuk negara kafir harbi fi’lan. Allah SWT berfirman:

وَلَن يَجْعَلَ ٱللَّهُ لِلْكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk mengalahkan kaum Mukmin.”

(TQS an-Nisa’ [4]: 141).

Seorang penguasa Muslim juga wajib meyakini hanya syariah Islam yang akan mengantarkan rakyat pada keberkahan Allah SWT. Mereka juga wajib meyakini bahwa hanya sistem peradilan Islam yang memberikan keadilan untuk rakyat. Sebabnya, tidak ada aturan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan aturan Islam.

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”

(TQS al-Maidah [5]: 50).

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []



ZIONIS YAHUDI MASIH MENEBAR TEROR, DUNIA ISLAM TERUS BERDARAH

Zionis Yahudi terus menumpahkan darah kaum Muslim di Gaza dan Lebanon. Anak-anak, wanita, dan warga sipil menjadi korban kebiadaban yang tiada henti. Gaza kembali menangis. Dalam 24 jam terakhir, kembali jatuh syuhada dan korban luka, sementara banyak jasad masih tertimbun reruntuhan karena ambulans dan tim penyelamat tidak mampu menjangkau lokasi akibat blokade dan kehancuran. Sejak 7 Oktober 2023, puluhan ribu kaum Muslim telah syahid dan ratusan ribu lainnya terluka. Dunia menyaksikan genosida, tetapi para penguasa dunia hanya diam atau sekadar mengutuk tanpa tindakan nyata.

Di Lebanon, agresi Zionis juga terus berlanjut meski ada gencatan senjata. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan diserang. Tenaga medis dibunuh. Ribuan rakyat menjadi korban dan jutaan hidup dalam ketakutan serta pengungsian. Semua ini menunjukkan bahwa Zionis Yahudi tidak mengenal kemanusiaan dan tidak menghormati hukum internasional yang mereka sendiri banggakan.

Sementara itu, perang Iran-AS/Israel terus memanas dan berpotensi menyeret kawasan ke perang besar. Amerika dan sekutunya terus menjaga dominasi mereka di negeri-negeri Muslim demi kepentingan politik, militer, dan energi dunia. Selat Hormuz menjadi titik panas karena berkaitan dengan jalur minyak global. Harga minyak naik dan dunia mulai merasakan dampaknya. Namun yang paling menderita tetap umat Islam yang negeri-negerinya dijadikan medan perang dan perebutan kepentingan kekuatan besar dunia.

Iran memang mampu bertahan dan memberi perlawanan sehingga Amerika tidak mudah menaklukkannya. Namun, Amerika masih jauh lebih kuat dalam militer, ekonomi, dan pengaruh global. Kekuatan Amerika bukan hanya senjata, tetapi juga sistem kapitalisme dunia, dominasi dolar, lembaga keuangan internasional, dan jaringan aliansi Barat seperti NATO. Selama negeri-negeri Islam masih tunduk pada sistem buatan Barat dan dipimpin penguasa yang loyal kepada Amerika, umat Islam akan terus menjadi korban penjajahan dan permainan politik global.

Karena itu, solusi hakiki bukan sekadar gencatan senjata atau diplomasi palsu, tetapi kebangkitan umat Islam untuk melepaskan diri dari dominasi Barat dan kembali bersatu dalam naungan Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Hanya dengan itulah darah kaum Muslim dapat dijaga, kehormatan umat dibela, dan penjajahan Zionis serta hegemoni Barat dihentikan. Allahu Akbar.

Hikmah

Rasulullah saw. bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

“Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, (yaitu): Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

(HR Malik). []

Posting Komentar untuk "JALAN KEBENARAN ITU HANYALAH ISLAM"