Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Hari ini kaum Muslimin kembali dipertemukan dengan salah satu hari paling agung dalam Islam, yaitu hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1447 H. Pada hari ini jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia sedang bersiap melaksanakan wukuf di Padang Arafah, sebuah rukun utama dalam ibadah haji yang menjadi simbol penghambaan total kepada Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu adalah Arafah.”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Hadits yang agung ini menunjukkan betapa penting dan mulianya momentum Arafah. Bahkan inti ibadah haji ada pada wukuf di Arafah. Namun ironisnya, di tengah momentum besar yang seharusnya menyatukan umat Islam sedunia, realitas hari ini justru menunjukkan bahwa umat masih tercerai-berai oleh sekat nasionalisme dan ego politik masing-masing negara.
Padahal jarak waktu Indonesia bagian barat dengan Makkah, Saudi Arabia sebagai pusat ibadah haji itu hanya sekitar empat jam. Ketika di Indonesia menjelang subuh, di Makkah masih sekitar dini hari. Secara logika sederhana pun terasa aneh jika jamaah haji di Makkah sudah wuquf Arafah dan merayakan Idul Adha, sementara sebagian negeri Muslim lain justru masih merasa belum masuk tanggal tersebut.
Hari ini saja kalender Hijriah masih berbeda:
Kalender Islam hari ini:
Muhammadiyah, HTI, NU, PERSIS, Kalender Kraton Jogja | Indonesia, Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, Palestina, dll:
➡️ 9 Dzulhijjah 1447 H
Brunei Darussalam, Thailand & Selandia Baru:
➡️ 8 Dzulhijjah 1447 H
Inilah salah satu bukti nyata bahwa umat Islam hari ini belum memiliki kepemimpinan tunggal yang menyatukan keputusan kaum Muslimin sedunia.
ARAFAH: MOMENTUM KETAATAN TOTAL
Hari Arafah bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah simbol ketaatan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Ketika jamaah haji bertalbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah…”
Kalimat itu sejatinya bukan hanya milik jamaah haji di Makkah. Kalimat itu adalah deklarasi kesiapan seorang Muslim untuk tunduk penuh terhadap seluruh aturan Allah SWT.
“Allahumma labbaik” bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesiapan menerima syariat Allah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan; ekonomi, pendidikan, politik, sosial hingga pemerintahan.
Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS al-Baqarah [2]: 208)
Sayangnya hari ini banyak manusia mengaku cinta Islam, tetapi menolak aturan Islam ketika dianggap tidak sesuai dengan hawa nafsu atau kepentingannya. Islam diterima hanya dalam ibadah ritual, tetapi ditolak ketika berbicara soal ekonomi tanpa riba, politik Islam, hukum Islam dan sistem kehidupan Islam.
Padahal Nabi Ibrahim as. telah memberikan teladan luar biasa tentang ketaatan total tanpa banyak “nanging” dan alasan.
NABI IBRAHIM AS DAN PENGORBANAN AGUNG
Setiap datang Idul Adha dan Arafah, umat Islam selalu diingatkan pada dua sosok mulia: Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as.
Allah SWT mengabadikan kisah keduanya ketika membangun Ka’bah:
وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِيمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
(QS al-Baqarah [2]: 127)
Nabi Ibrahim as. rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Beliau juga rela menyembelih putranya sendiri ketika diperintahkan Allah SWT. Semua dilakukan bukan karena logika manusia, melainkan karena iman dan ketundukan mutlak kepada Rabb semesta alam.
Dari sinilah ibadah haji mengajarkan bahwa iman sejati membutuhkan pengorbanan, kepasrahan dan ketaatan total kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ
“Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.”
(QS al-Baqarah [2]: 196)
PUASA ARAFAH DI TENGAH RUSAKNYA ZAMAN
Bagi kaum Muslimin yang tidak berhaji, Allah SWT memberikan hadiah luar biasa berupa puasa Arafah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR Muslim)
Namun puasa Arafah bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Di tengah rusaknya zaman hari ini, puasa Arafah seharusnya menjadi momentum muhasabah besar bagi umat Islam.
Hari ini manusia semakin jauh dari syariat Allah. Riba dianggap biasa. Maksiat dianggap hiburan. Aurat dipertontonkan. Kezaliman penguasa dianggap lumrah. Bahkan umat Islam sendiri mudah terpecah hanya karena perbedaan organisasi, mazhab, partai bahkan fanatisme kelompok.
Padahal jutaan manusia di Padang Arafah hari ini mengenakan pakaian ihram yang sama. Tidak ada perbedaan jabatan, ras, bangsa maupun status sosial. Semuanya berdiri sama di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.”
(QS al-Hujurat [49]: 10)
Tetapi realitas Dunia Islam hari ini justru penuh perpecahan. Palestina dibantai. Gaza dihancurkan. Umat Islam saling bermusuhan karena nasionalisme dan kepentingan politik. Negeri-negeri Muslim dipisahkan oleh batas negara buatan penjajah.
Akibatnya umat kehilangan kekuatan politik global dan mudah dipecah-belah.
HAJI: SIMBOL PERSATUAN UMAT
Ibadah haji sejatinya adalah gambaran nyata tentang persatuan umat Islam sedunia. Semua menghadap kiblat yang sama, bertalbiyah dengan kalimat yang sama dan menyembah Rabb yang sama.
Allah SWT berfirman:
وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ
“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS al-Hajj [22]: 27)
Momentum haji seharusnya melahirkan kesadaran bahwa umat Islam sebenarnya mampu bersatu. Dengan jumlah lebih dari dua miliar jiwa, sumber daya alam melimpah dan posisi geopolitik strategis, umat Islam sebenarnya bisa menjadi kekuatan besar dunia apabila bersatu di bawah kepemimpinan Islam.
Namun selama umat masih terjebak nasionalisme dan sistem kapitalisme sekuler, perpecahan akan terus terjadi.
Allah SWT telah memperingatkan:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 103)
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Momentum Arafah hari ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Islam bukan sekadar ritual ibadah pribadi. Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Puasa Arafah harus melahirkan ketakwaan. Haji harus melahirkan kesadaran persatuan umat. Talbiyah harus melahirkan kesiapan untuk taat total kepada Allah SWT.
Sudah saatnya umat Islam bangkit dari perpecahan, fanatisme sempit dan sistem kehidupan sekuler yang merusak. Umat harus kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup secara kaffah.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kaum Muslimin di hari yang mulia ini. Semoga Allah menyatukan hati umat Islam sedunia, mengangkat kehinaan kaum Muslimin dan mempertemukan umat kembali dengan kemuliaan Islam.
إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk agama Allah berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
(QS an-Nashr [110]: 1-3)
Wallāhu a’lam bish-shawāb. []
Allahu Akbar!



Posting Komentar untuk "🕋 AL HAJJU AL ‘ARAFAH 🕋"