HAJI & MOMENTUM PERSATUAN ISLAM

 



Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Hari ini mayoritas kaum muslimin di berbagai negeri memasuki 1 Dzulhijjah 1447 H. Bulan mulia yang identik dengan ibadah haji, kurban dan momentum ketakwaan.

Menariknya, tahun ini sebagian besar negeri dan ormas Islam terlihat kompak:

Muhammadiyah, NU, PERSIS, Hizbut Tahrir, Pemerintah Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, hingga Palestina, sama-sama menetapkan 1 Dzulhijjah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026 M. Sehingga hari raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M.

Namun ternyata perbedaan masih tetap terjadi.

Brunei Darussalam secara resmi menetapkan bahwa hilal tidak terlihat pada Ahad malam Senin kemarin sehingga mereka mengistikmalkan Dzulqo’dah menjadi 30 hari. Akibatnya, 1 Dzulhijjah di Brunei jatuh pada Selasa, 19 Mei 2026 M dan Idul Adha pada Kamis, 28 Mei 2026 M.

Ini menunjukkan satu hal penting:

selama umat Islam masih dibatasi sekat nasionalisme dan matla’ lokal, perbedaan penanggalan Hijriah akan terus berulang.

Baik Ramadhan, Syawal maupun Dzulhijjah atau bulan qomariyah lainnya.

Padahal Islam sejatinya mengajarkan persatuan umat.


HAJI: SIMBOL PERSATUAN UMAT ISLAM 

Ibadah haji memperlihatkan bagaimana Islam menyatukan manusia tanpa membedakan:

suku, bangsa, warna kulit, bahasa, maupun status sosial.

Semua memakai pakaian ihram yang sederhana. Semua menghadap kiblat yang sama. Semua bertalbiyah menyebut nama Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus.” (QS. Al-Hajj: 27)

Haji bukan sekadar ritual ibadah, tapi simbol nyata bahwa umat Islam sebenarnya bisa bersatu.


SATU UMAT, SATU AQIDAH, SATU KIBLAT 

Hari ini umat Islam sering dipecah:

karena batas negara, organisasi, politik, fanatisme golongan, bahkan perbedaan kecil dalam masalah furu’.

Padahal umat Islam punya:

satu Rabb, satu Nabi, satu Al-Qur’an, dan satu kiblat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.” (HR. Bukhari No. 2442, Muslim No. 2580)

Karena itu, momentum Dzulhijjah ini harus menjadi pengingat bahwa persatuan umat Islam tidak dibangun di atas nasionalisme, tetapi di atas aqidah Islam.


TANPA PERSATUAN POLITIK, UMAT AKAN TERUS BERBEDA 

Perbedaan awal bulan Hijriah hari ini sejatinya bukan sekadar masalah teknis hisab atau rukyat semata.

Akar masalahnya adalah umat Islam hari ini tidak lagi memiliki satu kepemimpinan global yang menyatukan keputusan kaum muslimin.

Setiap negara berjalan sendiri-sendiri.

Setiap pemerintah memakai standar sendiri.

Akibatnya umat Islam terus terpecah, bahkan untuk menentukan hari raya sekalipun.

Padahal dahulu kaum muslimin pernah hidup di bawah satu kepemimpinan Islam yang mempersatukan umat dari berbagai bangsa.

Hari ini justru nasionalisme membuat umat Islam tersekat batas negara.

Inilah mengapa persatuan umat bukan cukup hanya slogan “ukhuwah”, tetapi membutuhkan penerapan Islam secara kaffah dalam kehidupan.


JANGAN HANYA SEREMONI 

Sayangnya banyak kaum muslimin hari ini hanya mengambil sisi seremonial dari haji dan Idul Adha.

Padahal pengorbanan Nabi Ibrahim AS mengajarkan totalitas ketaatan kepada Allah SWT.

Islam bukan hanya mengatur:

haji, kurban, sholat, dan puasa,

tetapi juga mengatur:

politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Karena itu Islam tidak boleh hanya dijadikan simbol ritual, tapi harus diterapkan secara menyeluruh.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Momentum Dzulhijjah ini semoga menjadi pengingat bahwa umat Islam sejatinya adalah satu tubuh dan satu saudara.

Perbedaan kecil jangan sampai membuat umat terus terpecah, sementara musuh-musuh Islam terus bersatu melemahkan kaum muslimin.

Semoga umat Islam kembali sadar pentingnya persatuan di atas aqidah Islam, bukan di atas nasionalisme dan batas buatan manusia.

Dan semoga suatu hari umat Islam benar-benar memiliki kalender Hijriah yang bersatu, sebagaimana umat ini dahulu pernah dipersatukan oleh kepemimpinan Islam.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "HAJI & MOMENTUM PERSATUAN ISLAM"