Segala puji hanya milik Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan akhir bulan Dzulqo’dah 1447 Hijriah. Tinggal menghitung jam, umat Islam di seluruh dunia insyaAllah akan memasuki bulan mulia: bulan Dzulhijjah, bulan ibadah haji, bulan qurban, bulan takbir dan bulan pengorbanan.
Sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat dan seluruh umat beliau hingga akhir zaman.
Menariknya, tahun ini peluang besar kembali terbuka agar umat Islam bisa merayakan Idul Adha secara serentak. Bahkan berbagai metode hisab dan rukyat yang selama ini sering berbeda, kali ini justru mengarah pada satu tanggal yang sama:
📌 1 Dzulhijjah 1447 H = Senin, 18 Mei 2026 M
📌 Idul Adha 1447 H = Rabu, 27 Mei 2026 M
Allahu Akbar!
Padahal sebelumnya awal Ramadhan, Syawal & Dzulqo’dah sempat berbeda.
Versi kalender global seperti Muhammadiyah dengan KHGT serta Hizbut Tahrir dengan rukyat global sudah lebih dahulu masuk Dzulqo’dah, sementara Arab Saudi, Pemerintah Indonesia, NU, PERSIS dan lainnya baru masuk sehari setelahnya karena mengistikmalkan Syawal menjadi 30 hari akibat rukyat lokal gagal melihat hilal.
Namun justru dari sini terlihat satu kenyataan penting:
UMAT ISLAM ITU SEBENARNYA BISA BERSATU
Hari ini berbagai metode:
Hisab Imkan Rukyat MABIMS,
KHGT Muhammadiyah,
Rukyat NU,
Kalender Ummul Qura Saudi,
hingga rukyat Arab Saudi,
semuanya mengarah pada satu kemungkinan besar yang sama: 📌 Idul Adha jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026 M.
Artinya apa?
Perbedaan itu bukan karena Islamnya yang salah.
Bukan karena Qur’annya berbeda.
Bukan karena Nabinya berbeda.
Tetapi lebih kepada perbedaan metode, perbedaan matla’, perbedaan otoritas dan ego kelompok & negara yang masih berdiri sendiri-sendiri.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Sayangnya hari ini umat Islam hidup tanpa satu kepemimpinan global yang mempersatukan kalender, puasa, hari raya bahkan urusan politik kaum muslimin.
Akibatnya:
• awal Ramadhan beda,
• Idul Fitri beda,
• Idul Adha beda,
bahkan kadang Arafah pun beda.
Padahal ibadah haji itu ibadah global tanpa mengenal sekat batas wilayah.
TANPA KHILAFAH, UMAT AKAN TERUS TERPECAH
Hari ini umat Islam hidup dalam sistem negara bangsa (nation state) warisan kolonial.
Setiap negara punya:
• pemerintah sendiri,
• otoritas sendiri,
• metode sendiri,
• kepentingan sendiri.
Akhirnya umat Islam terkotak-kotak.
Arab Saudi punya rukyat sendiri.
Indonesia punya sidang isbat sendiri.
Turki punya kalender sendiri.
Negara lain punya keputusan sendiri.
Padahal dahulu ketika Khilafah Islamiyah masih berdiri, umat Islam memiliki satu kepemimpinan yang mempersatukan banyak wilayah dalam satu otoritas politik Islam.
Maka tidak heran kalau hari ini kalender Hijriah pun masih terus berbeda-beda.
Dan ini bukan sekadar masalah teknis hisab-rukyat saja. Ini masalah politik umat.
Karena Islam bukan cuma agama ritual, tapi juga sistem kehidupan yang mengatur persatuan umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (khalifah/pemimpin) itu adalah perisai, manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari No. 2957, Muslim No. 1841)
Hari ini perisai itu sudah runtuh.
Akibatnya umat tercerai-berai.
MOMENTUM DZULHIJJAH: SAATNYA UMAT MENUNDUKKAN EGO
Menariknya, tahun ini justru berbagai kelompok yang biasanya berbeda kemungkinan besar akan berbarengan:
Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, NU, PERSIS, Pemerintah, Arab Saudi, Malaysia, Brunei, Singapura, hingga berbagai negeri Islam lainnya.
Ini menunjukkan satu hal:
Kalau umat Islam mau menundukkan ego golongan dan kembali menjadikan Islam sebagai pemersatu, maka persatuan itu bukan mustahil. Karena sejatinya umat Islam itu satu.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 92)
Maka jangan sampai:
fanatik kelompok, fanatik ormas, fanatik negara, bahkan fanatik metode, malah membuat umat makin jauh dari persatuan.
10 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA
Sebentar lagi gema takbir akan berkumandang.
Sebentar lagi umat Islam akan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan pengorbanan.
Namun Idul Adha bukan sekadar:
makan sate,
bakar kambing,
atau libur panjang.
Idul Adha mengajarkan:
tauhid,
pengorbanan,
ketaatan total kepada Allah,
serta persatuan umat Islam.
Karena jutaan kaum muslimin dari berbagai bangsa berkumpul di satu titik: Mekkah Al-Mukarramah.
Semua memakai pakaian ihram yang sama.
Tidak ada:
nasionalisme,
Fanatisme suku,
ras,
warna kulit,
jabatan,
ataupun kelas sosial.
Yang ada hanyalah: 🕋 Labbaikallahumma Labbaik…
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Perbedaan kalender Hijriah hari ini seharusnya menjadi renungan besar bagi umat Islam bahwa kita membutuhkan persatuan hakiki, bukan sekadar slogan.
Persatuan tidak akan sempurna selama umat masih tercerai-berai dalam sekat nasionalisme dan sistem sekuler warisan penjajah.
Mudah-mudahan momentum Dzulhijjah tahun ini menjadi pengingat bahwa umat Islam sejatinya satu umat, satu aqidah, satu kiblat dan satu tujuan.
Semoga Allah SWT mempersatukan hati kaum muslimin, menerima amal ibadah kita, mempertemukan kita dengan Idul Adha dalam keadaan iman terbaik, serta mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Walillahil Hamd.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.




Posting Komentar untuk "10 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA: INSYAALLAH KOMPAK SERENTAK, ALLAHU AKBAR‼️🏳️🏴"