Dilaknat jelema nu bodo & poho kana urusan akhèrat

 



Alhamdulillah, pada malam Kamis kemarin kembali digelar rutinan ngaji Tafsir Jalalain bersama Pak Osad. Salah satu pembahasan yang sangat menampar hati yang sedang dibahas saat itu adalah tafsir Surat Adz-Dzariyat tentang manusia yang lalai terhadap akhirat.

Dan jujur… pembahasan itu terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.




MANUSIA SEKARANG MAKIN BODO AMAT SOAL AGAMA 

Kemarin siang penulis sempat membagikan buletin dakwah kepada salah satu tetangga. Namun responnya cukup menyedihkan.

Ia berkata:

“Gak usah kasih itu, gak ada yang baca. Tak tau dan tak mau tau.”

Kalimat sederhana. Tapi kalau dipikir dalam-dalam, ini menggambarkan kondisi umat hari ini.

Bukan marah. Bukan benci. Tapi cuek. Ngeroso bodo amat dudu urusanku koyokngono loh!.

Tidak mau tahu urusan agama. Tidak peduli urusan akhirat. Tidak tertarik mempelajari Islam.

Padahal kalau urusan dunia:

kehilangan motor dicari ke mana-mana,

kehilangan uang panik,

kehilangan HP bingung,

kehilangan pekerjaan stres.

Tapi ketika kehilangan pemahaman Islam?

Banyak manusia malah santai.

Inilah yang disebut lalai terhadap akhirat.

Allah SWT berfirman:

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, yaitu orang-orang yang lalai dalam kebodohan.”

(QS. Adz-Dzariyat: 10–11)

Dalam tafsir yang dikaji, dijelaskan bahwa manusia yang terlalu tenggelam dalam urusan dunia sampai lupa akhirat termasuk golongan yang dicela Allah SWT.


SEKULARISME MEMBUAT MANUSIA ASING DENGAN ISLAM 

Hari ini Islam makin dianggap asing.

Kalau ngomong:

bola, persib, hiburan, artis, TikTok, drama, game, politik demokrasi, orang semangat.

Tapi kalau diajak ngomong:

aqidah, syariat, hukum Allah, akhirat, dosa, dakwah, malah banyak yang menghindar.

Kenapa bisa begitu?

Karena manusia hari ini hidup dalam sistem sekuler kapitalis.

Dengan aqidah Sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Agama akhirnya cuma dianggap cocok:

di masjid, di pesantren, di pengajian, di kuburan.

Sedangkan kehidupan sehari-hari diatur hawa nafsu dan budaya liberal.

Akibatnya manusia makin jauh dari Al-Qur’an.

Padahal Allah SWT sudah memperingatkan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Artinya hidup manusia bukan sekadar makan, kerja, hiburan lalu mati.

Tapi untuk mengabdi kepada Allah secara total.


ORANG YANG MEMPERJUANGKAN KEBENARAN PASTI ADA YANG MENOLAK 

Sejak zaman para nabi, dakwah selalu menghadapi penolakan.

Nabi Nuh ditolak.

Nabi Musa ditentang.

Nabi Muhammad ﷺ dihina dan dicaci.

Maka hari ini kalau ada orang cuek terhadap dakwah, itu bukan hal baru.

Al-Qur’an sudah menggambarkannya sejak dulu.

Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan: ‘Dia itu penyihir atau orang gila.’”

(QS. Adz-Dzariyat: 52)

Artinya perjuangan menyampaikan kebenaran memang tidak selalu diterima manusia.

Pasti ada yang:

menolak, mencibir, meremehkan, bahkan memusuhi.

Maka seorang pengemban dakwah tidak boleh gampang baper.

Karena tugas kita hanya menyampaikan.

Hidayah itu milik Allah SWT.


MANUSIA BARU MENYESAL SAAT TERLAMBAT 

Ironisnya, banyak manusia baru sadar ketika sudah terlambat.

Ketika:

sakit datang,

ajal mendekat,

masuk kubur,

melihat azab,

atau kehilangan segalanya.

Barulah manusia berkata:

“Andai dulu aku mau belajar agama…”

“Andai dulu aku peduli dakwah…”

“Andai dulu aku tidak cuek…”

Padahal kesempatan sudah Allah beri berkali-kali.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ ۝ ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

“Pada hari mereka diazab di atas api neraka. Dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah azabmu ini, inilah azab yang dahulu kalian minta disegerakan.’”

(QS. Adz-Dzariyat: 13–14)

Na’udzubillāhi min dzālik.


DAKWAH ITU BUKAN SOAL VIRAL, TAPI SOAL KEIKHLASAN 

Kadang manusia terlalu fokus pada hasil.

Padahal dakwah bukan soal:

banyaknya viewer,

banyaknya like,

banyaknya pujian,

atau semua orang langsung menerima.

Karena bahkan nabi pun ada yang pengikutnya sedikit.

Yang paling penting adalah istiqomah menyampaikan kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

(HR. Bukhari No. 3461)

Maka ketika ada yang menolak dakwah, santai saja.

Tidak perlu marah. Tidak perlu dendam.

Karena tugas kita hanya menyampaikan.

Dan bisa jadi suatu hari nanti, justru kalimat yang dulu ditolak malah menjadi sebab datangnya hidayah.



■ HIKMAH & HARAPAN ■

Zaman hari ini memang berat.

Manusia makin sibuk mengejar dunia sampai lupa tujuan hidup sebenarnya.

Islam dianggap asing. Dakwah dianggap mengganggu. Pengingat akhirat dianggap membosankan.

Namun justru di tengah kondisi seperti inilah tugas dakwah menjadi sangat penting.

Karena manusia butuh diingatkan bahwa hidup bukan sekadar mencari uang, jabatan dan kesenangan dunia.

Akan ada hari ketika semua manusia kembali kepada Allah SWT dan mempertanggungjawabkan hidupnya.

Maka jangan lelah menyampaikan kebenaran walau sedikit yang mendengar.

Jangan berhenti berdakwah walau ada yang mencibir.

Karena boleh jadi hari ini manusia menolak, tapi besok Allah bukakan hidayah untuknya.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tidak menjadi manusia yang lalai terhadap akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqomah memperjuangkan Islam hingga akhir hayat.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "Dilaknat jelema nu bodo & poho kana urusan akhèrat"