Alhamdulillāh, tak terasa hari ini umat Islam telah memasuki tanggal 5 Dzulhijjah 1447 H. Lima hari lagi, kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia akan menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H yang insyāAllāh jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026 M. Hari Arafah sendiri insyāAllāh jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 M.
Meski demikian, perbedaan penanggalan Islam masih kembali terjadi di sebagian wilayah kaum Muslimin.
Kalender Islam hari ini:
Versi Muhammadiyah, HTI, NU, PERSIS | Indonesia, Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, Palestina, dll: Dzulhijjah hari ke-5
Brunei Darussalam, Thailand & sebagian wilayah lainnya: Dzulhijjah hari ke-4
WARNING!: Tanpa Khilafah kalender Islam masih akan terus berbeda-beda, baik Ramadhan maupun selain Ramadhan. (Baca Media Umat Edisi 363 Tahun 2024 M).
PERBEDAAN TANGGAL: MUSIBAH UMAT YANG BELUM SELESAI
Perbedaan semacam ini bukanlah rahmat, melainkan musibah bagi umat Islam. Di tengah teknologi yang sudah sangat maju, komunikasi lintas benua yang sangat mudah, umat Islam justru masih kesulitan bersatu dalam satu penanggalan. Ego nasionalisme, batas negara dan kepentingan politik terus menjadi penghalang persatuan umat. Padahal umat Islam hanya memiliki satu Tuhan, satu Nabi, satu Al-Qur’an dan satu kiblat.
DZULHIJJAH: BULAN KETAATAN NABI IBRAHIM AS
Bulan Dzulhijjah sendiri selalu mengingatkan umat Islam kepada dua sosok agung: Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dari keduanya, umat Islam belajar tentang ketaatan, pengorbanan dan perjuangan menegakkan tauhid. Allah SWT mengabadikan momen pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam firman-Nya:
«وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»
«“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah: 127)»
Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS itulah yang hingga hari ini menjadi pusat ibadah haji umat Islam seluruh dunia. Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru bumi memenuhi panggilan Allah SWT.
«وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ»
«“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)»
HAJI: SIMBOL KETAATAN & PENGORBANAN
Ibadah haji bukan sekadar ritual spiritual tahunan. Haji adalah simbol ketaatan total kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah demi menjalankan perintah Allah. Bahkan beliau juga rela mengorbankan putranya sendiri, Nabi Ismail AS, demi membuktikan ketundukan kepada Rabb semesta alam.
Karena itu, Dzulhijjah mengajarkan bahwa keimanan sejati tidak cukup hanya di lisan, tetapi harus dibuktikan dengan pengorbanan, kesabaran dan perjuangan.
Allah SWT berfirman:
«وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ»
«“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)»
HAJI: TITIK PERSATUAN UMAT ISLAM SEDUNIA
Selain simbol ketaatan, haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Saat berhaji, seluruh manusia melebur menjadi satu. Tidak ada perbedaan ras, suku, bahasa maupun status sosial. Semua memakai pakaian ihram yang sama. Semua bertalbiyah kepada Allah SWT. Semua menghadap kiblat yang sama.
Allah SWT berfirman:
«إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ»
«“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)»
REALITAS UMAT HARI INI: TERPECAH & TERTINDAS
Namun sangat disayangkan, simbol persatuan yang begitu agung dalam ibadah haji justru bertolak belakang dengan realitas umat Islam hari ini. Dunia Islam masih terpecah-belah oleh nasionalisme, konflik politik, fanatisme golongan dan kepentingan negara masing-masing.
Sementara itu, darah kaum Muslimin di Palestina terus mengalir. Gaza masih dibombardir. Anak-anak syahid bergelimpangan. Rumah-rumah dihancurkan. Bahkan di bulan suci Dzulhijjah ini pun pembunuhan masih terus berlangsung tanpa henti.
Ironisnya, sebagian penguasa Muslim justru lebih sibuk menjaga kepentingan politik dan hubungan diplomatik daripada benar-benar membela kaum Muslimin yang tertindas. Inilah akibat ketika umat Islam tidak lagi dipersatukan oleh satu kepemimpinan Islam global yang mampu melindungi umat.
KHILAFAH: SOLUSI PERSATUAN UMAT
Padahal umat Islam memiliki jumlah penduduk lebih dari dua miliar jiwa, kekayaan alam yang melimpah, jalur perdagangan strategis dan sumber daya manusia yang besar. Sayangnya seluruh potensi itu tercerai-berai karena umat hidup dalam sistem negara bangsa warisan penjajah.
Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslimin untuk bersatu:
«وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا»
«“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)»
Karena itu, momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi bahan renungan besar bagi umat Islam. Sudah saatnya kaum Muslimin meninggalkan ego golongan, nasionalisme sempit dan fanatisme kelompok. Umat Islam harus kembali dipersatukan di atas aqidah Islam, syariat Islam dan kepemimpinan Islam yang mampu menjaga kemuliaan umat.
■ PENUTUP & RENUNGAN ■
Ketaatan Nabi Ibrahim AS, pengorbanan Nabi Ismail AS dan persatuan jutaan jamaah haji seharusnya menjadi energi besar untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam yang selama ini tercerai-berai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
«“Perumpamaan kaum Mukmin dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)»
Semoga Dzulhijjah tahun ini menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara kaffah serta memperjuangkan persatuan umat Islam sedunia.
Allāhu Akbar. Allāhu Akbar. Allāhu Akbar.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.




Posting Komentar untuk "5 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA‼️"