Tak terasa, waktu terus berjalan. Baru saja umat Islam melewati Ramadhan dan Idul Fitri—yang tahun ini diwarnai perbedaan hingga tiga hari—kini kita sudah dihadapkan pada satu momentum besar berikutnya: Idul Adha.
Jika Idul Fitri kemarin menyisakan perbedaan yang cukup mencolok— dimulai dari Ramadhan hingga 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri kemarin, ada yang berhari raya pada Kamis, Jum’at, hingga Sabtu—maka untuk Idul Adha tahun ini, ada harapan besar:
umat Islam berpotensi merayakannya secara serentak di seluruh dunia.
Dan jujur saja…
indah sekali kalau bisa lebaran bareng sedunia 🌍✨
Bukan hanya soal tanggal, tapi ini soal persatuan umat.
Potret Perbedaan Hari Ini
Realitanya hari ini, umat Islam masih berjalan dengan beberapa sistem penanggalan:
• Ada yang hari ini sudah 20 Syawal dengan pendekatan rukyat global (kemarin 1 Syawal jatuh hari Kamis)
• Ada yang 19 Syawal dengan kalender global hisab dan rukyat lokal (kemarin 1 Syawal jatuh hari Jum'at)
• Ada pula yang 18 Syawal dengan rukyat lokal (kemarin 1 Syawal jatuh hari Sabtu)
Perbedaan ini bukan hal baru. Bahkan sudah berulang setiap tahun. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah:
Sampai kapan umat ini terus terpecah dalam perkara waktu ibadah yang sama?
Prediksi Idul Adha 1447 H
Jika mengacu pada Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), maka:
1 Dzulhijjah 1447 H: Senin, 18 Mei 2026
9 Dzulhijjah (Arafah): Selasa, 26 Mei 2026
10 Dzulhijjah (Idul Adha): Rabu, 27 Mei 2026
Menariknya, jika mengacu pada kalender Ummul Qura di Arab Saudi, kemungkinan besar tanggalnya akan selaras. Juga dengan kalender Hijriyah milik Kemenag & PERSIS juga akan jatuh ditanggal yang sama.
Artinya?
👉 Potensi besar Idul Adha tahun ini serentak secara global.
Kenapa Bisa Serentak?
Karena Idul Adha berkaitan langsung dengan ibadah haji di Mekkah.
Dan Arafah adalah momen puncaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu adalah Arafah.”
(HR. Tirmidzi)
Maka sangat logis jika umat Islam di seluruh dunia mengikuti satu momentum yang sama, karena ibadah ini bersifat global, bukan lokal.
Persatuan Itu Mungkin, Tapi…
Fakta bahwa Idul Adha berpotensi serentak menunjukkan satu hal penting:
➡️ Umat Islam sebenarnya BISA bersatu.
Namun yang menjadi penghalang bukan pada ilmu, bukan pada teknologi, tetapi pada:
• Fanatisme golongan
• Fanatisme wilayah (nasionalisme)
• Ego kelompok
Padahal Allah ﷻ telah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai…”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar anjuran…
ini adalah perintah langsung.
Furu’iyah Boleh Beda, Tapi Ini…
Dalam perkara furu’iyah seperti:
• Qunut atau tidak qunut
• Cara tangan saat shalat
• Detail ibadah lainnya
Perbedaan masih bisa ditoleransi.
Namun untuk hari besar umat Islam, seperti:
• Awal Ramadhan
• Idul Fitri
• Idul Adha
➡️ Seharusnya menjadi simbol persatuan, bukan perpecahan.
Bayangkan…
Takbir menggema di seluruh dunia di hari yang sama.
Shalat Id dilakukan serentak.
Umat Islam bersatu dalam satu waktu.
MasyaAllah… itu bukan sekadar indah, tapi juga kekuatan peradaban.
Kunci Persatuan: Otoritas Umat
Persatuan tidak akan terwujud hanya dengan:
• Wacana
• Diskusi
• Atau sekadar keinginan
Persatuan membutuhkan otoritas yang menyatukan.
Dalam sejarah Islam, umat ini pernah hidup di bawah satu kepemimpinan yang mampu menyatukan:
• Waktu ibadah
• Sistem hukum
• Bahkan arah politik umat
Tanpa itu, umat akan terus berjalan sendiri-sendiri.
Momentum untuk Berpikir
Perbedaan Ramadhan & Idul Fitri kemarin seharusnya menjadi bahan muhasabah.
Dan peluang serentaknya Idul Adha nanti seharusnya menjadi: 👉 harapan sekaligus bukti bahwa persatuan itu bukan utopia.
Tinggal satu pertanyaan:
Apakah umat ini mau bersatu, atau tetap mempertahankan ego masing-masing?
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Idul Adha yang berpotensi serentak menjadi sinyal kuat bahwa umat Islam sebenarnya mampu bersatu dalam satu waktu dan satu arah.
Perbedaan yang selama ini terjadi bukan karena tidak adanya solusi, tetapi karena belum adanya kesadaran kolektif untuk meninggalkan ego golongan dan kembali kepada persatuan umat.
Semoga momentum ini membuka mata kaum Muslimin bahwa persatuan bukan hanya mungkin, tapi juga wajib diperjuangkan.
Mari kita siapkan diri, bukan hanya menyambut Idul Adha, tetapi juga menyambut kebangkitan umat dalam naungan syariat Islam secara kaffah.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "50 HARI LAGI MENUJU IDUL ADHA: DIPREDIKSI INSYA ALLAH SERENTAK GLOBAL / TIDAK TERJADI PERBEDAAN"