MENJADI GURU DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT

 


Menjadi pengemban dakwah bukan hanya soal menyampaikan ide-ide besar tentang Islam, bukan sekadar berbicara tentang sistem, politik, atau peradaban. Lebih dari itu, seorang pengemban dakwah sejatinya sedang menempatkan dirinya sebagai “guru di tengah-tengah masyarakat.”

Dalam kitab Takatul Hizb, Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan konsep تَفَاعُلٌ مَعَ الأُمَّةِ (tafa’ul ma’al ummah), yaitu berinteraksi langsung dengan umat. Artinya, dakwah itu tidak boleh eksklusif, tidak boleh jauh dari masyarakat, tetapi harus hadir, hidup, dan menyatu dengan mereka.


Di sinilah realita lapangan berbicara

Seorang pengemban dakwah seringkali tiba-tiba diminta:

• Memimpin doa

• Mengimami shalat

• Bahkan memimpin acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan di masyarakat

Ini bukan kebetulan. Ini adalah tuntutan realitas.

Masyarakat memandang orang yang aktif dalam dakwah sebagai: ustadz, dai, bahkan kyai.

Walaupun mungkin secara pribadi merasa “belum pantas”, tetapi persepsi masyarakat sudah terbentuk. Dan di sinilah letak ujian sekaligus amanah besar itu.

Allah ﷻ berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”

(QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini bukan hanya perintah berdakwah, tetapi juga perintah untuk memiliki kapasitas dalam berdakwah.

Bagaimana mungkin menyeru dengan hikmah jika tidak memiliki ilmu?

Bagaimana mungkin membimbing umat jika tidak memahami syariat dengan baik?

Inilah PR besar bagi setiap pengemban dakwah.

Tidak cukup hanya paham:

Politik Islam

Sistem pemerintahan Islam

Kritik terhadap sekularisme

Tetapi juga harus:

Paham fiqih ibadah

Paham tata cara shalat yang benar

Paham doa-doa

Paham adab-adab dalam kehidupan sehari-hari

Karena masyarakat tidak hanya akan bertanya: “Bagaimana sistem ekonomi Islam?”

Tapi mereka juga akan bertanya: “Pak, jadi imam ya?”

“Pak, tolong pimpin doa.”

😄 Nah, di situ langsung “ujian dadakan”!

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa posisi “mengajar” itu adalah posisi mulia. Dan setiap pengemban dakwah pada hakikatnya sedang diarahkan menuju posisi itu.

Namun perlu disadari, menjadi “guru di masyarakat” bukan berarti mencari pengakuan, bukan pula untuk dianggap hebat.

Justru ini adalah amanah yang berat.

Allah ﷻ mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”

(QS. Ash-Shaff: 2)

Ini menjadi peringatan keras agar: ilmu sejalan dengan amal,

dakwah sejalan dengan keteladanan.

Maka solusi dari semua ini adalah satu:

• Terus meng-upgrade diri.

• Belajar tanpa henti.

• Menguatkan tsaqafah Islam.

• Memperbaiki ibadah pribadi.

Karena seorang pengemban dakwah bukan hanya menyampaikan Islam, tetapi juga mewakili Islam di mata masyarakat.

Dan yang tidak kalah penting, dakwah ini tidak bisa sendiri.

Sebagaimana realita yang sering kita rasakan, mengamalkan Islam secara kaffah itu tidak mungkin dilakukan secara individu semata. Harus ada:

• Jamaah

• Komunitas

• Lingkungan yang saling menguatkan

Karena itulah dakwah berjamaah menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Menjadi pengemban dakwah berarti siap menjadi “guru” di tengah masyarakat, baik disadari maupun tidak. Ini adalah amanah besar yang menuntut kesiapan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Maka jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada. Teruslah belajar, teruslah memperbaiki diri, karena masyarakat akan selalu melihat, menilai, dan berharap lebih dari kita.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya pandai berbicara tentang Islam, tetapi juga mampu mengamalkan dan membimbing umat menuju Islam yang kaffah, sehingga banyak masyarakat yang sadar dan terwujudlah kembali kehidupan yang Islami dibawah naungan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "MENJADI GURU DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT"