Ramadhan terus berjalan. Tanpa terasa kita sudah memasuki fase yang sangat istimewa dalam bulan penuh keberkahan ini. Di tengah masyarakat Jawa, malam ke-21 Ramadhan sering dikenal dengan istilah “Selikuran.” Sebuah penanda bahwa 10 malam terakhir Ramadhan telah dimulai, malam-malam yang di dalamnya tersimpan sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan: Lailatul Qadar.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar."
(QS. Al-Qadr: 1–5)
Ayat ini menegaskan satu fakta agung: Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar. Ini bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan momentum turunnya pedoman hidup bagi manusia.
Allah ﷻ juga menegaskan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Di sinilah letak persoalan besar umat hari ini.
Banyak orang memuliakan Ramadhan. Banyak pula yang rajin membaca Al-Qur’an. Masjid-masjid penuh dengan lantunan tilawah. Namun seringkali Al-Qur’an hanya berhenti pada bacaan, tidak sampai menjadi pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Padahal Al-Qur’an bukan sekadar kitab ritual. Ia adalah kalamullah, firman Allah yang berisi petunjuk hidup secara menyeluruh (kaffah).
Allah ﷻ berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
"Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."
(QS. An-Nahl: 89)
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu, termasuk dalam urusan kehidupan sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga tata kelola masyarakat dan negara.
Karena itu Allah juga memerintahkan kaum beriman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)."
(QS. Al-Baqarah: 208)
Perintah ini jelas: Islam tidak boleh dipotong-potong. Tidak boleh hanya diambil sebagian lalu ditinggalkan sebagian yang lain.
Namun realitas yang kita lihat hari ini justru sebaliknya. Banyak manusia yang rela menjadikan sistem hidup buatan manusia sebagai pedoman—sementara Al-Qur’an hanya dibaca saat Ramadhan, saat tahlilan, atau saat acara seremonial.
Padahal Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa suatu saat umat ini bisa saja meninggalkan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka.
Allah mengabadikan keluhan Rasulullah ﷺ dalam Al-Qur’an:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
"Dan Rasul berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan'."
(QS. Al-Furqan: 30)
Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak membacanya. Tetapi juga tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Oleh karena itu momentum Selikuran ini seharusnya menjadi pengingat besar bagi kita semua. Jika pada malam Lailatul Qadar Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, maka tugas umat Islam bukan sekadar membacanya—melainkan menghidupkannya dalam kehidupan.
Membacanya adalah ibadah.
Memahaminya adalah kewajiban.
Namun menerapkannya dalam kehidupan adalah tujuan utamanya.
Inilah makna Ramadhan yang sejati: kembali kepada Al-Qur’an secara total.
Jika umat ini kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup secara kaffah—dalam akhlak, hukum, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan bermasyarakat—maka kemuliaan umat akan kembali bangkit.
Karena kemuliaan umat Islam tidak terletak pada jumlahnya, bukan pula pada kekuatan materinya, tetapi pada sejauh mana mereka berpegang teguh kepada wahyu Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku."
(HR. Malik)
Maka memasuki malam-malam Selikuran ini, mari kita jadikan momentum untuk semakin mendekat kepada Al-Qur’an:
membacanya,
mentadabburinya,
mengamalkannya,
dan memperjuangkan agar nilai-nilainya benar-benar hidup dalam kehidupan umat.
Karena Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan Ramadhan.
Ia adalah pedoman hidup umat manusia sepanjang zaman.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Semoga Allah ﷻ mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Semoga pula Ramadhan ini menjadikan kita bagian dari orang-orang yang tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup secara kaffah.
Wallahu a'lam bish-shawab. 🤲
Dukung Dakwah Buletin Subuh
Apabila sahabat sekalian merasa buletin ini bermanfaat,
silakan dukung dakwah ini dengan donasi seikhlasnya.
Donasi digunakan untuk:
• biaya cetak buletin dakwah
• distribusi buletin
• kebutuhan dakwah lainnya.
Transfer melalui DANA Klik Disini untuk donasi.
Semoga setiap rupiah yang disumbangkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Monggo ditonton juga Live Streaming di chanel YouTube AL VLOGGER


Posting Komentar untuk "SELIKURAN"