Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita berbagai kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan sehingga pada malam hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk kembali menghadiri dan menyelenggarakan kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam) di Masjid At-Thohiriyyah Bojonghuni Maleber Ciamis, tepatnya di depan Seblak Andalan milik Mang Yayan.
Sungguh ini merupakan kenikmatan yang patut kita syukuri. Terlebih lagi kajian ini berlangsung pada malam ke-17 Ramadhan menurut kalender Hijriah Global, yang juga bertepatan dengan peristiwa agung Nuzulul Qur’an, yakni turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika kita berada di majelis ilmu, tempat yang oleh Rasulullah disebut sebagai taman-taman surga. Betapa nikmatnya duduk di majelis ilmu, membahas Islam secara kaffah, dalam suasana santai namun penuh makna. Kadang sambil menyeruput kopi hangat, berbincang ringan, tetapi yang dibicarakan adalah perkara besar: agama Allah.
Maka sudah sepantasnya kita memperbanyak syukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan menghadiri majelis seperti ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, hingga kepada kita semua sebagai umatnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang terus berusaha ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau serta menjalankan syariat yang beliau bawa, sehingga kelak di hari kiamat kita diakui sebagai umat beliau. Āmīn.
Alhamdulillah, pada malam Jum’at Pahing, 17 Ramadhan 1447 H / Kamis 5 Maret 2026 M, kajian ObSeSi kembali digelar dengan tema yang sangat menarik:
“Menundukkan Rasa Kepada Syara’”
Kajian malam ini disampaikan oleh Ustadz Dimas Prasetya.
Tema ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari, seringkali manusia lebih menuruti perasaan, hawa nafsu, dan keinginan pribadi daripada tunduk kepada aturan Allah.
MENUNDUKKAN RASA KEPADA SYARA’
Dalam kehidupan, manusia seringkali menjadi “pengacara terbaik bagi dirinya sendiri.” Artinya, kita sering mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan yang kita lakukan.
Kadang kita tahu suatu perbuatan itu dosa, namun kita tetap mencari pembenaran:
“Ah, cuma sekali.”
“Yang penting niatnya baik.”
“Semua orang juga melakukan.”
Padahal sesungguhnya itu hanyalah pembenaran hawa nafsu.
Karena itu seorang Muslim harus belajar menundukkan ego dan hawa nafsunya kepada syariat Allah.
1. Belajar dari Seorang Muallaf Korea
Ada kisah seorang muallaf dari Korea bernama Soo Tai Kim.
Sebelum masuk Islam, daging babi adalah makanan favoritnya. Ia sangat menyukainya.
Namun setelah masuk Islam, ia mengetahui bahwa daging babi diharamkan dalam syariat.
Akhirnya ia meninggalkan makanan yang sangat ia sukai itu.
Inilah contoh nyata bahwa ketika seseorang beriman, ia mampu menundukkan rasa dan kesukaannya demi ketaatan kepada Allah.
2. Kisah Julaybib dan Wanita Jelita
Kisah lain datang dari sahabat Nabi bernama Julaybib.
Julaybib dikenal sebagai sahabat yang:
Fisiknya tidak menarik
Tubuhnya pendek
Kulitnya gelap
Suatu hari Rasulullah memerintahkannya untuk melamar seorang wanita dari keluarga terpandang dan sangat cantik.
Awalnya sang wanita menolak. Namun ketika ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW yang memintanya, ia akhirnya menerima lamaran tersebut.
Di sinilah terlihat prinsip seorang Muslim:
Sami’na wa atha’na
“Kami dengar dan kami taat.”
Ini adalah dorongan dari aqidah yang kuat.
Seorang Muslim menundukkan keinginannya kepada syariat demi keselamatan. Karena makna Islam sendiri adalah tunduk dan berserah diri kepada Allah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah berkata: Kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur: 51)
KEIMANAN YANG SEMPURNA
Allah menjelaskan ukuran keimanan yang sempurna dalam firman-Nya:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)
Ayat ini menjelaskan tiga tanda keimanan yang sempurna:
Menjadikan Rasulullah sebagai penentu keputusan hidup
Tidak merasa keberatan terhadap hukum Rasulullah
Menerima sepenuhnya aturan Rasulullah
Kata “harajan” dalam ayat ini berarti rasa keberatan dalam hati.
HAWA NAFSU WAJIB TUNDUK KEPADA SYARA’
Para ulama menjelaskan bahwa inti iman adalah mengalahkan hawa nafsu.
Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumuddin:
“Hakikat iman adalah mengalahkan hawa nafsu. Seseorang belum disebut beriman hingga ia menjadikan syariat sebagai hakim atas kehendak dirinya.”
Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan:
“Kesempurnaan iman seseorang terlihat ketika perasaan, keinginan, dan pilihannya tunduk sepenuhnya kepada syariat.”
Sedangkan Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Barangsiapa menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin, maka ia akan tersesat. Namun barangsiapa menjadikan wahyu sebagai pemimpin, maka hawa nafsunyalah yang akan tunduk.”
Semua manusia berpotensi merasa berat (haraj) terhadap syariat. Namun seorang mukmin akan berusaha menjadi orang yang berkata:
Sami’na wa atha’na.
RASA YANG SERING MUNCUL DALAM KEHIDUPAN
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
1. Berjilbab
Aktivitas: memakai jilbab ketika keluar rumah
Pandangan: terasa gerah atau ribet
Perasaan: tidak suka
Padahal syariat memerintahkan menutup aurat.
Rasulullah bersabda kepada Asma binti Abu Bakar:
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا
Lalu beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya.
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita apabila telah baligh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.”
(HR. Abu Dawud)
2. Jual Beli Emas Kredit
Rasulullah bersabda:
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ
“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam harus sama takarannya dan dilakukan secara tunai.”
(HR. Muslim)
3. Manipulasi Laporan
Rasulullah bersabda:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Barangsiapa menipu maka ia bukan dari golonganku.”
(HR. Muslim)
4. Suap Menyuap
Rasulullah bersabda:
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
“Laknat Allah atas pemberi dan penerima suap.”
(HR. Ahmad)
5. Korupsi Harta
Allah berfirman:
وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa berkhianat dalam urusan harta, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu.”
(QS. Ali Imran: 161)
BUKAN TIDAK MAMPU, TAPI BELUM MENUNDUKKAN NAFSU
Allah tidak pernah membebani manusia di luar kemampuannya.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
(QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya: bukan kita tidak mampu, tetapi kadang belum mau menundukkan hawa nafsu.
UBAH RASA SESUAI SYARA’
Rasa manusia harus diarahkan sesuai syariat.
Contohnya:
Malas beribadah → harus menjadi rajin
Senang melihat aurat → harus dibenci
Bahagia dengan pacaran → harus dihindari
Membenci pejuang Islam → seharusnya tidak demikian
Marah ketika dinasihati → seharusnya bersyukur masih ada yang mengingatkan
Dalam bahasa Jawa disebut “ngèlingno”, dalam bahasa Sunda “ngageuingkeun.”
BAHAGIA ITU KETIKA ALLAH RIDHA
Kebahagiaan sejati adalah ketika Allah ridha kepada kita.
Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Berlomba-lombalah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali Imran: 133)
Takwa berarti taat kepada Allah: menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Dari kajian ini kita belajar bahwa:
Seorang Muslim harus menundukkan rasa, keinginan, dan hawa nafsunya kepada syariat.
Keimanan yang sempurna adalah ketika kita tidak merasa berat terhadap hukum Allah.
Kebahagiaan sejati bukan mengikuti hawa nafsu, tetapi ketika Allah ridha kepada kita.
Proses menjadi taat memang tidak instan. Ia membutuhkan ilmu, latihan, dan muhasabah terus-menerus.
Semoga dengan menghadiri majelis ilmu seperti ini, hati kita semakin lembut, iman kita semakin kuat, dan kita semakin mampu mengatakan dalam setiap perintah Allah:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Kami dengar dan kami taat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "🙇MENUNDUKAN RASA KEPADA SYARA' - Kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam)☕🍃"