Ramadhan hampir berakhir. Hari ini kita telah memasuki 27 Ramadhan 1447 H menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Artinya hanya tersisa beberapa hari lagi menuju Idul Fitri. Malam-malam terakhir Ramadhan pun sedang berlangsung—malam yang di dalamnya terdapat peluang besar bertemu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun di tengah suasana menjelang hari raya, ada satu pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama: apa makna Idul Fitri sebenarnya menurut Islam?
Apakah ia hanya sekadar tradisi tahunan, mudik, pakaian baru, dan hidangan lezat? Ataukah ia merupakan momentum kembali kepada aturan Allah secara total?
Idul Fitri Menggantikan Tradisi Jahiliyah
Sejarah Idul Fitri dalam Islam sangat jelas. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang biasa mereka rayakan sejak masa jahiliyah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.”
(HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam datang bukan sekadar menyesuaikan diri dengan tradisi manusia, tetapi mengganti tradisi jahiliyah dengan syariat Allah.
Idul Fitri bukan sekadar hari bersenang-senang. Ia adalah syiar Islam yang menggantikan budaya jahiliyah yang tidak diridhai Allah.
Syiar Islam Harus Dijaga
Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Mengagungkan syiar Islam bukan hanya dengan takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema. Yang jauh lebih penting adalah menempatkan syariat Allah pada posisi yang semestinya dalam kehidupan.
Ironis jika takbir berkumandang di mana-mana, tetapi dalam kehidupan sehari-hari aturan Allah justru ditinggalkan.
Ironis jika umat Islam merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan, tetapi hukum yang mengatur kehidupan mereka bukan hukum Allah, melainkan hukum buatan manusia yang lemah dan terbatas.
Islam Adalah Aturan Hidup
Islam bukan hanya agama ritual. Islam adalah dīn yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam harus diterapkan secara kaffah, tidak boleh dipilih-pilih. Tidak boleh hanya ibadahnya saja yang dijalankan sementara aturan kehidupan lainnya diabaikan.
Realita Umat Hari Ini
Jika kita jujur melihat keadaan umat Islam saat ini, kita akan menemukan kenyataan yang cukup menyedihkan.
Takbir berkumandang setiap Idul Fitri, tetapi:
• Sistem ekonomi masih dikuasai riba
• Hukum kehidupan diatur oleh aturan manusia
• Umat Islam terpecah dalam batas-batas negara buatan penjajah (nasionalisme)
• Syariat Allah sering dianggap tidak relevan
Padahal Allah telah mengingatkan:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Ma’idah: 50)
Tidak ada hukum yang lebih adil, lebih sempurna, dan lebih menenteramkan selain hukum Allah.
Idul Fitri: Momentum Kembali
Karena itu, menjelang Idul Fitri ini seharusnya kita tidak hanya sibuk mempersiapkan pakaian baru atau hidangan lebaran.
Yang jauh lebih penting adalah kembali kepada aturan Allah.
Kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Kembali menjadikan syariat Islam sebagai solusi kehidupan.
Kembali menyadari bahwa kemuliaan umat ini hanya akan terwujud jika mereka kembali kepada Islam secara total.
Sebagaimana firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan agama itu atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.”
(QS. At-Taubah: 33)
Saatnya Sadar.....
Kini Ramadhan hampir selesai. Kesempatan memperbaiki diri semakin sempit. Idul Fitri sudah di depan mata.
Maka sebelum hari kemenangan itu tiba, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Apakah kita benar-benar telah kembali kepada fitrah?
Apakah kita benar-benar siap hidup di bawah aturan Allah?
Ataukah kita hanya merayakan Idul Fitri sebagai tradisi tahunan tanpa perubahan berarti?
Semoga Allah menjadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum taubat, kesadaran, dan kebangkitan umat untuk kembali kepada syariat-Nya.
Karena kemuliaan umat Islam tidak akan pernah terwujud kecuali dengan kembali kepada aturan Allah.
Allahu a‘lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "IDUL FITRI SEBENTAR LAGI, SAATNYA SADAR & KEMBALI KE ATURAN SYAR'I‼️☝️"