Tak terasa Ramadhan hampir berada di penghujungnya. Hari ini Ahad Legi, 15 Maret 2026 M, yang bertepatan dengan 26 Ramadhan 1447 H menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan oleh Muhammadiyah. Dalam hitungan kalender Jawa pun selaras: Ahad Legi, 26 Poso 1959 Dal, yang menandakan bahwa puasa telah memasuki hari ke-26—dalam istilah Jawa sering disebut “nemlikur”.
Artinya, tersisa 5 hari lagi menuju Idul Fitri 1447 H, yang insyaallah akan jatuh pada Jum’at Legi, 20 Maret 2026 M. Waktu yang sangat singkat. Ramadhan yang begitu agung hampir berlalu. Pertanyaannya: apa yang sudah kita bawa dari Ramadhan ini?
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Tujuan utamanya adalah melahirkan ketakwaan, yaitu ketaatan total kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.
Ramadhan dan Al-Qur’an: Pedoman Hidup
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, bukan sekadar bacaan untuk dilantunkan saat Ramadhan. Ia adalah kalamullah, firman Allah yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.
Namun realitanya hari ini sangat menyedihkan. Banyak kaum Muslimin rajin membaca Al-Qur’an, tetapi enggan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Al-Qur’an dibaca di masjid, tetapi hukum yang dipakai dalam kehidupan justru hukum buatan manusia.
Padahal Allah sudah memberikan peringatan tegas:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Mā’idah: 50)
Ayat ini menampar kesadaran kita. Tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah.
Realita Umat: Terpecah dan Kehilangan Kepemimpinan
Hari ini umat Islam berjumlah lebih dari satu miliar manusia, tetapi terpecah dalam banyak negara, sistem, dan kepentingan politik. Akibatnya, umat Islam kehilangan kekuatan dan kewibawaan.
Perbedaan tanggal Ramadhan dan Idul Fitri yang sering terjadi hanyalah salah satu contoh kecil dari persoalan yang lebih besar: tidak adanya otoritas pemersatu umat Islam secara global.
Padahal Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan pentingnya kepemimpinan umat:
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا
“Apabila dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa dalam Islam kepemimpinan umat itu harus satu, bukan terpecah-pecah. Kepemimpinan yang menyatukan kaum Muslimin dalam satu visi dan satu aturan, yaitu syariat Allah.
Menjemput Kemenangan yang Hakiki
Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan. Namun kemenangan yang hakiki bukan hanya memakai pakaian baru atau menikmati hidangan lezat. Kemenangan sejati adalah ketika seorang Muslim kembali kepada fitrah ketaatan kepada Allah.
Kemenangan itu terwujud ketika:
Al-Qur’an dijadikan pedoman hidup.
Syariat Allah diterapkan secara menyeluruh (kaffah).
Umat Islam bersatu dalam iman dan kepemimpinan yang adil.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Islam tidak boleh dipotong-potong. Tidak boleh hanya diambil ibadahnya saja sementara aturan kehidupan ditinggalkan.
Saatnya Muhasabah....
Kini tinggal 5 hari lagi menuju Idul Fitri 1447 H. Waktu yang sangat singkat untuk memperbaiki diri. Mari kita gunakan sisa Ramadhan ini untuk:
• Memperbanyak taubat dan istighfar
• Menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan
• Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an
• Menguatkan tekad untuk hidup di bawah tuntunan syariat Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk bertemu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Mari kita akhiri Ramadhan ini dengan kesadaran yang lebih dalam: Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang sempurna.
Semoga kita dipertemukan dengan Idul Fitri dalam keadaan bersih dari dosa, kuat dalam iman, dan siap memperjuangkan kemuliaan Islam.
Wallahu a‘lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "5 HARI LAGI MENUJU IDUL FITRI"