3 HARI LAGI MENUJU IDUL FITRI: DIPREDIKSI BEDA‼️TETAP JAGA UKHUWAH ISLAMIYAH, SESAMA MUSLIM DULUR🤝

 


Ramadhan hampir di penghujungnya.

Hari-hari terakhir ini menjadi momen paling berharga bagi kaum Muslimin untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak istighfar, serta berharap mendapatkan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Namun seperti yang sudah sering terjadi, penetapan hari raya Idul Fitri tahun ini kembali diprediksi berbeda.

Perbedaan ini bukan hal baru. Bahkan sejak awal Ramadhan kemarin pun sudah terjadi perbedaan penetapan.


Penetapan Awal Ramadhan

Organisasi Islam memiliki metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M, berdasarkan metode Hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini menggunakan perhitungan astronomi global tanpa batas wilayah sehingga satu tanggal Hijriah berlaku untuk seluruh dunia.

Menariknya, hasil ini juga sejalan dengan hasil Ru'yatul Hilal global di sejumlah negara seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Palestina dan beberapa wilayah Jazirah Arab yang juga memulai Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026.

Kelompok dakwah Islam kaffah seperti Hizbut Tahrir juga menetapkan awal Ramadhan pada hari yang sama, yaitu Rabu 18 Februari 2026, berdasarkan ru'yatul hilal global. Dalam metode ini, apabila hilal terlihat di suatu wilayah dunia, maka seluruh kaum Muslimin seharusnya mengikuti karena umat Islam dianggap satu kesatuan.

Sementara itu, Persatuan Islam (PERSIS) menetapkan awal Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026 M.

Walaupun PERSIS sama-sama menggunakan hisab seperti Muhammadiyah, kriterianya berbeda karena Persis menggunakan standar imkanur ru'yat MABIMS, yang juga digunakan pemerintah Indonesia dan ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Dari sini terlihat jelas bahwa akar perbedaan sebenarnya bukan pada hisab atau ru'yat, karena keduanya sama-sama memiliki dasar syar'i dalam Islam.

Persoalan utamanya adalah pada kriteria yang digunakan:

Ada yang menggunakan kriteria global

Ada yang menggunakan kriteria lokal atau nasional

Mengapa Perbedaan Terus Terjadi?

Sesungguhnya hisab dan ru'yat tidak perlu dipertentangkan.

Keduanya justru bisa dikolaborasikan.

Namun persoalan yang jauh lebih mendasar adalah:

Siapa yang memiliki otoritas untuk menyatukan umat Islam dari metode Hisab & Ru'yat ini karena ini menyangkut hari besar umat Islam yang bukan hanya di satu negeri saja?

Hari ini umat Islam tidak memiliki institusi kepemimpinan global yang mampu menyatukan keputusan tersebut.

Sudah 102 tahun sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada 1924 M. Sejak saat itu, umat Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara nasional dengan kepemimpinan yang berbeda-beda.

Akibatnya:

• Kalender Hijriah tidak seragam sering beda-beda

• Penetapan Ramadhan dan Syawal berbeda-beda

• Ru'yatul hilal terikat batas wilayah negara

• Padahal dalam syariat, umat Islam adalah satu umat.

Karena tidak ada otoritas global yang menyatukan, maka wajar jika penentuan hari-hari besar Islam sering berbeda. Bahkan dalam beberapa kasus, perbedaannya bisa 1 hari, 2 hari, bahkan sampai sepekan pada sebagian kelompok tertentu.


Prediksi Idul Fitri Tahun Ini

Berdasarkan berbagai metode yang digunakan, Idul Fitri 1447 H kembali diprediksi berbeda.

Menurut Hisab Muhammadiyah (KHGT):

Idul Fitri jatuh pada

Jum'at Legi, 20 Maret 2026 M

Menurut Hisab PERSIS (kriteria IR MABIMS):

Idul Fitri jatuh pada

Sabtu, 21 Maret 2026 M

Sementara Pemerintah Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada:

Kamis Kliwon sore, 19 Maret 2026 M

bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H yang kemungkinan hasilnya bisa sama dengan keputusan PERSIS

Adapun pengamatan hilal dilakukan pada:

Ru'yatul Hilal Global

Petang Rabu Wagē, 18 Maret 2026 M

Ru'yatul Hilal Nasional (Indonesia)

Petang Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 M

Beda Penentuan, Jangan Beda Persaudaraan

Perbedaan ini seharusnya tidak menjadikan umat Islam saling mencela atau memusuhi.

Perbedaan dalam perkara ijtihadiyah memang bisa terjadi. Namun ukhuwah Islamiyah harus tetap dijaga.

Yang perlu kita renungkan adalah bukan sekadar perbedaan tanggalnya, tetapi mengapa umat Islam tidak memiliki otoritas yang mampu menyatukan kalendernya secara global.

Selama umat ini masih terpecah dalam batas-batas nasionalisme dan tidak memiliki kepemimpinan yang menyatukan, maka perbedaan seperti ini kemungkinan akan terus terjadi.


Fokus Terakhir Ramadhan

Sekarang yang jauh lebih penting adalah memanfaatkan sisa Ramadhan yang tinggal 3 hari lagi mungkin bagi yang ikut Pemerintah tersisa 4 hari lagi.

Mari kita:

• memperbanyak ibadah

• memperbanyak sedekah

• memperbanyak istighfar

• mengejar malam Lailatul Qadar

Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita kembali kepada fitrah.

Dan ketika Idul Fitri tiba, walaupun nanti mungkin tanggalnya berbeda, semoga hati kaum Muslimin tetap satu.

Karena pada akhirnya kita semua adalah saudara seiman.

Sesama Muslim adalah dulur.


Wallahu a'lam.bisshowab

Posting Komentar untuk "3 HARI LAGI MENUJU IDUL FITRI: DIPREDIKSI BEDA‼️TETAP JAGA UKHUWAH ISLAMIYAH, SESAMA MUSLIM DULUR🤝"