Hari ini kita sudah berada di ujung Ramadhan.
Tinggal sekitar 2 hari lagi menuju 1 Syawal 1447 H, yang insyaAllah akan jatuh pada:
Jum’at Legi, 20 Maret 2026 M
Artinya, Ramadhan tahun ini akan genap 30 hari.
Secara hisab, posisi hilal masih berada di bawah ufuk (minus). Maka Kamis, 19 Maret 2026 M belum masuk 1 Syawal, melainkan masih 30 Ramadhan, jika mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Bahkan dari sisi ru’yatul hilal, mustahil hilal terlihat, baik secara lokal di Indonesia maupun global di berbagai belahan dunia.
Artinya jelas:
Ramadhan hampir benar-benar selesai.
Pertanyaannya…
Apakah kita benar-benar layak berhari raya?
5 KRITERIA SESEORANG YANG LAYAK BERHARI RAYA
Renungan ini dinukil dari nasihat para sahabat, di antaranya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Bukan sekadar ganti baju baru, bukan sekadar makan ketupat—tapi tentang kelayakan di sisi Allah SWT.
1. Tidak Bermaksiat di Malam Hari
Seseorang layak berhari raya ketika malamnya bersih dari maksiat.
Jika siangnya diisi dengan ketaatan, mengikuti aturan Allah dan sunnah Rasul, lalu malamnya dijaga dari dosa—
maka esok harinya ia pantas berbahagia.
Sebaliknya, kalau siang puasa tapi malamnya maksiat…
ini seperti bangun rumah, tapi tiap malam dibongkar sendiri.
➡️ Mangga, urang hisab diri masing-masing.
2. Husnul Khatimah (Akhir yang Baik)
Menurut Anas bin Malik, seseorang layak berhari raya ketika akhir hidupnya dalam iman yang baik.
Dalam penjelasan Imam Al-Ghazali, manusia terbagi menjadi 4 golongan:
• Su’ul ibtida & su’ul khatimah
Awalnya buruk, akhirnya buruk (na’udzubillah)
• Husnul ibtida & su’ul khatimah
Awalnya baik, tapi akhirnya buruk (murtad)
• Su’ul ibtida & husnul khatimah
Awalnya buruk, akhirnya baik (ini penuh harapan)
• Husnul ibtida & husnul khatimah
Awalnya baik, akhirnya baik (ini yang kita kejar meskipun jarang kita masuk di kriteria ini)
➡️ PR terbesar kita hari ini:
Menjaga istiqamah sampai akhir hayat.
Karena umumnya seseorang diwafatkan sesuai kebiasaannya.
3. Berhasil Melewati Titian Shirath
Layak berhari raya itu bukan di dunia…
tapi saat berhasil melewati shirath (jembatan di atas neraka).
Ada yang melewatinya:
Secepat kilat ⚡
Secepat anak panah 🏹
Bahkan ada yang merangkak…
Dan ada yang jatuh…
➡️ Amal kita hari ini adalah penentu kecepatan kita nanti.
4. Kakinya Menginjak Surga
Kapan sebenarnya kita istirahat?
Bukan sekarang.
Bukan setelah Lebaran.
Bukan setelah libur panjang.
➡️ Istirahat yang hakiki adalah saat kaki kita menginjak surga.
Dunia ini memang:
• tempat lelah
• tempat capek
• tempat ujian
Surga-lah tempat istirahat yang sebenarnya.
5. Bertemu dengan Allah Azza wa Jalla
Inilah puncak dari segala “hari raya”.
Bukan sekadar kumpul keluarga…
tapi bertemu dengan Allah SWT.
➡️ Inilah kebahagiaan tertinggi seorang mukmin.
Maka hakikat “berhari raya” adalah:
• kembali kepada ketaatan
• kembali kepada syukur
• kembali kepada aturan Allah
Refleksi: Sudah Siapkah Kita?
Kita ini diajarkan untuk taat kepada Allah SWT.
Namun untuk bisa taat…
➡️ kita butuh ilmu
Maka ngaji itu wajib.
Bukan sekadar tradisi, tapi kebutuhan.
Karena banyak dosa hari ini bukan karena sengaja…
tapi karena tidak tahu dan tidak menerapkan aturan Allah.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Ramadhan hampir pergi…
jangan sampai amal kita ikut pergi tanpa bekas.
Mari jadikan sisa waktu ini sebagai:
momentum taubat total
momentum perbaikan diri
momentum kembali kepada syariat Allah secara kaffah
Semoga kita termasuk orang-orang yang:
✔ layak berhari raya di sisi Allah
✔ diampuni dosa-dosanya
✔ dimudahkan melewati shirath
✔ dimasukkan ke dalam surga
✔ dan dipertemukan dengan Allah Azza wa Jalla
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Wallahu a’lam bishawab


Posting Komentar untuk "5 KRITERIA SESEORANG YANG LAYAK BERHARI RAYA"