TAKWA ORA ISO SETENGAH-SETENGAH: Totalitas dalam Ibadah, Totalitas dalam Kehidupan

 




Alhamdulillah, hari ini kita telah memasuki 4 Ramadhan 1447 H menurut Kalender Hijriyah Global. Ramadhan terus berjalan. Pertanyaannya: apakah ketakwaan kita juga ikut berjalan… atau cuma semangat di awal saja?

Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah madrasah totalitas. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Targetnya jelas: takwa. Bukan lapar. Bukan haus. Bukan sekadar status “sudah puasa”.


■ Takwa Itu Paripurna, Bukan Musiman ■

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

Perhatikan: haqqa tuqatih — sebenar-benarnya takwa.

Artinya? Tidak setengah-setengah. Tidak pilih-pilih. Tidak musiman.

Imam Ali bin Abi Thalib ra. mendefinisikan takwa:

التَّقْوَى: الخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

Takwa itu:

• Takut kepada Allah Yang Mahaagung.

• Mengamalkan wahyu yang diturunkan.

• Merasa cukup dengan yang sedikit.

• Mempersiapkan bekal untuk hari kembali (akhirat).

Perhatikan poin kedua: mengamalkan wahyu. Bukan sebagian. Tapi keseluruhan.


■ Islam Kaffah, Bukan Parsial ■

Allah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Kaffah. Total. Menyeluruh.

Tidak cukup hanya: 

✔ Rajin tarawih

✔ Tilawah khatam

✔ Sahur tepat waktu

Tapi di luar itu: 

✘ Masih nyaman dengan riba

✘ Masih abai pada kezaliman

✘ Masih cuek terhadap nasib umat

✘ Masih menganggap agama cuma urusan sajadah

Takwa ora iso setengah-setengah lurd !.


■ Puasa Bisa Sia-Sia ■

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar.”

(HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dan beliau juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

(HR al-Bukhari)

Puasa bukan cuma urusan perut.

Puasa adalah proyek pembersihan total: lisan, hati, pikiran, sistem hidup.


■ Takwa & Realita Umat ■

Takwa juga berarti tidak condong kepada kezaliman. Allah berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

“Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim sehingga kalian disentuh api neraka.”

(QS. Hud [11]: 113)

Dan:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 45)

Takwa tidak mungkin berdampingan dengan pembiaran terhadap kezaliman.

Takwa tidak mungkin netral ketika hukum Allah disisihkan.

Kalau kita benar-benar ingin puasa melahirkan takwa paripurna, maka kesalehan pribadi harus beriringan dengan kepedulian terhadap kondisi umat.


■ Gaza Mengingatkan Kita ■

Di saat kita sahur dengan tenang, saudara kita di Gaza masih berjuang di tengah blokade dan krisis kemanusiaan. Ribuan korban berjatuhan sejak agresi berlangsung. Fasilitas kesehatan hancur. Pasien menunggu izin berobat.

Pertanyaannya:

Apakah Ramadhan hanya mengubah jadwal makan kita… atau juga menggerakkan nurani kita?

Takwa sejati melahirkan empati.

Takwa sejati melahirkan keberpihakan pada keadilan.


■ Hikmah ■

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

(HR al-Bukhari)

Puasa adalah ibadah yang langsung Allah klaim sebagai milik-Nya.

Masa kita jalani dengan setengah hati?


■ Penutup ■

Ramadhan sudah masuk hari ke-4.

Masih ada waktu untuk memperbaiki niat.

Masih ada waktu untuk menaikkan level ketakwaan.

Jangan jadi Muslim musiman saat Ramadhan saja.

Jadilah Muslim seumur hidup.

Takwa itu totalitas.

Ora iso setengah-setengah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang benar-benar bertakwa — dalam ibadah, dalam akhlak, dalam keberpihakan, dan dalam perjuangan hidup menegakkan kalimat tauhid tentunya semua bisa terwujud dibawah naungan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah.

Takbir ! ALLOHU AKBAR !!!

Wallâhu a‘lam bish-shawâb.

Posting Komentar untuk "TAKWA ORA ISO SETENGAH-SETENGAH: Totalitas dalam Ibadah, Totalitas dalam Kehidupan"