AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Buletin Kaffah Edisi 433 (3 Ramadhan 1447 H/20 Februari 2026 M)


ALHAMDULILLAH, kita telah berada pada Bulan Ramadhan 1447 H. Ramadhan adalah bulan yang senantiasa dirindukan. Bulan yang selalu diharap-harapkan kedatangannya. Bulan yang bahkan telah ditunggu-tunggu kehadirannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu oleh siapa saja yang beriman, yang meyakini keutamaan dan keistimewaannya. Setidaknya, begitulah sikap generasi Muslim terdahulu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, menukil pernyataan Mu’alla bin al-Fadhl, menggambarkan betapa kerinduan mereka terhadap Ramadhan sangat luar biasa. Dikatakan:


كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَّبَّلَ مِنْهُمْ.


Mereka (generasi dulu) biasa berdoa kepada Allah SWT selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Mereka pun berdoa enam bulan berikutnya agar amal-amal mereka diterima (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).


Kerinduan generasi Muslim dulu yang luar biasa terhadap Bulan Ramadhan tentu didasarkan pada sejumlah keterangan dari Baginda Rasulullah saw. tentang keutamaan bulan tersebut. Di antaranya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, adalah Hadis Nabi saw. yang menyatakan:


لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ سَنَةً كُلَّهَا 


Andai hamba-hamba Allah SWT tahu keutamaan yang ada pada Bulan Ramadhan, umatku pasti berangan-angan agar Ramadhan itu terjadi sepanjang tahun (HR Ibnu Abi ad-Dunya; Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).


Rasulullah saw. pun pernah menyampaikan kabar gembira kepada para Sahabat:


أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ. فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ. تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةَ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ. لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ 


Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadhan). Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada Bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Neraka Jahim ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi (HR Ahmad dan an-Nasa’i).


Sebagian ulama menyatakan hadis di atas sebagai dasar sebagian orang mengucapkan tahni’ah (selamat) kepada sebagian yang lain karena kedatangan Bulan Ramadhan. Bagaimana seorang Muslim tidak bergembira dengan pintu-pintu surga yang dibuka? Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira karena pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana pula orang berakal tidak bergembira saat setan-setan dibelenggu? (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).


Karena itulah Baginda Rasulullah saw. pun selalu merindukan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan beliau sampai berdoa sejak memasuki awal Bulan Rajab dengan doa: 


 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ 


Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban, serta sampaikanlah ke Bulan Ramadhan (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).


Tak hanya dirindukan oleh Baginda Rasulullah saw., para Sahabat dan kaum Muslim yang hidup. Bahkan Imam Ibnu al-Jauzi berani bersumpah bahwa Ramadhan pun amat dirindukan oleh mereka yang sudah meninggal. Dikatakan oleh beliau:


تَاللهِ لَوْ قِيْلَ لِأَهْلِ الْقُبُوْرِ تَمنَّوْا لَتَمَنَّوُا يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ


Demi Allah, andai dikatakan kepada penghuni kubur, "Berangan-anganlah kalian!" Niscaya mereka berangan-angan agar dapat berjumpa dengan Ramadhan meski hanya satu hari saja (Ibnu al-Jauzi, At-Tabshirah, 2/78).


Ramadhan dan Ketakwaan


Ramadhan selalu hadir membawa harapan. Harapan akan ampunan, perubahan dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  


Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).


Takwa yang Allah SWT harapkan dari seorang Muslim tentu bukan takwa sesaat. Bukan takwa musiman. Bukan takwa yang hidup selama Ramadhan, lalu padam setelah Ramadhan berakhir. Yang diminta adalah takwa yang terus menyala hingga akhir hayat kita. Yang dituntut adalah takwa yang sebenarnya. Takwa yang paripurna. Demikian sebagaimana yang Allah SWT firmankan:


﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim (TQS Ali ‘Imran [3]: 102).


Apa Itu Takwa? 


Para Sahabat memiliki pemahaman mendalam tentang takwa. Di antara definisi indah tentang takwa adalah yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra.:


التَّقْوَى: الخَوْفُ مِنَ اْلجَلِيْلِ؛ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ؛ وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ؛ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ


Takwa itu adalah: (1) Memiliki rasa takut kepada Zat Yang Mahaagung [Allah SWT]); (2) Mengamalkan apa yang telah Allah turunkan [al-Quran]); (3) Merasa cukup dengan [harta] yang sedikit); (4) Mempersiapkan bekal [amal] untuk menghadapi Hari Penggiringan [Hari Kiamat]) (Muhammad Shaqr, Dalîl al-Wâ’izh, 1/546). 


Salah satu tanda takwa di atas adalah mengamalkan al-Quran. Tentu secara keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Allah SWT berfirman:


﴿أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ، فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ، وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾


Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang melakukan tindakan demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat keras. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Baqarah [2]: 85).


Tidak ada hak bagi seorang Muslim untuk membedakan hukum-hukum Allah. Semua wajib ditaati. Tidak boleh hanya menerima hukum shaum dan shalat saja; tetapi menolak hukum Allah dalam muamalah; politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan atau kehidupan sosial; termasuk hudûd. Allah SWT berfirman:


﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208). 


Agar Puasa Tak Sia-sia


Ramadhan adalah madrasah takwa. Akan tetapi, shaum Ramadhan bisa sia-sia belaka jika dijalani tanpa kesungguhan, juga tanpa benar-benar meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:


كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ


Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali laparnya saja... (HR Ahmad dan Ibn Majah).


Saat shaum Ramadhan tidak dijalani dengan penuh kesungguhan, apalagi di dalamnya banyak diwarnai dengan dosa kemaksiatan, maka Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan shaum yang demikian. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda: 


مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بِهِ، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ


Siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (keji), maka Allah tidak butuh upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya (HR al-Bukhari).


Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah menahan diri dari segala maksiat dan dosa. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari tindakan merugikan orang lain. Menahan diri dari ragam transaksi haram. Menahan hati dari riya dan hasad. Termasuk menahan dari melakukan ragam kezaliman. Salah satu tindakan zalim terbesar adalah saat manusia—terutama para penguasa sebagai pemilik kekuasaan—enggan berhukum dengan hukum Allah SWT. Demikian sebagaimana firman-Nya: 


وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Siapa yang tidak berhukum dengan wahyu yang Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim (TQS al-Ma’idah [5]: 45).


Bahkan kita dilarang cenderung—apalagi memihak—kepada para pelaku kezaliman. Allah SWT berfirman:


وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ


Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim sehingga kalian disentuh api neraka (TQS Hud [11]: 113).


Sebaliknya, takwa paripurna menuntut kita agar berlaku adil dan berpihak pada keadilan. Demikian sebagaimana yang Allah firmankan:


إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ


Sesungguhnya Allah menyuruh (kita) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat; serta melarang dari perbuatan keji, mungkar dan lalim (TQS an-Nahl [16]:90).


Penutup


Alhasil, mari kita isi Bulan Ramadhan dengan ragam amal kebajikan, selain shaum dan shalat tarawih. Di antaranya: memperbanyak membaca, menghafal dan mengamalkan al-Quran; menghadiri majelis-majelis ilmu; banyak bersedekah; meningkatkan kepedulian kepada sesama; menggiatkan dakwah Islam; dan makin bersemangat memperjuangkan syariah-Nya agar bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita.


Jangan lupa, tinggalkan segala dosa. Baik dosa kepada Allah SWT maupun dosa kepada sesama manusia. Baik dosa besar maupun dosa kecil yang sering dianggap tak seberapa. Semoga dengan itu Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang benar-benar bertakwa.


WalLâhu a‘lam bi ash-shawâb. []


---*---


Hikmah:


Rasulullah saw. bersabda:


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ...


Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Diri-Ku dan Aku pula yang akan langsung memberikan balasannya. (HR al-Bukhari). []


---*---


UPDATE GAZA 16 Februari 2025


Statistik 24 Jam Terakhir


Akibat agresi Israel di Jalur Gaza:

• 10 syuhada (martir)

• 9 korban luka


Masih terdapat korban di bawah reruntuhan dan di jalanan, sementara ambulans dan tim pertahanan sipil belum mampu menjangkau mereka.


Sejak Gencatan Senjata (11 Oktober)

• Total syuhada: 601

• Total luka-luka: 1.607

• Total penahanan: 726


Statistik Kumulatif sejak 7 Oktober 2023

• Total syuhada: 72.061

• Total luka-luka: 171.715


Sumber: Kementerian Kesehatan Gaza

15 Februari 2025


Krisis Kesehatan Gaza


Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan:

• Lebih dari 20.000 pasien dan korban luka menunggu izin berobat ke luar negeri.

• Penyeberangan Rafah masih beroperasi secara terbatas dan tidak memadai menghadapi bencana kemanusiaan.

• Banyak pasien dalam kondisi kritis, termasuk penderita:

  o Kanker

  o Penyakit jantung

  o Gagal ginjal

  o Cedera berat yang memerlukan operasi lanjutan


Blokade dan serangan berulang terhadap fasilitas kesehatan memperburuk kondisi medis di Gaza.


Perkembangan Politik & Militer

• Serangan terbaru Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, termasuk 5 orang di kamp pengungsian Jabalia.

• Perdana Menteri Israel menyatakan akan mencabut kewarganegaraan dua warga Palestina-Israel yang dituduh melakukan serangan.

• Perwakilan Palestina di PBB menyerukan tekanan internasional atas perluasan kontrol Israel di Tepi Barat.

• Sejumlah anggota Kongres AS menyatakan kekhawatiran bahwa langkah Israel di Tepi Barat berpotensi menjadikan pendudukan bersifat permanen.


Investigasi Senjata


Investigasi Al Jazeera melaporkan:

• Tim Pertahanan Sipil Gaza mendokumentasikan 2.842 korban yang disebut “menguap” akibat suhu ledakan sangat tinggi.

• Disebutkan penggunaan amunisi termal dan termobarik yang menghasilkan suhu hingga 3.500°C.

• Beberapa jenis bom yang disebut dalam laporan:

  o MK-84

  o BLU-109

  o GBU-39


Para ahli menjelaskan suhu ekstrem dan tekanan ledakan dapat menyebabkan kehancuran jaringan tubuh secara instan.


Pernyataan Politik


Pejabat Hamas, Osama Hamdan:

• Menolak perwalian asing atas Gaza.

• Menyatakan pasukan internasional, jika ada, hanya boleh bertugas di perbatasan.

• Menegaskan bahwa pasukan asing tidak boleh menggantikan atau memperkuat pendudukan Israel.

• Hamas menyebut telah berkomunikasi dengan Indonesia terkait kemungkinan pengiriman pasukan stabilisasi.

Posting Komentar untuk "AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA "