Rasa prihatin bukanlah tanda keputusasaan. Justru sebaliknya, prihatin adalah indikator iman yang masih bernyawa. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan dan tidak lagi mengusik hati, di situlah bahaya besar mengintai.
Hari ini, keprihatinan itu semakin nyata. Kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, perzinahan dan prostitusi menjamur, sementara jargon “penertiban” dan “penegakan hukum” sering kali terdengar setengah-setengah. Masyarakat dibuat bingung: yang kecil mudah disentuh hukum, yang kuat seakan kebal.
Kemungkaran yang Dilindungi, Hukum yang Tumpul
Di banyak kota—bahkan hingga daerah yang dikenal religius seperti Ciamis—fenomena tempat maksiat bukan lagi isu tersembunyi. Ia ada, terlihat, dan diketahui publik. Ironisnya, sebagian justru aman dari penindakan, seolah memiliki “tameng”.
Inilah yang melukai rasa keadilan masyarakat. Amar ma’ruf nahi munkar berjalan selektif. Ada razia, tapi ada pula toleransi aneh terhadap bentuk kemaksiatan tertentu selama dianggap “tidak mengganggu” atau “ada kepentingan ekonomi”. Maka publik pun bertanya dengan getir:
“Sebenarnya negara ini berdiri untuk siapa?”
Akar Masalah: Sistem Sekuler Kapitalistik
Masalah ini bukan sekadar soal oknum. Ini soal sistem.
Sistem kapitalisme-sekuler menjadikan manfaat materi sebagai ukuran utama, bukan halal-haram. Dalam logika ini, sesuatu bisa dianggap “aman” selama menguntungkan, meski jelas melanggar syariat.
Inilah yang dalam literatur Islam disebut sebagai:
فصل الدين عن الحياة
Pemisahan agama dari kehidupan.
Padahal Allah ﷻ telah menegaskan:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Islam bukan hanya mengatur shalat dan puasa, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hukum, ekonomi, politik, dan sosial.
Ketika Negara Tak Menjadi Perisai
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa fungsi kepemimpinan adalah melindungi umat dari kerusakan dan kezaliman, bukan membiarkan kemungkaran, apalagi melindunginya. Ketika peran ini tidak berjalan, maka yang muncul adalah kekacauan moral dan ketidakadilan hukum.
Politik Global: Luka yang Sama
Keprihatinan ini makin dalam ketika melihat arah politik global. Presiden Indonesia justru terlibat dalam skema “Board of Peace” yang digagas Amerika Serikat—negara yang rekam jejaknya penuh intervensi dan penjajahan, termasuk terhadap Palestina.
Istilah “perdamaian” sering kali hanya bungkus halus untuk melanggengkan dominasi. Sejarah mengajarkan, banyak penjajahan dilakukan atas nama stabilitas, rekonstruksi, dan peace.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 120)
Bukan Furu’iyah, Tapi Pokok Persoalan
Perlu ditegaskan: perbedaan qunut dan tidak qunut, tahlilan atau tidak, Nisfu Sya’ban atau tidak—itu semua furu’iyah. Umat Islam boleh berbeda di sana.
Namun kerusakan sistemik hari ini bukan lahir dari perbedaan furu’, melainkan dari ditinggalkannya hukum Allah dalam mengatur kehidupan. Ketika syariat disingkirkan, yang muncul adalah hukum buatan manusia yang mudah dikompromikan oleh kepentingan.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Jalan Kesadaran
Menyuarakan kebenaran bukan untuk mencari sensasi, apalagi provokasi. Ini adalah bentuk cinta kepada umat. Diam justru membuat kebusukan dianggap normal.
Allah ﷻ berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Keprihatinan ini semoga tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi berubah menjadi kesadaran kolektif. Bahwa selama syariat Islam tidak diterapkan secara kaffah, problem yang sama akan terus berulang—berganti wajah, berganti zaman.
Mari jujur melihat keadaan, dewasa menyikapi perbedaan, dan bersatu pada perkara pokok: menegakkan kehidupan yang diatur dengan hukum Allah, demi keadilan, kemuliaan, dan keselamatan umat.
Wallāhu a‘lam bisshawāb.


Posting Komentar untuk "JUJUR, SEBENARNYA PRIHATIN MELIHAT KONDISI SEKARANG‼️😓"