Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang masih memberi kita umur, kesempatan, dan kesadaran hingga hari ini. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Jika sebelumnya kita mengatakan “sepekan lagi menuju Ramadhan”, maka hari ini hitungannya semakin dekat: 5 hari lagi menuju Ramadhan 1447 H, yang insyā’ Allāh akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 M berdasarkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Lima hari.
Bukan waktu yang panjang.
Bukan pula waktu yang bisa disia-siakan.
Ramadhan adalah bulan perubahan. Namun perubahan tidak datang tiba-tiba pada malam pertama tarawih. Perubahan lahir dari kesadaran yang dipersiapkan sebelum Ramadhan datang.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrīm: 8)
Maka 5 hari ini adalah kesempatan emas untuk taubat yang serius, bukan sekadar ucapan di lisan. Taubat dari kelalaian pribadi, dan juga dari sikap diam terhadap kerusakan yang nyata di tengah umat.
Realita yang kita saksikan belum berubah. Kezaliman masih ada. Ketimpangan masih nyata. Rakyat kecil masih terhimpit. Umat masih mudah dipecah-belah. Sistem kehidupan yang jauh dari aturan Allah terus melahirkan masalah demi masalah.
Allah ﷻ telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rūm: 41)
Kerusakan bukan sekadar karena individu yang salah, tapi karena aturan yang dijadikan pijakan bukan aturan Allah ﷻ. Ketika hukum manusia lebih diutamakan daripada hukum-Nya, maka ketidakadilan menjadi biasa, kebatilan menjadi sistemik.
Namun Ramadhan mengajarkan satu hal penting:
Ketaatan tidak boleh parsial.
Tidak cukup hanya shalat dan puasa, sementara dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik kita rela hidup dalam aturan yang bertentangan dengan syariat. Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi manhaj kehidupan.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini jelas: kaffah, menyeluruh. Bukan setengah-setengah. Bukan hanya ketika Ramadhan.
Di sisi lain, 5 hari ini juga momentum memperbaiki hubungan antar sesama Muslim. Jangan lagi kita sibuk memperbesar perbedaan cabang, sementara pokok persoalan umat terbengkalai. Jangan mudah terprovokasi isu yang memecah ukhuwah.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurāt: 10)
Ramadhan harus menyatukan hati, bukan menambah jurang. Jangan sampai kita semangat tarawih, tapi masih mudah mencela saudara sendiri karena perbedaan kecil.
Lima hari ini mari kita gunakan untuk:
Memperbaiki niat
Membersihkan hati
Meluruskan tujuan hidup
Menguatkan komitmen terhadap Islam secara kaffah
Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah madrasah perubahan. Jika setelah Ramadhan kita tetap sama seperti sebelumnya, maka ada yang salah dalam cara kita menyambutnya.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Lima hari menuju Ramadhan adalah kesempatan terakhir untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya menambah amal ritual, tetapi melahirkan kesadaran untuk taat total kepada Allah ﷻ, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan istiqamah di jalan kebenaran.
Penulis menyadari bahwa dalam setiap tulisan tentu ada kekurangan. Apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan, menyinggung, atau tidak tepat dalam penyampaian, dengan segala kerendahan hati penulis memohon maaf lahir dan batin, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "5 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN"