Kalimat ini sering kita dengar.
Bahkan makin ke sini, makin normal diucapkan.
Ketika seseorang:
diingatkan untuk shalat
diajak ngaji
diajak tobat
diajak kembali ke aturan Allah
diajak hidup sesuai syariat Islam
Lalu dijawab dengan enteng:
“Ngapain ngatur-ngatur hidup gue? Urusan gue sama Tuhan.”
Sekilas terdengar tegas.
Padahal kalau dipikir dalam-dalam… ini bukan sekadar emosi, tapi cermin cara berpikir sekuler.
🔍 Sebentar… Kamu Muslim Kan?
Kalau memang Muslim, mari jujur.
Islam tidak pernah mengajarkan:
“Urus dirimu sendiri, jangan peduli orang lain.”
Justru sebaliknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Saudara itu:
saling peduli
saling menasihati
saling mengingatkan
bukan saling cuek apalagi saling menjauh
Kalau ada saudaramu mau jatuh ke lubang,
apa kamu diam sambil bilang:
“Itu urusan dia, bukan urusan gue”?
Kalau iya, itu bukan ukhuwah, tapi individualisme.
🧠 Akar Masalahnya: Sekularisme
Kalimat “hidup gue bukan urusan lu” lahir dari satu paham: 👉 Sekularisme
Apa itu sekularisme? ➡️ Memisahkan agama dari kehidupan. ➡️ Agama cuma urusan pribadi, ritual, masjid. ➡️ Di luar itu, bebas.
Makanya:
shalat boleh
puasa silakan
tapi jangan ngatur cara hidup
jangan sentuh ekonomi, pergaulan, hukum, dan aturan sosial
Padahal Islam bukan agama ritual doang.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Kata “kaffah” itu jelas:
➡️ total
➡️ menyeluruh
➡️ tidak pilih-pilih
⚖️ Nasehat Itu Perintah, Bukan Kepo
Dalam Islam, saling mengingatkan bukan pilihan, tapi kewajiban.
Allah ﷻ berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr)
Perhatikan:
tawāṣau bil-ḥaqq
tawāṣau biṣ-ṣabr
Saling menasihati.
Bukan saling membiarkan.
Kalau menasihati dianggap “ikut campur”,
maka ayat ini harus dicoret (dan itu mustahil).
🚨 Ironinya
Lucunya:
dinasihati soal agama → dibilang sok suci
ditegur maksiat → dibilang toxic
diingatkan shalat → dibilang fanatik
Tapi:
disuruh ikut sistem riba → dianggap wajar
diseret budaya rusak → dianggap modern
hidup diatur manusia → dianggap normal
Ini bukan kebebasan.
Ini penjajahan cara berpikir.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Menasihati bukan berarti merasa paling benar.
Menasihati adalah:
bukti iman
tanda peduli
wujud cinta karena Allah
Orang yang benar-benar sayang,
tidak akan membiarkan saudaranya terus salah.
Semoga kita:
tidak alergi dengan nasehat
tidak marah saat diingatkan
sadar bahwa Islam bukan cuma ibadah, tapi aturan hidup
Dan semoga Allah menjadikan kita:
orang yang mau menasihati
dan orang yang lapang dada menerima nasehat
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Posting Komentar untuk "“NGAPAIN ATUR-ATUR HIDUP GUE, BUKAN URUSAN LU!”: Cerminan Bahwa Sistem yang Mengatur Kehidupan Kita Saat Ini SekULERNYA POL!!"