“NGAPAIN ATUR-ATUR HIDUP GUE, BUKAN URUSAN LU!”: Cerminan Bahwa Sistem yang Mengatur Kehidupan Kita Saat Ini SekULERNYA POL!!

 




Kalimat ini sering kita dengar.

Bahkan makin ke sini, makin normal diucapkan.

Ketika seseorang:

diingatkan untuk shalat

diajak ngaji

diajak tobat

diajak kembali ke aturan Allah

diajak hidup sesuai syariat Islam

Lalu dijawab dengan enteng:

“Ngapain ngatur-ngatur hidup gue? Urusan gue sama Tuhan.”

Sekilas terdengar tegas.

Padahal kalau dipikir dalam-dalam… ini bukan sekadar emosi, tapi cermin cara berpikir sekuler.


🔍 Sebentar… Kamu Muslim Kan?


Kalau memang Muslim, mari jujur.

Islam tidak pernah mengajarkan:

“Urus dirimu sendiri, jangan peduli orang lain.”

Justru sebaliknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Saudara itu:

saling peduli

saling menasihati

saling mengingatkan

bukan saling cuek apalagi saling menjauh

Kalau ada saudaramu mau jatuh ke lubang,

apa kamu diam sambil bilang:

“Itu urusan dia, bukan urusan gue”?

Kalau iya, itu bukan ukhuwah, tapi individualisme.


🧠 Akar Masalahnya: Sekularisme


Kalimat “hidup gue bukan urusan lu” lahir dari satu paham: 👉 Sekularisme

Apa itu sekularisme? ➡️ Memisahkan agama dari kehidupan. ➡️ Agama cuma urusan pribadi, ritual, masjid. ➡️ Di luar itu, bebas.

Makanya:

shalat boleh

puasa silakan

tapi jangan ngatur cara hidup

jangan sentuh ekonomi, pergaulan, hukum, dan aturan sosial

Padahal Islam bukan agama ritual doang.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).”

(QS. Al-Baqarah: 208)

Kata “kaffah” itu jelas:

➡️ total

➡️ menyeluruh

➡️ tidak pilih-pilih

⚖️ Nasehat Itu Perintah, Bukan Kepo

Dalam Islam, saling mengingatkan bukan pilihan, tapi kewajiban.

Allah ﷻ berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr)

Perhatikan:

tawāṣau bil-ḥaqq

tawāṣau biṣ-ṣabr

Saling menasihati.

Bukan saling membiarkan.

Kalau menasihati dianggap “ikut campur”,

maka ayat ini harus dicoret (dan itu mustahil).

🚨 Ironinya

Lucunya:

dinasihati soal agama → dibilang sok suci

ditegur maksiat → dibilang toxic

diingatkan shalat → dibilang fanatik

Tapi:

disuruh ikut sistem riba → dianggap wajar

diseret budaya rusak → dianggap modern

hidup diatur manusia → dianggap normal

Ini bukan kebebasan.

Ini penjajahan cara berpikir.


■ HIKMAH & HARAPAN ■


Menasihati bukan berarti merasa paling benar.

Menasihati adalah:

bukti iman

tanda peduli

wujud cinta karena Allah

Orang yang benar-benar sayang,

tidak akan membiarkan saudaranya terus salah.

Semoga kita:

tidak alergi dengan nasehat

tidak marah saat diingatkan

sadar bahwa Islam bukan cuma ibadah, tapi aturan hidup

Dan semoga Allah menjadikan kita:

orang yang mau menasihati

dan orang yang lapang dada menerima nasehat

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "“NGAPAIN ATUR-ATUR HIDUP GUE, BUKAN URUSAN LU!”: Cerminan Bahwa Sistem yang Mengatur Kehidupan Kita Saat Ini SekULERNYA POL!!"