MENYIKAPI MUSIBAH – Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam)☕

 



BISMILLAH…


Segala puji hanya milik Allah—Rabb semesta alam—yang dengan nikmat-Nya kita bisa kembali berkumpul dalam kajian OBSESI Obrolan Seputar Islam.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta kita semua yang terus berusaha mengikuti seluruh tuntunannya serta syariat yang dibawanya.


Kajian OBSESI malam ini kembali digelar di Masjid Ath-Thahiriyyah, Bojonghuni–Maleber Ciamis, dengan menghadirkan narasumber kita yaitu Ustadz Iyus Shodiqin. Beliau membahas tema yang sedang “musim” dan sangat relevan:


“MENYIKAPI MUSIBAH”



---


🔍 APA ITU MUSIBAH?


Menurut ulama besar Muhammad Murtadha az-Zabidi:

→ Musibah adalah setiap perkara buruk yang menimpa manusia dan membuatnya tidak suka.


Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika tertimpa sesuatu yang tidak enak langsung membaca:


> إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”

Kalimat ini disebut kalimat irtiyā‘, yaitu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.





---


📌 MUSIBAH ADALAH QADHA ALLAH


Musibah berada di luar kontrol manusia, maka tidak dihisab.


Allah menegaskan:


> مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

(QS. At-Taghābun: 11)



Kata ustadz:

“Moal galau! Sadayana tos dina kendali Allah.”



---


🌿 SABAR: REAKSI WAJIB SEORANG MUKMIN


> وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ... وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)



Sabar itu dua:


1. Sabar dalam taat



2. Sabar menjauhi maksiat


> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, dan tetaplah bersiap siaga. Bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” 

(QS. Ali ‘Imran: 200)




> إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)



Hadis: 


> إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Ahmad & Tirmidzi)

Ujian itu menjadi sebab:

✓ Diangkatnya derajat

✓ Dihapusnya dosa





---


⛔ BUKAN CUMA QADHA’: ADA PELAJARAN DI DALAMNYA


> وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Apa saja musibah yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar.” (QS. Asy-Syūrā: 30)



> ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rūm: 41)




Para ulama menafsirkan:

Kerusakan hari ini—di alam, masyarakat, politik—adalah cermin untuk instropeksi, bukan hanya menyalahkan takdir.


Musibah memang qadha Allah, tetapi manusia wajib mengambil ibrah dan memperbaiki diri.



---


■ HIKMAH & HARAPAN ■


Sedulurku sekalian…


Kerusakan negeri saat ini terjadi bukan hanya karena alam, tetapi juga akibat sistem kapitalis sekuler yang memberi ruang besar kepada oligarki untuk mengeruk kekayaan bumi tanpa memperhatikan rakyat kecil. Bencana yang terjadi di Sumatra adalah salah satu contohnya.


Musibah adalah cara pandang manusia.

Azab adalah cara pandang Allah — dan itu tidak pandang bulu; orang beriman pun bisa terkena imbasnya.


Di sinilah pentingnya amar makruf nahi munkar.

Musibah seharusnya menjadi alarm keras agar kita kembali kepada syariat, meninggalkan sistem rusak, dan kembali pada aturan Rabb kita.


Semoga Allah melembutkan hati kita, memberikan kita kejernihan berpikir, dan menjadikan kita hamba yang mau berubah dan kembali kepada aturan-Nya.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "MENYIKAPI MUSIBAH – Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam)☕"