Indonesia belakangan ini seperti tidak diberi jeda.
Banjir bandang, longsor, tanah bergerak, cuaca ekstrem, krisis moral, krisis ekonomi, semua numpuk jadi satu.
Dan yang paling sering terlihat adalah satu pola:
Masyarakat sibuk mencari solusi, tapi selalu di tempat yang salah.
Ada yang menyalahkan cuaca.
Ada yang menyalahkan gunung.
Ada yang menyalahkan pemerintah tanpa memikirkan sistem yg dipakainya apa.
Ada yang menyalahkan alam.
Tapi jarang sekali ada yang bertanya:
“Apakah kita sudah kembali pada aturan Sang Pencipta?”
---
BENCANA BUKAN SEKADAR FENOMENA ALAM
Allah sudah memberi pola sebab-akibat yang sangat jelas:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ اٰمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِۚ وَلٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ
“Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami timpakan azab karena apa yang mereka lakukan.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini bukan teori motivasi, tapi rumus kehidupan.
Ketika aturan Allah ditinggalkan → berkah tertutup.
Ketika larangan Allah dilanggar → musibah datang.
Banjir yang membawa kayu-kayu besar, longsor akibat eksploitasi, banjir bandang karena tambang liar—itu semua bukan “sekadar hujan lebat”.
Hujan menurunkan air, bukan kayu.
Kayu datang dari tangan manusia yang rusak oleh sistem kapitalisme-sekuler.
---
MASALAHNYA BUKAN PADA ALAM, TAPI PADA SISTEM
Hari ini manusia mengatur hidupnya dengan hukum buatan sendiri.
Padahal Allah sudah memperingatkan tegas:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Barang siapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
(QS. Al-Ma’idah: 44)
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“…maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Ma’idah: 45)
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“…maka mereka itulah orang-orang fasik.”
(QS. Al-Ma’idah: 47)
Ini bukan sekadar ancaman individual.
Ini teguran kepada sebuah umat, sebuah bangsa, bahkan sebuah peradaban.
Selama masyarakat memakai hukum hasil voting, kompromi, atau kepentingan oligarki, maka:
– keadilan akan timpang
– alam dirusak
– harta dikuras
– bencana datang
– berkah hilang
Karena akar masalahnya jelas:
Sistem buatan manusia menggantikan aturan Allah.
---
KENAPA SOLUSINYA SELALU GAGAL?
Karena masyarakat hanya menambal sulam akibat, bukan mencabut akar.
Sistem ekonomi kapitalis rusak → solusinya subsidi.
Tambang liar merusak hutan → solusinya relokasi warga.
Kesengsaraan meningkat → solusinya ganti pejabat.
Moral anak-anak hancur → solusinya seminar motivasi.
Semua itu gejala, bukan akar.
Akar satu-satunya adalah:
Tidak diterapkannya aturan Allah pada seluruh aspek kehidupan.
Islam bukan hanya shalat, puasa, umrah, haji.
Islam itu sistem hidup yang mengatur:
– politik
– ekonomi
– sosial
– kehutanan
– lingkungan
– peradilan
– pemerintahan
Ketika itu ditinggalkan, maka kerusakan pasti muncul.
قَدْ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Inilah kondisi Indonesia hari ini.
---
SAATNYA KEMBALI
Kembali pada aturan Allah bukan sekadar slogan.
Itu kebutuhan hidup.
Itu tuntutan iman.
Itu jalan selamat dari bencana, krisis, dan kegelisahan kolektif.
Selama kehidupan diatur syariat, maka:
– alam diberkahi
– bumi ditata
– hutan dijaga
– para pemimpin takut dosa
– rakyat terlindungi
– berkah turun tanpa batas
Dan itu sudah dijanjikan Allah.
---
● HIKMAH & HARAPAN ●
Semua peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan.
Bencana bukan kebetulan. Itu cara Allah “menyentil” manusia agar kembali.
Jika umat kembali pada iman, takwa, dan hukum Allah, maka pintu keberkahan langit–bumi akan terbuka selebar-lebarnya.
Semoga kita tidak termasuk orang yang mendustakan peringatan Allah.
Semoga kembali pada aturan-Nya menjadi arus besar umat, bukan hanya wacana semu.
Semoga Allah memudahkan langkah umat ini kembali kepada Islam secara kaffah.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "YUK KEMBALI PADA ATURAN ALLAH"