Suasana menjelang subuh di Kagungan Dalem Mesjid Gedhè Kauman Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

 


Perjalanan itu terjadi pada April 2023 M / Syawal 1444 H, tepat sekitar sepekan setelah umat Islam merayakan Idul Fitri 1444 H menurut Muhammadiyah, yang jatuh pada Jum’at, 21 April 2023 M.

Saya turun dari kereta sekitar pukul 02.30 dini hari. Angin Jogja terasa hangat, khas kota budaya, tapi suasana malamnya tetap menyimpan kesyahduan sendiri. Dari stasiun saya berjalan kaki menuju selatan—melewati Malioboro, menuju titik Nol Jogja, lalu menyusuri jalan sampai Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


1. Malioboro yang Lengang & Kontras Suasana Kota


Sepanjang Malioboro masih tampak beberapa orang berbaring di emperan. Ada yang mungkin pengamen, ada yang gelandangan, ada pula musafir. Suasananya agak panas, semrawut, dan sumpek, khas area kota besar yang tidak pernah benar-benar tidur.


Tapi begitu saya memasuki Alun-alun Lor, semuanya mendadak berubah.


Seakan-akan suasana sumpek kota lenyap langsung.

Pandangan saya tertuju pada dua pohon beringin kembar yang berdiri gagah di tengah alun-alun—simbol kaseimbangan lan kasekten dalam tradisi Jawa. Dari sana, mata saya melayang pada gemerlap cahaya Pendhapa Keben dan bangunan Kraton yang berdiri anggun dan megah.


Entah kenapa, tiba-tiba suasana batin menjadi sangat teduh.

Ada atmosfer budaya Jawa yang pekat—seperti ada alunan gamelan halus, padahal tidak ada orang yang memainkannya. Seperti ada prajurit Kraton berjajar, dan samar-samar terdengar suara drum band ala prajurit mancadarma.


Aneh tapi nyata. Jogja memang punya “roh”-nya sendiri.


2. Masjid Gedhe Kauman: Saksi Sejarah Syariat Islam di Tanah Jawa


Saya berbelok ke barat alun-alun, menuju masjid besar yang tampak kokoh dan anggun:

Kagungan Dalem Mesjid Gedhè Kauman, masjid resmi milik Kraton Yogyakarta.


Masjid ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1773 M, di awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Masjid ini menjadi bukti kuat bahwa Kraton Yogyakarta sejak awal berdiri telah menjadikan syariat Islam sebagai fondasi pemerintahan.


Arsitekturnya murni gaya Jawa:


• atap tajug tumpang tiga,


• serambi luas,


• saka guru dari kayu jati,


• dan ornamen kraton yang sangat khas.



Di depan masjid berdiri dua bangunan kecil (pagongan) tempat menyimpan gamelan sekaten, yang dibunyikan saat acara-acara besar Islam seperti Maulid Nabi dalam penanggalan Jawa—yang sebenarnya adalah penanggalan Islam juga, hanya bahasanya saja yang “njawani”.


3. Bertemu Abdi Dalem yang Mengumandangkan Adzan Prawengin


Saat saya sedang merekam vlog, tiba-tiba dari arah serambi keluar seorang bapak mengenakan pakaian adat Jawa lengkap:


blangkon,


sorjan lurik,


dan keris terselip di punggungnya.



Beliau tersenyum dan mengacungkan jempol—seolah mengapresiasi bahwa saya sebagai pendatang tetap menghormati budaya dan masjid ini.


Tak lama kemudian, beliau mengumandangkan adzan awal (prawengin), sekitar satu jam sebelum datangnya Subuh. Suara adzan yang lembut memantul indah di serambi masjid dan halaman Kraton—membangunkan hati lebih dulu sebelum membangunkan fisik.


4. Mampir Cari Nasi, Adzan Subuh Pun Tiba


Karena perut lapar, saya keluar sebentar cari makanan. Alhamdulillah di sebelah barat alun-alun ada warung kecil yang masih buka. Saya makan mie kuah pakai telur dan sayur, murah cuma Rp15.000. Jogja memang sering membuat orang merasa “diuwongkè”.


Sekitar pukul 04.25, adzan Subuh pun berkumandang.

Saat itulah saya kembali ke masjid, ingin merasakan amalan salat Subuh di masjid yang begitu bersejarah ini.


5. Amalan Masjid Gedhe: Kental Jawa, Tapi Coraknya Muhammadiyah


Dalam hati saya berpikir:

“Ini kan masjid Kraton, budaya Jawa-nya kental banget… mungkin corak amalannya mirip NU.”


Ternyata… tidak.


Justru amalan salatnya sesuai tarjih Muhammadiyah:


• Tidak ada qunut Subuh


• Tidak ada wirid berjamaah


• Tidak ada pupujian setelah adzan


• Bacaan bismillah Al-Fatihah disirr


• Surat-suratnya panjang, tartil, dan tenang



Saya langsung “ngeh”:

Ya wajar, Muhammadiyah lahirnya di Kauman, Jogja. Maka berada di lingkungan Kraton = berada di kandangnya Muhammadiyah.


Masjidnya sangat Jawa, tapi amalannya sangat mirip suasana Masjidil Haram: tenang, langsung berdiri setelah adzan iqamah, tanpa ritual tambahan.


Dan imamnya bacaannya bagus, tartil, dan khusyu’. Suasana Subuh di situ punya ruh yang sulit dijelaskan—Islam dan Jawa menyatu tanpa saling menenggelamkan.



---


HIKMAH & HARAPAN


1. Jogja mengajarkan bahwa Islam dan budaya Jawa bukan musuh.

Yang memisahkan keduanya justru cara berpikir modern yang sekuler dan liberal.



2. Kesultanan Mataram (termasuk Yogyakarta) sejak awal berdiri berbasis syariat Islam.

Maka budaya Jawa yang otentik pada dasarnya mengarah pada tauhid dan adab Islam yang kaffah.



3. Masjid Gedhe Kauman menjadi saksi bahwa dakwah, budaya, dan kekuasaan bisa berpadu dalam bingkai Islam tanpa kehilangan jati diri.



4. Bangun sebelum Subuh adalah tanda kesungguhan iman.

Waktu-waktu itulah denyut spiritual umat Islam sedang kuat-kuatnya.




> Mari hidupkan kembali subuh-subuh kita, karena kebangkitan Islam dimulai dari jamaah Subuh yang menghidupkan masjid.




Wallāhu a‘lam bish-shawāb…

Posting Komentar untuk "Suasana menjelang subuh di Kagungan Dalem Mesjid Gedhè Kauman Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat"