MUHAMMADIYAH LAHIR DI JOGJAKARTA PADA 18 NOVEMBER 1912

 


Bismillāhirrahmānirrahīm.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan agung yang ajarannya menjadi petunjuk sepanjang masa.



---


🌿 Latar Sosial Keagamaan Yogyakarta Sebelum 1912


Tepat hari ini Selasa, 18 November 2025 adalah hari ulang tahun Muhammadiyah ke 113 tahun sudah se abad lebih. Dulu sebelum lahirnya Muhammadiyah, kondisi keberagamaan masyarakat Yogyakarta jauh dari ideal. Islam memang sudah menyebar luas, tetapi pemahaman serta praktiknya bercampur dengan unsur-unsur mistik, tahayul, bid’ah, dan khurafat. Banyak keyakinan kejawen sinkretik yang berkembang, termasuk ajaran-ajaran hasil tafsir keliru tentang manunggaling kawula Gusti yang sering dikaitkan dengan Syaikh Siti Jenar.


Tidak sedikit masyarakat yang meyakini Islam sebagai ritual mistik, bukan agama yang menghadirkan petunjuk hidup yang sistemik dan rasional. Banyak amalan dilakukan tanpa dasar nash, bahkan tak jarang bertentangan dengan ajaran Rasulullah ﷺ.


Pada saat yang sama, penjajahan Belanda bukan hanya merampas sumber daya, tetapi juga menyusupkan ide-ide Barat seperti sekularisme, liberalisme, dan kristenisasi. Banyak orang Jawa yang terpengaruh dan sampai murtad.

Situasi ini tentu membuat para tokoh terutama dari Kraton dan ulama yang lurus hatinya merasa prihatin.



---


🌿 Masa Kecil & Lingkungan Kyai Ahmad Dahlan


Beliau lahir dengan nama Muhammad Darwis bin Abu Bakar, seorang abdi dalem ahli agama di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejak kecil, Darwis hidup di lingkungan yang secara budaya Jawa sangat kental, tetapi juga sarat amalan mistik yang bercampur dengan berbagai ritual tak berdalil.


Namun, sejak muda ia sudah dikenal cerdas, tekun belajar, dan haus ilmu. Ia membaca banyak kitab dan berdiskusi dengan para ulama. Ketika beranjak dewasa, rasa gelisah itu semakin besar melihat umat Islam semakin jauh dari ajaran Rasulullah ﷺ.



---


🌿 Perjalanan Haji & Perubahan Nama Menjadi Ahmad Dahlan


Muhammad Darwis berangkat ke Makkah untuk mencari ilmu. Di sana ia belajar langsung dari para ulama Haramain yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dari perjalanan ini, ia melihat Islam yang murni, tertata, dan penuh kehidupan intelektual.


Sepulangnya ke tanah air, ia mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan, sebagai simbol tekad baru untuk membawa pembaruan dan pemurnian ajaran Islam di Jawa.


Karena melihat semangat dan kesungguhannya, Sri Sultan Hamengkubuwono VII memberi dukungan penuh—bahkan memberi biaya untuk keberangkatan Ahmad Dahlan ke Makkah untuk yang kedua kalinya. Ini bukti bahwa Kraton Yogyakarta memiliki hubungan erat dengan upaya pemurnian dan penguatan syariat Islam.



---


🌿 Dakwah Berat: Dianggap Aneh, Diserang, Dikatakan Kafir


Ketika beliau mulai meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman sesuai ilmu hisab dan pengetahuan astronomi yang benar, masyarakat malah mencacinya, bahkan menyebutnya:


> “Kyai kafir! Ajarannya aneh!”




Langgar kecil yang ia bangun dengan jerih payah, tempat ia mengajar Al-Qur’an dan sunnah, dirubuhkan massa yang tak menerima perubahan.


Tapi apa yang dilakukan Kyai Dahlan?

Beliau tetap sabar, tetap tenang, tetap fokus pada dakwah.


> “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.”

الغرباء

(HR. Muslim)




Ini hadits yang beliau tempelkan di papan pengajian. Beliau ingin menegaskan bahwa kebenaran itu tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tapi oleh dalil yang sahih.



---


🌿 Lahirnya Muhammadiyah: 18 November 1912


Pada tanggal 18 November 1912, di Kauman Yogyakarta, berdirilah Muhammadiyah, sebuah gerakan yang diberi nama langsung oleh Kyai Dahlan.

Artinya jelas:


> Muhammad iyah = para pengikut Nabi Muhammad ﷺ




Tujuannya tegas: mengembalikan umat Islam hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, menolak takhayul, bid’ah, dan khurafat, serta menghadapi serangan pemikiran Barat yang ingin merusak umat.


Muhammadiyah tidak mengadopsi pemikiran Adam Smith, Montesquieu, Plato, atau filsafat Barat lainnya. Muhammadiyah sejak awal adalah gerakan manhaj nubuwwah—gerakan menjaga kemurnian Islam, sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.



---


🌿 Dalil-Dalil Pemurnian Islam


1. Kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ


> قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”

(QS. Āli ‘Imrān: 31)




2. Larangan mengada-adakan amalan baru


> وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang Rasul berikan, ambillah. Apa yang ia larang, tinggalkanlah.”

(QS. Al-Hasyr: 7)




3. Setiap bid’ah adalah sesat


> وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“…dan setiap bid’ah itu sesat.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)




Dalil-dalil inilah yang menjadi ruh gerakan pembaruan Kyai Dahlan.



---


🌿 Muhammadiyah: Bukti Peradaban Islam di Tanah Jawa


Dengan dukungan Kraton dan semangat para muridnya, dakwah Kyai Dahlan membesar, sehingga lahirlah sekolah, rumah sakit, panti asuhan, majelis tarjih, dan gerakan sosial yang luar biasa.

Semua dilakukan dengan satu prinsip: berdasarkan dalil yang kuat dan kemurnian ajaran Islam.


Ini menegaskan bahwa Islam adalah agama beradab, bukan mistik.

Islam adalah sistem hidup, bukan ritual kosong.

Islam adalah petunjuk yang memuliakan manusia, bukan menyesatkannya.



---


🌿 HIKMAH & HARAPAN


> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”

(QS. Muhammad: 7)




Dari kisah ini kita belajar bahwa:


Meluruskan agama sering membuat seseorang tampak “asing”.


Dakwah itu tidak selalu disukai, tetapi harus tetap disampaikan.


Kebenaran bukan diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kuatnya dalil.


Muhammadiyah lahir dari perjuangan besar, darah, air mata, dan kesabaran seorang ulama besar.


Sudah seharusnya kita menjaga warisan dakwah Kyai Dahlan dengan kembali kepada kemurnian Islam.



Semoga kita bisa menjadi penolong agama Allah, pembela kebenaran, dan penerus perjuangan pemurnian Islam di Nusantara ini.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "MUHAMMADIYAH LAHIR DI JOGJAKARTA PADA 18 NOVEMBER 1912"