Hijrah Itu Kadang Datang dari Arah yang Ora Diduga** Kulo iki yakin, setiap orang punya kisah hijrahnya masing-masing. Ada yang hijrah karena musibah, ada karena ikut kajian, ada yang karena cinta (ciyeee), dan ada juga yang… karena kereta api.
Lho kok iso? Yo iso! Wong kulo ini railfans garis keras, jadi apa-apa sing cedhak rel otomatis menarik minat. 😄
Tapi cerita ini bukan soal hobi kereta.
Ini cerita tentang bagaimana Allah menuntun seseorang lewat jalan yang unik—mulai dari perbedaan Idul Fitri 2023, kampus Darussalam Ciamis, sampai Jogokariyan Jogja—untuk menemukan Islam yang murni, Islam yang kaffah, dan cara berpikir yang akhirnya ngeklik.
---
Awal Mula: Dari Kampung kultur NU Tulen ke Kampus "Katanya Muhammadiyah"
Kulo niki besar di kampung NU tulen: Dusun Pancalan, Desa Purwajaya. Kultur tahlilan, qunut, dan tradisi khas pesantren itu lumrah. Tapi lucunya, meski budaya NU kuat… Mas Al dari dulu nggak pernah qunut Subuh. Cocok sekali sama Muhammadiyah tanpa kulo sadari 😆.
Pada tahun 2022 awal mula masuk kuliah, meskipun kulo lulusan SMA 2020, dan sebenarnya ada cerita lain lagi saat masa 2020-2021 itu.
Saat bilang ke tetangga bahwa kuliah di IAID/UID Darussalam, responnya langsung:
> “Lho kok nang kono?
Hati-hati, nanti kamu kedoktrin Muhammadiyah, terus gak tahlilan maneh!” 😱
Biasane wong ndeso yen ngomong soal Muhammadiyah mesti bayangane: anti tradisi, anti budaya, anti tahlil. Padahal realitane ora ngono-ngono banget.
Justru disitu muncul rasa penasaran:
> “Emang segitunya po? Kalo iya… kenapa harus takut?”
Dan dari rasa penasaran itulah pintu hijrah pertama dibuka.
---
Masuk Darussalam: Kok Rasane Mirip Muhammadiyah?
Begitu masuk kampus Darussalam:
Baca Al-Fatihah, bismillahnya pelan
Tidak ada qunut
Tidak ada wirid bareng
Kok yo mirip Muhammadiyah?
Ternyata unsur Persis juga kuat banyak yang bilang katanya lebih ke PERSIS (Persatuan Islam) sekilar mirip Muhammadiyah—makanya mirip-mirip cuma beda saat penetapan lebarannya saja kalo PERSIS setau saya cenderung masih bareng keputusan Pemerintah. Tapi secara umum Darussalam moderat, menerima banyak mazhab, NU tetap dominan.
Meski begitu… rasa penasaran kulo tentang Muhammadiyah makin gedhe.
Sampai akhirnya Allah membuka pintu berikutnya: kereta Rp10.000 menuju Jogjakarta 😂.
---
Kabur-kaburan ke Jogja: Plot Twist Hidayah
Tahun 2023 ada program tiket murah “Motis Selatan” cuma 10 ribu.
Kulo mikir:
> “Bandung wis nyobain… saiki Jogja sekalian!”
Berangkat tanpa izin ke orangtua, baru izin setelah sampai lokasi. Klasik pemuda perantau hehe.
Dan di Jogja… boom!
Semua bayangan tentang Muhammadiyah langsung mental.
Jogja itu:
Jawa banget
Tradisi Kraton kental
Tapi basis terbesar Muhammadiyah se-Indonesia
Dan pusatnya? Kampoeng Kauman—tepat nempel dengan pagar Kraton.
Justru NU-nya sedikit di kota Jogja, NU di Jogja itu lebihbanyak di Sleman terutama dekat gunung merapi karena berbatasan lngsung dengan Magelang Jateng. Ini mindblowing bagi kulo yang dibesarkan narasi “Islam murni itu anti-Jawa”.
---
Momentum Idul Fitri 2023:
Pertama Kali Merasakan "Berbeda dengan Mayoritas"** Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada Jum’at, pemerintah pada Sabtu.
Di Jogja, mayoritas ikut Jum’at—lapangan-lapangan penuh.
Kulo memilih ikut yang Jum’at, merasakan:
kemandirian berpikir
berdiri di atas dalil
tidak ikut arus mayoritas
Disinilah mental berani berbeda tumbuh.
---
Masuk ke Masjid Jogokariyan & Real Masjid:
Gerbang Besar Menuju Islam Kaffah** Inilah turning point sebenarnya.
Di Jogokariyan, kulo pertama kali mendengar:
Islam kaffah
syariat sebagai sistem hidup
Islam murni tanpa bid’ah
pentingnya dakwah
Islam bukan cuma urusan ritual
Oh iya kalo subuh disini tuh penuhnya polll koyok serasa solat Jum'at hehe
Di Real Masjid Condongcatur pun sama: dakwahnya fundamental, tegas, dan menyatukan umat lintas ormas.
Ditambah dapat buku:
Himpunan Putusan Tarjih (dari mesjid gedhe kauman)
Al-Wa’ie
Buku-buku pemikiran Islam lain
Sejak saat itu, pola pikir kulo “njeglek”—kaya lampu neon disambung ke listrik 10.000 watt 😆⚡
---
Kembali ke Ciamis:
Dicap Radikal, Wahabi, HTI, Dicuci Otak—Padahal Cuma Mulai Berfikir** Begitu balik kampus, kulo mulai kritis:
mempertanyakan tradisi yang tak berdalil
menolak ikut ritual yang dianggap tidak ada sunnahnya
fokus pada dalil sahih
bicara soal sistem Islam
Dan… jebret!
Label-label langsung datang:
“Radikal!”
“Wahabi!”
“HTI!”
“Sudah kedoktrin!”
“Ajarannya aneh!”
Padahal yang dilakukan cuma berusaha menjalankan Islam sesuai tuntunan & syariat.
---
Kenalan dengan Kajian Hizbut Tahrir:
Ternyata mirip sama yang didengar di Jogokariyan** Ini momen lucu tapi penting.
Salah seeorang teman kampus di Darussalam mengenalkan buku HTI.
Kulo sempat kaget:
> “Hah HTI?? Sing katanya ekstrem itu??”
Tapi setelah ikut kajian…
Eh lho koq mirip Jogokariyan??
Mirip yg diajak rekan Muhammadiyah di Jogja waktu itu??
Mirip dakwah ideologis yang dia dengar di Jogja??
Akhirnya temen di Jogja menjelaskan bahwa banyak juga kader Muhammadiyah yang mengaji pemikiran Islam secara mendalam—termasuk ke Hizb.
Bukan soal organisasi, tapi cara berpikirnya yang kaffah dan sistematis. Karena banyak juga yang ternyata liberalnya minta ampun!
Disitu kulo sadar:
ternyata yang selama ini membuat takut itu narasi masyarakat, bukan fakta
Islam kaffah itu satu, bukan milik satu ormas
masalah umat bukan beda fiqih, tapi politik & sistem
---
Realita Baru:
Kuliah di Kampus Islam Pun Bisa Sekuler** Ini pengamatan jujur:
Meskipun kuliah di kampus Islam, tapi:
narasi moderasi beragama kuat
nilai-nilai Islam tidak betul-betul dijadikan sistem
kurikulum banyak yang liberal
syariat hanya ditempatkan di ruang ritual
Inilah yang kemudian membuat kulo semakin yakin bahwa Islam harus diperjuangkan dalam bingkai kaffah, bukan dipreteli jadi agama ritual belaka.
---
Akhirnya Hijrah:
Bukan Doktrin, Tapi Hidayah** Sekarang kulo berdiri dengan mantap:
ikut kajian dakwah
memurnikan ibadah
berpikir sistemik
menolak bid’ah apapun bentuknya
memperjuangkan Islam sebagai aturan hidup
Dan meskipun banyak yang mencap “MuhTi (Muhammadiyah tapi HTI)”, “terdoktrin”, “cuci otak”—Kulo tetap berjalan.
Karena ini bukan doktrin,
ini hidayah.
---
HIKMAH & HARAPAN
Hikmah
1. Hidayah sering datang dari arah yang tak terduga.
Kadang lewat kereta murah, kadang lewat teman sederhana, kadang lewat buku kecil.
2. Berani berbeda adalah pintu awal menuju kebenaran.
Saat Idul Fitri 1444 H, kulo merasakan sendiri nikmatnya berdiri di atas dalil.
3. Islam kaffah itu bukan milik ormas tertentu.
Siapa saja yang mengkaji dengan jujur pasti sampai pada kesimpulan yang sama: Islam mengatur segala aspek kehidupan.
4. Label orang itu angin lalu.
Yang penting adalah bagaimana kita berdiri di hadapan Allah kelak.
---
Harapan
Semoga tetap istiqomah meski kadang futur.
Semoga pemikiran Islam makin kuat dan matang.
Semoga bisa menjadi pendidik PAI yang nggak sekadar ngajar fiqih wudhu, tapi menanamkan cara berpikir Islami.
Semoga Allah menjaga hati Mas Al dan menjadikan hijrah ini berkah hingga akhir hayat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sekian kisah hijrah kulo. Semoga onok manfaat, semoga bisa menginspirasi.


Posting Komentar untuk "Kisah Awal Mula Kulo Hijrah: Berawal dari kabur²an ke Jogja, kena setruman pemikiran Islam kaffah dari rekan pengurus Ranting Muhammadiyah Jogokariyan… terus dibilang radikal, wahabi, HTI, dan kawan-kawannya (versi kaum bid’ah lovers, liberalis, sekuleris) 😆"