Di tengah kehidupan yang diatur dengan paradigma kapitalis-sekuler, manusia dipaksa percaya bahwa “usaha tidak akan menghianati hasil.” Padahal, ini adalah cara pandang yang keliru dan bertentangan dengan aqidah Islam.
Islam mengajarkan bahwa hasil (rezeki) adalah hak prerogatif Allah, sedangkan usaha (ikhtiar) hanyalah wilayah manusia untuk mendapatkan pahala dan menunjukkan kepatuhan pada perintah Allah.
Sayangnya, banyak dari kita—mahasiswa, santri, guru, ustadz, kyai bahkan profesor—terlena dengan konsep Barat dan lupa bahwa rezeki itu murni pemberian Allah. Akhirnya muncul pemahaman yang mendekati Mu’tazilah (merasa hasil karena jerih payah sendiri) atau Jabariyah (pasrah tanpa usaha). Dua-duanya bahaya!
---
Rezeki Itu 100% Ketetapan Allah
Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satu makhluk pun di bumi ini melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Bukan ikhtiar yang menjamin!
Bukan kerja keras yang menjamin!
Rezeki sudah tertulis sebelum manusia lahir ke dunia—bahkan ketika masih dalam rahim.
كُتِبَ رِزْقُهُ وَأَجَلُهُ وَعَمَلُهُ
“…ditetapkan rezekinya, ajalnya, dan amalnya…”
(HR. Bukhari no. 3208)
Jadi, ketika ada yang mengejar dunia habis-habisan lalu merasa itu “hasil usaha”, itu justru tanda lupa siapa yang memberi rezeki sesungguhnya.
---
Lalu Apa Fungsi Usaha?
Usaha HANYA Memantaskan, BUKAN Menentukan!**
Islam bukan agama Jabariyah yang menyuruh pasrah total, bukan pula Mu’tazilah yang mengkultuskan usaha.
Islam seimbang: ikhtiar itu perintah, hasil itu pemberian.
Nabi bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Bersungguh-sungguhlah mencari yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah.”
(HR. Muslim no. 2664)
Sungguh-sungguh = wilayah manusia.
Hasil = wilayah Allah.
Ibarat orang berdagang, ia berangkat pagi, buka toko, melayani pelanggan, dan hari itu tak ada satu pun yang membeli. Apa dia salah? Tidak.
Pahala usahanya tetap dicatat.
Kalau rezekinya bukan hari itu, ia tidak akan dapat—meski kerja jungkir balik.
Sebaliknya, ada orang yang tidak bekerja apa-apa, tiba-tiba ada yang mengantarkan makanan. Itu rezeki.
Tapi… apakah ia mendapat pahala? Tidak.
Karena tidak ada amal.
Inilah yang sering tidak difahami banyak orang.
---
Wilayah Allah & Wilayah Manusia
Wilayah Allah (tidak dihisab):
Berapa banyak rezeki yang sampai kepadamu
Kapan datangnya
Dari arah mana datangnya
لِيَرْزُقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Wilayah Manusia (akan dihisab):
Bagaimana proses mendapatkannya.
Makanya Nabi menegaskan:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ … حَتَّى يُسْأَلَ … عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
“Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya… hartanya: dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya.”
(HR. Tirmidzi no. 2417)
Artinya:
Hasil tidak ditanya. Proses yang dihisab.
---
Kesalahan Fatal: Mengimani Slogan Kapitalis
“Usaha tidak akan mengkhianati hasil.”
Ini cocoknya jadi slogan motivator, bukan akidah muslim.
Slogan ini:
Mengandung unsur kesombongan
Menghapus peran Allah
Mengarah ke pemikiran sekuler
Mendorong manusia berpikir bahwa dirinyalah penyebab keberhasilan
Padahal Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Apa saja nikmat yang kalian dapatkan adalah dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)
Termasuk rezeki… itu murni dari Allah, bukan kerja keras.
---
Rezeki Tidak Berkorelasi Dengan Usaha
Banyak contoh di sekitar kita:
Ada yang kerja keras banting tulang tapi tetap miskin
Ada yang kerjanya biasa saja tapi hidupnya berkecukupan
Ada yang tidak kerja sama sekali, tapi rezekinya mengalir
Ada yang kerja 10 jam sehari tapi tidak kaya-kaya
Kenapa begitu?
Karena usaha bukan penentu rezeki, hanya sebab yang Allah izinkan atau tidak.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Hud: 6 disebutkan:
> “Allah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya, baik yang bergerak maupun yang diam.”
Dalam Tafsir Al-Wa’ie juga ditegaskan bahwa rezeki adalah “jānib ilāhī” (ranah ketuhanan), sedangkan usaha adalah “jānib basyari” (ranah manusia).
---
HIKMAH & HARAPAN
Di zaman serba sekuler-liberal seperti sekarang, manusia makin percaya bahwa dirinya lah penentu segalanya.
Padahal, seorang muslim harus tawakkal secara benar:
Berikhtiar sesuai perintah syariah
Meyakini hasil sepenuhnya milik Allah
Tidak sombong karena kerja keras
Tidak malas dengan alasan “Allah yang kasih”
Semoga kita dijauhkan dari pemahaman kapitalistik yang menuhankan usaha,
dan semoga Allah melapangkan rezeki kita dari arah yang tidak disangka-sangka,
melalui cara yang halal, penuh berkah, dan mendatangkan ridha-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "REZEKI ITU MUTLAK DARI ALLAH, BUKAN DARI USAHA KITA! Kok Bisa? Banyak yang Salah Memahami Makna Rezeki‼️"